Radikalisme Muncul Akibat Imajinasi Utopis Kejayaan Islam Masa Lalu

Webinar Nasional Tema Terorisme. (ist)

BACAMALANG.COM – Sebagian umat Islam saat ini terjebak dalam imajinasi utopis kejayaan masa lalu, dan dari situlah radikalisme-ekstremisme hadir.

“Sebagian umat saat ini Islam terjebak dalam imajinasi utopis kejayaan masa lalu, dan dari situlah radikalisme-ekstremisme hadir. Kehidupan Islam yang seharusnya, oleh mereka, justru di-thaghut-kan, di-takfir-kan, dan narasi-narasi sejenisnya,” terang pendiri ruangrobrol.id, Noor Huda Ismail, dalam Webinar Nasional bertema “Strategi Pencegahan Paham Radikalisme dan Terorisme Berbasis Partisipasi Masyarakat” baru-baru ini.

Webinar Tema Terorisme

Sekilas informasi, Harakatuna.com bekerja sama dengan Center for Narrative Radicalism and Cyber Terrorism (CNRCT), LAN RI, Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia, dan ruangobrol.id. mengadakan Webinar Nasional.

Webinar Nasional yang berlangsung lebih dari tiga jam tersebut dipandu oleh Ridwan Bahrudin sebagai host dan Nikmatus Sholikah sebagai moderator, dan dihadiri langsung oleh Ketua Prodi Kajian Terorisme SKSG UI Muhammad Syauqillah, serta Noor Huda Ismail, pendiri ruangrobrol.id, akademisi dan praktisi yang saat ini sedang Visiting Fellow RSiS, NTU, Singapura.

Program Two Ways

Noor Huda Ismail mengatakan, program untuk partisipasi preventif terorisme itu bersifat two Ways.

“Lived Islam itu praktik-praktik Islam yang sudah lama dan tidak hanya hari ini terjadi di Saudi Arabia saja, tapi juga di negara lain. Kalau imajined Islam itu menjadikan ‘Oh Islam tuh harusnya begini’, harusnya begini. Sebetulnya gimana sih masyarakat biar bisa ikut terlibat (mencegah radikalisme-terorisme, red.). Makanya pakai namanya Co, artinya dua, Active itu aktif. Seluruh program yang Kita bikin itu bukan one way, tetapi two ways,” terang Noor Huda Ismail.

Strategi Makro

Jika Noor Huda bertolak dari strategi mikro, Muhammad Syauqillah justru bertolak dari strategi makro.

Menurutnya, untuk mencegah radikalisme-terorisme, terlebih dahulu problematikanya. Setelah, pencegahan menyesuaikan dengan masalah yang melatarbelakanginya.

Pelibatan keluarga, penggunaan seni, pemanfaatan teknologi, WNI simpatisan ISIS, media sosial, pendanaan, narasi khilafah, dan lainnya, mesti ditanggulangi dengan cara yang sesuai.

“Karena kalau kita langsung menyasar apa yang kita harus lakukan tanpa melihat problematika teror yang ada, nanti Kita akan salah sasaran,” tutur pria yang akrab disapa Syauqi ini.

Segera Dieksekusi

Webinar berjalan hangat, diskusi dengan para audienspun terjadi melalui banyak pertanyaan yang diajukan.

Salah satu peserta, Ainul Yaqin, yang hampir terjerumus propaganda radikal melalui internet, mengaku terkesan dengan pemaparan kedua pemateri.

Strategi mencegah radikalisme-terorisme yang ditawarkan, bagi Yaqin, harus segera dieksekusi.

“Tidak hanya opini, beliau (pemateri, red.) menjelaskan dan menawarkan sesuatu yang referensial dalam menanggulangi problem radikalisme dan terorisme. Saya sangat bersyukur bisa mendengar pemaparan Pak Syauqi, saya juga suka dengan pengalaman lapangan Pak Noor Huda. Karenanya, saya sangat berterima kasih atas penyelenggaraan webinar ini. Sangat bermanfaat,” pungkasnya. (*/had)