Keanekaragaman Hayati Sebagai Inovasi Berdesa dan Cermin Budaya Bangsa

Foto: Pietra Widiadi. (ist)

Oleh Pietra Widiadi

Minggu lalu, pada tanggal 15 Desember 2020, forum Pojok Desa dan TV Desa melanjutkan seri diskusi dan berbagi pengalaman dalam kehidupan berdesa.

Pada kali ini, yang diangkat adalah kekayaan keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh desa. Pada kali ini yang akan menjadi sorotan adalah kekayaan keanekaragaman hayati desa dengan pembawa materi adalah Candra Prijosoesilo (Pendiri Yayasan Gita Pertiwi, dan Yayasan Sekar Kawung).

Candra Prijosoesilo, atau biasa dipanggil Mbak Kiki, sudah cukup panjang mendalami keaneragaman hayati di pelosok desa di Indonesia, untuk pengembangan pewarna alami tenun.

Biodiversity Lokal dan Budaya

Selama ini yang diangkat adalah Kawasan desa-desa di NTT dan khususnya Sumba. Tema kali ini masih terkait dengan keanekaragaman hayati atau biodiversity, dalam Ikatan antara Budaya (Pangan dan Anyam) dengan Biodiversity Lokal di Desa Beringin Tinggi dan Jangkat, Merangin Jambi, Sumatra, dalam tajuk keanekaragaman Hayati Sebagai Inovasi Desa dan Cermin Budaya Bangsa. (Kisah Desa Beringin di Jambi).

Pada sajian ini, mbak Kiki mewartakan bahwa dengan “terinspirasi penelitian selama hampir satu dekade oleh antropolog Perancis H.de Foresta & G. Michon di Kalimantan, Sumatra dan Jawa pada akhir 80 an – awal 90 an”, Kiki mengunjungi sisa-sisa hutan-kebun (umumnya dimengerti sebagai agro-forestry) tradisional yang berada di Kawasan dua desa di Jambi tersebut.

Menyitir “H. de Foresta & G. Michon”, struktur hutan yang ditanam dan dikelola oleh petani dalam rangka memproduksi berbagai produk hutan sekaligus produk pertanian di lahan yang sama.

Keanekaragaman hayati hutan

Hutan kebun ini terbentuk melalui suatu proses urutan pengembangan dan tahap produksi yang melibatkan penanaman tanaman yang disertai dengan berbagai pohon komersial, maupun pohon non-komersial yang bermanfaat.

Hutan-kebun menirukan (mimics) struktur hutan alam, dengan struktur multistrata yang kompleks dan kanopi yang tertutup atau hampir tertutup yang umumnya didominasi oleh beberapa spesies pohon.

Keanekaragaman hayati hutan, pada umumnya memegang peranan penting di dalam hutan-kebun, dan petani tidak menghilangkan spesies-spesies hutan meskipun tidak memanfaatkannya.

Petani justru mengizinkan berbagai spesies hutan yang dipandang tidak memiliki dampak negatif pada produktivitas sistem untuk terus berkembang.

Sebuah hutan-kebun memperlihatkan hubungan yang erat antara dunia hutan dan dunia pertanian di bentang lahan yang sama. Hutan-kebun menirukan struktur hutan alam, dengan struktur multistrata yang kompleks dan kanopi yang tertutup atau hampir tertutup yang umumnya didominasi oleh beberapa spesies pohon.

Observasi Mendalam

Sebelum mendapatkan paparan kekayaan alam ini, Kiki Bersama-sama tim, yaitu Oswindra, Alya dan Supriyanto berhari-hari naik motor dan berjalan berkilo-kilo meter, naik turun bukit, mewawancarai, mengamati semua pemilik lahan dan menghitung, mendata status kepemilikan, usia pepohonan, geotagging dan mengambil spesimen vegetasi pangan yang mereka jumpai di setiap lahan.

Dari perjalanan ini yang diperoleh dalam kegiatan mendata sekitar 1/3 jumlah lahan milik warga desa Beringin Tingg dan Jangkat, yaitu memahami pentingnya makna tanaman dan tumbuhan agar lebih paham apa yang ada, mengumpulkan 154 jenis tanaman dan tumbuhan.

Di dalam hutan-kebun tua ditemukan banyak tumbuhan dan juga ada tanaman dan kebun-kebun baru banyak tanaman, hampir tidak ada tumbuhan.

Hutan-kebun dan kebun-komoditi, sama-sama lahir dari umo merupakan fase perkembangan vegetasi setelah suatu lahan beberapa tahun dikelola sebagai umo (ladang). Tren perubahan kebun-komoditi, khususnya kayu manis dan kopi terus membumbung (2010-kayu manis) dan 2014 (kopi).

Kini ada Kayu Manis 78.632 pohon dan kopi 82.891 pohon. Sebaliknya aneka cultural-keystone-species tua semakin menipis. Aren 69, jengkol 619, durian 750, kemiri 77, macang 84, petai meranti 273, petai padi 66, dan kepayang 113.

Pentingnya Biodiversiy Hutan

Biodiversity hutan, memegang peranan penting di dalam hutan-kebun, dan petani tidak menghilangkan spesies-spesies hutan meskipun tidak memanfaatkannya. Petani justru mengizinkan berbagai spesies hutan yang dipandang tidak memiliki dampak negatif pada produktivitas sistem untuk terus berkembang.

Peranan spesies hutan di dalam pengelolaan sistem perladangan berpindah (umo) dimana setelah beberapa tahun dibiarkan menjadi hutan-kebun hingga puluhan tahun kembali dibuka menjadi umo lagi, terlacak dalam cara orang Beringin Tinggi secara tegas membedakan antara tanaman dan tumbuhan secara sangat distingtif.

Meskipun satu species bisa berpindah kategori secara dinamis. Tumbuhan – adalah ”spesies hutan” yang besar peranannya dalam budaya pangan Beringin Tinggi.

Dalam gambaran diatas jelas bahwa pola penguatan desa yang tetap harus mempertahankan dan melestarikan kekayaan hayati dalam suatu desa menjadi sangat penting. Gambaran diatas memberikan sebuah semangat untuk melakukan pengembangan profil suatu desa dengan kekayaan yang besar terutama terkait dengan keanekaragaman hayati (biodiversity), baik yang berupa tanaman, tumbuhan maupun hidupan liar lainnya yang mampu menyiapkan bahan makanan bagi warga desa.

Dengan demikian, Cultural Keystone spesies yang ada di kebun-kebun hutan, bila diolah maka menjadi “do sennyo.” Untuk itu diperlukan pendampingan desa untuk mengembangkan “sennyo” selaras dengan perlunya proses untuk merevitalisasi budaya pengembangan hutan-kebun tradisional kembali.

(Penulis adalah Founder Dial Foundation, Pendopo Kembangkopi Wagir Kabupaten Malang)