Direaksi Keras, Parade Stiker Porno dan Dugaan Penistaan Agama di Grup WA

Foto: Dyah Arum Sari, Humas Ikatan Wartawan Online (IWO) Malang Raya (kanan) bersama kuasa hukumnya, Suwito, SH. (Eko)

BACAMALANG.COM – Beberapa oknum wartawan dinilai tidak beretika dan melanggar hukum dalam menggunakan media sosial berwujud grup WhatsApp (WA). Mereka mengunggah beraneka rupa stiker dan/atau gambar porno.

Pasalnya, grup WA yang dibentuk oleh Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Pemkot Batu itu bahkan patut dapat diduga kuat menyebarkan stiker dan/atau gambar yang bermuatan penistaan suatu agama.

Bentuk “bom” stiker di grup WA tersebut berbagai macam. Mulai dari stiker menyerupai foto manusia laki-laki dan perempuan bugil hingga melakukan hubungan intim. Perbuatan yang patut dapat dinilai melawan hukum itu disebarkan berulang kali.

Hal yang juga patut dinilai memprihatinkan, ada stiker serupa foto yang sangat mirip dengan Yesus Kristus, mengenakan kopiah dan merokok. Berdasarkan hasil screenshot yang didapatkan sejumlah media massa, yang paling banyak menyebarkan stiker tersebut adalah akun WA berinisial DN.

“Selain teror bom stiker juga ada stiker yang mirip Yesus sedang merokok, disebarkan secara brutal oleh oknum wartawan tersebut. Ini pelanggaran serius dan saya akan tindak-lanjuti perilaku tidak terpuji ini ke ranah hukum,” kata Dyah Arum Sari, Humas Ikatan Wartawan Online (IWO) Malang Raya, Selasa (26/1/2021).

Pengunggah stiker dimaksud, lanjut Dyah, adalah jurnalis. Seharusnya terdepan dalam menerapkan undang-undang. Oknum jurnalis dimaksud harus paham bahwa ada Undang-Undang Pornografi dan Undang-Undang ITE yang dia langgar. Selain itu, pihak admin grup WA tersebut seharusnya juga bertindak. Tidak malah melakukan pembiaran.

Dyah yang juga salah satu aktivis perempuan, menegaskan dirinya telah menindaklanjuti “kasus” tersebut ke penegak hukum.

Reaksi Keras

Seorang jurnalis senior di Malang Raya, Yunanto, menyatakan mendukung langkah Dyah Arum Sari. Ia juga menyakinkan, bila sebagian kalangan insan pers tidak atau belum bereaksi, bukan berarti takut pada oknum-oknum wartawan yang “menaburkan” konten pornografi di grup WA tersebut.

Wartawan Harian Sore “Surabaya Post” 1982-2002 itu meyakinkan, tidak ada wartawan takut pada sesama wartawan. Apa lagi terhadap oknum wartawan keblinger (melakukan perbuatan melawan hukum).

“Kemarin saya spontan menulis artikel bertajuk ‘Oknum Wartawan Tolol dan Menyedihkan’. Saya tidak takut menyebut oknum wartawan dengan terminologi tolol, karena memang tidak ‘melek’ hukum. Faktual itu menyedihkan, karena tidak ‘melek’ hukum tapi masih nekat berprofesi sebagai wartawan,” tulis Yunanto dalam rilisnya melalui grup WA Jurnalis Malang Raya (JMR).

Wartawan senior alumnus Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta itu juga menegaskan, bagaimana bisa oknum wartawan tolol dan menyedihkan mampu menjalankan tupoksi jurnalis, yaitu kontrol, kritik dan koreksi yang konstruktif, jika tidak “melek” hukum?! Bagaimana bisa oknum wartawan tolol dan menyedihkan berkemampuan menjaga gawang aspirasi publik jika tidak “melek” hukum?! Mustahil.

Kakek dua cucu itu juga menegaskan, telah sangat jelas berdasarkan alat bukti yang ada, oknum wartawan dimaksud telah melakukan perbuatan melawan hukum (on recht matig daad).

Perbuatan keblinger dimaksud sudah selesai dilakukan dan kasat mata di grup WA tersebut (actus reus). Tinggal melacak motif yang membalut niat melakukan perbuatan keblinger dimaksud (mens rea).

“Saya senang, penegak hukum juga sudah bergerak hendak menempuh jalur litigasi. Penegak hukum dimaksud adalah advokat, yaitu Dik Suwito, SH dari Peradi. Ingat, advokat adalah penegak hukum berdasarkan amanat Pasal 5, UU RI No. 18/ Tahun 2003 tentang Advokat,” tulis Yunanto di grup WA JMR.

Ia sambung, tentu saja Polri yang berada di “titik start” dalam memproses perkara hukum di jalur litigasi (sesuai dengan amanat KUHAP) juga penegak hukum (Pasal 13, ayat 2, UU RI No. 2/ Tahun 2002 tentang Polri).

“Follow up news berikutnya, idealnya berupa komentar dari polisi sebagai penegak hukum. Dalam kontek kasus tersebut tentu sangat baik jika diperoleh komentar dari Kapolresta Batu sebagai pihak pemegang yurisdiksi penegakan hukum di Kota Batu,” terang Yunanto.

Instruktur diklat jurnalistik itu juga mengingatkan, bukan hanya kasus pornografinya yang harus dipersoalkan, tetapi juga dugaan penistaan agama lewat unggahan “Yesus Kristus” sedang merokok. “Kita tunggu saja proses hukum yang bakal bergulir atas peristiwa hukum tersebut,” tandasnya.

Suwito, SH praktisi hukum sekaligus advokat, menegaskan penyebaran stiker pornografi, apalagi ada dugaan penistaan agama di dalamnya, itu sangat tidak baik dan melanggar UU ITE.

“Apalagi itu dilakukan oleh oknum yang menyandang predikat sebagai wartawan atau jurnalis. Itu sangat tidak etis dan mencederai marwah jurnalis. Ketika gambar pornografi di kirim ke grup WA, selain melanggar hukum yaitu melanggar undang-undang (UU),” ujarnya.

Ia sebutkan, melanggar ketentuan Pasal 4, ayat (1), UU No. 44/ Tahun 2008 tentang Pornografi. “Selain itu juga melanggar ketentuan Pasal 27, ayat (1), UU No. 11/ Tahun 2008 yang telah diubah dengan UU No. 19/ Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Sanksi pidananya di Pasal 45, ayat (1), UU ITE, berupa pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar,” pungkas advokat yang juga mantan jurnalis ini. (Eko)