Optimisme Baru di Tengah Jumlah Pasien Covid Tembus 1 Juta

Foto: dr Umar Usman MM. (Ist)

BACAMALANG.COM – Jumlah pasien Covid-19 akhirnya tembus 1 juta lebih penderita di Indonesia, lebih tepatnya yakni pada angka 1.012.350. Pada sisi lain, masih tercuatkan optimisme dan harapan dari kondisi yang saat ini terjadi, salah satunya adalah membaiknya sentimen pasar terhadap perekonomian Indonesia.

“Mesti jumlah penderita kini mencapai Angka 1.012.350 pasien. Namun Kita masih bisa optimis dan berharap keadaan membaik. Statemen dari Badan Kebijakan Fiskal (BKF) menyebutkan, distribusi 3 juta Vaksin Covid 19 diperkirakan memberikan efek positif terhadap perekonomian di semester II 2021,” tandas Wakil Ketua Satgas Covid 19 NU Malang Raya, dr Umar Usman MM, Selasa (26/1/2021).

Hal ini disampaikan dengan asumsi bahwa sebagian besar masyarakat di zona merah mendapatkan Vaksin. Titik vital dari penanganan pandemi saat ini ialah kembalinya aktivitas ekonomi normal, hal tersebut dapat tercapai melalui distribusi vaksin serta pencegahan perluasan penularan COVID-19 yang mendorong terjadinya herd immunity.

Demi pemulihan di jangka panjang tersebut, langkah pemerintah untuk melanjutkan PSBB dengan PPMK dirasa tepat, tanpa perlu mengorbankan perekonomian lebih dalam.

Vaksinasi menjadi prasyarat utama untuk dapat mendorong pemulihan ekonomi lebih lanjut di tahun ini.

Program vaksinasi yang dilakukan pemerintah telah memberikan dampak positif kepada optimisme pelaku pasar. Diharapkan dampak positif tersebut mampu meningkatkan aktivitas perekonomian masyarakat khususnya korporasi agar kembali membuka lapangan kerja.

Proses dari vaksinasi, optimismenya sudah price in di market, sudah masuk ke dalam harga saham, capital inflow terjadi sehingga pasar sudah melihat vaksinasi memberikan sentimen positif.

“Menariknya, Pemerintah terus mendukung program pemulihan ekonomi nasional (PEN) tahun ini melalui disiapkannya anggaran sebesar Rp 553,09 triliun. Perlindungan sosial yang masuk dalam program PEN sangat efektif dalam membantu masyarakat terutama kelas bawah untuk menghadapi dampak pandemi COVID-19,” urai pria alumnus Universitas Airlangga ini.

KIPI Ringan

dr Umar menyatakan, berdasar statemen Komnas Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI) disebutkan reaksi anafilaktik akibat vaksinasi sangat jarang terjadi.

Anafilaktik adalah syok yang disebabkan oleh reaksi alergi yang berat. Syok Anafilaktik membutuhkan pertolongan yang cepat dan tepat.

Vaksin yang saat ini dipakai dalam program vaksinasi aman, sesuai dengan rekomendasi WHO, memiliki reaksi lokal dan efek sistemik yang rendah, memiliki imunogenitas tinggi serta efektif untuk mencegah COVID-19.

Sejauh ini reaksi anafilaksis tidak ditemukan dalam pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Indonesia. Hanya ditemukan reaksi ringan seperti, mengantuk yang dialami oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Rafi Ahmad.

Jika terjadi reaksi Anafilaktik pasca Vaksinasi Covid-19, pemerintah telah mengaturnya dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) nomor 12 tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Imunisasi.

Dalam Permenkes tersebut tercantum anafilaktik sebagai upaya preventif apabila terjadi kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). “Sudah ada di Peraturan Menteri Kesehatan, sudah ada kit anafilaktik yang harus disediakan, sudah ada petunjuk mengenal gejalanya, sudah ada tanda petunjuk untuk cara pelaksanaan vaksinasi,” ucap pria yang juga Ketua PC NU Kabupaten Malang ini.

Saling Melengkapi

Ada pula optimisme berupa adanya solusi penanganan Covid 19 selain vaksinasi. Salah satunya adalah terapi plasma konvalensen yang kini menjadi gerakan massif di Indonesia.

“Semoga ini menjadi sebuah gerakan percepatan penanganan disamping vaksinasi. Menariknya hal ini terjadi kenaikan secara kualitas dan kuantitas. Yakni jumlah pendonor meningkat dan frekuensi donor juga naik. Bahkan ada pendonor di Surabaya (Sofian Kurniata) dalam 1,5 bulan bisa 6 kali donor plasma konvalesen,” tegas dr Umar.

dr Umar mengungkapkan, satu upaya lain yang patut diapresiasi adalah penerapan PPKM yang diharapkan berjalan efektif dan efisien. “Dari hasil evaluasi dan kajian, penerapan PPKM ini relatif sukses untuk diterapkan, sembari timingnya bersamaan dengan pelaksanan vaksinasi,” pungkas dr Umar Usman MM. (had)