Tuntut Tanah Warisan, Warga Ngajum Ini Malah Dipolisikan

Tanah warisan yang dipermasalahkan oleh Sujarwo (ist)

BACAMALANG.COM – Surjawo warga Desa Maguan, Kecamatan Ngajum harus berurusan dengan Unit IV Satreskrim Polres Malang setelah dilaporkan oleh keluarga Mustakim dan Tono.

Sujarwo dilaporkan atas dugaan pengerusakan tanah garapan milik Mustakim. Dua kali sudah Sujarwo memenuhi panggilan penyidik di Unit IV Satreskrim Polres Malang, yaitu pada Kamis (20/2/2020) dan Rabu (26/2/2020).

Sejatinya, kata Sujarwo, tanah garapan itu merupakan haknya selaku ahli waris. Menurut Sujarwo, tanah tersebut merupakan warisan dari nenek buyutnya, Sairah Irah.

Dijelaskan Sujarwo, selama ini Mustakim dan Tono tidak mempunyai hak untuk menggarap tanah tersebut. Mustakim dan Tono juga bukan keluarga dari Sairah.

Pada akhirnya, upaya Sujarwo untuk merebut kembali apa yang menjadi haknya itu justru tidak disambut baik oleh pihak Mustakim dan Tono, yang kemudian malah dilaporkan ke pihak berwajib.

“Kasarnya, dulu itu direbut. Jadi ceritanya nenek, waktu era Gestok (Gerakan Satu Oktober 1965), itu nenek saya ditakut-takuti, dituduh-tuduh PKI, karena takut, akhirnya tanah itu dibiarkan kosong. Kemudian dikuasai sama veteran, dari veteran itu lalu dibagi-bagi,” kata Sujarwo, Kamis (27/2/2020).

Sujarwo menambahkan, saat ini Mustakim menggarap tanah seluas 23 hektar dan Tono 8 hektar. Sujarwo pun mengklaim, kedua orang tersebut tidak memiliki surat-surat yang sah.

“Saya ada letter C tanah itu. Itukan tanah nenek buyut saya. Maunya ya saya ambil kembali tanah itu,” terangnya.

Lebih lanjut, Sujarwo selaku ahli waris yang sah berharap, tanah itu bisa kembali padanya. Segala upaya untuk mengembalikan tanah warisan itupun terus ditempuh oleh Sujarwo. (mid/yog)