Peringati HSN, FEB Unisma Bedah Buku Karya KH Oesman Mansoer

Foto: Kegiatan bedah buku KH Oesman Mansoer yang berjudul ’Islam dan Kemerdekaan Beragama’ di Gedung Pascasarjana, Unisma. (ist)

BACAMALANG.COM – Meskipun sudah 52 tahun berlalu, namun buku karya emas KH Oesman Mansoer berjudul Islam dan Kemerdekaan Beragama’ ternyata masih sesuai serta relevan bermanfaat menjadi pegangan bangsa Indonesia.

“Buku ini justru sangat relevan, sangat klasik untuk merespon situasi saat ini. Karena memang kondisi bangsa ini mengalami beberapa langkah mundur dalam konteks kemerdekaan beragama. Pada saat kita melangkah mundur, di ujung belakang sana ada buku ini yang sebetulnya menjadi pegangan kita,” kata Koordinator Nasional Gusdurian, Alissa Wahid selaku narasumber di kegiatan bedah buku KH Oesman Mansoer yang berjudul ’Islam dan Kemerdekaan Beragama’ di Gedung Pascasarjana, Unisma baru-baru ini.

Rangkaian HSN

Seperti diketahui, dalam serangkaian peringatan HSN (Hari Santri Nasional) Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Islam Malang (FEB Unisma) bekerjasama dengan Penerbit Kota Tua, dan Gusdurian Malang, menggelar bedah buku KH Oesman Mansoer yang berjudul ’Islam dan Kemerdekaan Beragama.

Hadir secara virtual sebagai narasumber, Alissa Wahid, Koordinator Nasional Gusdurian. Ia sangat mengapresiasi di terbitkan ulangnya buku berjudul ’Islam dan Kemerdekaan Beragama’ tersebut.

Selain mengapresiasi, menurutnya buku KH Oesman ini sangat relevan dengan situasi negara. Keputusan untuk menerbitkan ulang dinilai sangat tepat karena fenomena sosial politik dan identitas yang sedang dihadapi Bangsa Indonesia berkaitan erat dengan isu agama.

Buku ini dinilai masih relevan meski ditulis pertama kali tahun 1968 atau 52 tahun silam.

Problematika Indonesia saat ini, menurut Alissa Wahid, ialah soal demokrasi. Ada kecenderungan mayoritarianisme berbasis agama, dan praktek beragama yang eksklusif atau superioritas yang menguat.

“Semangat buku ini adalah menjadi aku dalam hal ini adalah aku orang Islam, mengingatkan Kita yang muslim untuk selalu menyelami apa artinya menjadi orang muslim di Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.

Mengutip isi buku KH Oesman, Alissa menekankan sebagai muslim yang hidup di Indonesia, harus menjaga ruang hidup beragama sebagai sesama warga negara yang tidak radikal dan menjunjung tinggi toleransi.

Sehingga mampu menjadi modal utama, sekaligus panduan para umat beragama, khususnya muslim untuk membangun kehidupan berbangsa bernegara yang lebih tepat.

Turut hadir sebagai narasumber lainnya, ialah Airlangga Pribadi, Ph.D, CEO The Initiative Institute sekaligus Pengajar Departemen Politik, FISIP, Universitas Airlangga. Prof. Dr. Zainuddin, Ahli Sosiologi Agama yang juga Wakil Rektor UIN Malang. Lalu, Pdt. Chrysta Andrea, pengajar di Institusi Pendidikan Teologi Balewiyata, GKJW Malang dan Irham Thoriq Aly, CEO Tugumalang.id serta Direktur Penerbit Kota Tua selaku moderator.

Krusial dan Rawan

Prof. Dr. Zainuddin menyampaikan bahwa persoalan agama di Indonesia ini memang sangat krusial dan mudah untuk dijadikan isu. Jika tidak dikontrol secara baik akan kacau. Sehingga organisasi islam pilar negara ini, baik NU maupun Muhammadiyah harus dikuatkan.

“Itu tidak boleh tidak karena itu (dua organisasi Islam) tergolong moderat. Nah tulisan ini bisa dijadikan acuan. Saya memotret beliau itu sosok inklusif moderat sejajar yang dengan Gus Dur dan Cak Nur. Meskipun beliau dari daerah tapi pemikirannya seperti itu (bagus sekali), tuturnya.

Hal ini dikarenakan, latar belakang KH Oesman yang memakan tradisi akademik, pesantren hingga militer ditambah pengalamannya yang banyak menjadikan beliau sosok yang moderat, pruralisme dan humble. Untuk diketahui, KH Oesman adalah salah satu pendiri kampus Unisma, dan menjadi rektor pertama di kampus ini. (*/had)