Jalan Tengah Membangun Harapan

Foto: M. Alfian Aruban Muzaqqi, penulis opini. (ist)

Oleh: M. Alfian Aruban Muzaqqi

Dampak pandemi Covid-19 telah merengkuh hampir seluruh tatanan dan dinamika peradaban ekonomi, politik, sosial, dan kebudayaan. Perlahan namun pasti, efek domino yang ditimbulkan telah menyentuh pelbagai lini dan sendi kehidupan. Meskipun virus ini pada awalnya hanya menyasar pada aspek kesehatan, nyatanya kelumpuhan justru menjalar ke sektor perekonomian. Seperti kita tahu, sigifikansi penyebaran Covid-19 yang begitu cepat, menjadikannya sulit untuk dideteksi dan sukar untuk dikendalikan.

Ketika kesehatan menjadi krisis sekaligus hal utama yang harus segera teratasi, beberapa penerapan kebijakan untuk mengurangi resiko ini justru malahberdampak pada giat-sektor ekonomi. Imbasnya, permasalahan-permasalahan  baru tidak hanya berkutat di sekitar kesehatan saja, melainkan telah sampai pada terganggunya sektor keuangan di skala nasional sampai dengan lokal.

Beberapa kebijakan telah diimplementasikan pemerintah untuk mengurangi dampak dan resiko yang ditimbulkan oleh virus ini. Akan tetapi, di level kerumahtanggaan justru menjadi sebuah permasalahan baru. Kebijakan serupa physical distancing, larangan mudik, bekerja dari rumah atau work from home (WFH), penutupan pusat perbelanjaan dan tempat usaha, pembatasan jam operasional, sampai dengan larangan beribadah di Masjid, perlahan-lahan telah mengikis dan memupus habis roda perekonomian. Tak terkecuali, sektor keuangan rumah tangga yang juga semakin kepayahan.

Ketika denyut perkonomian terkonsentrasi di pusat kota-kota besar, kemudian disusul dengan pengurangan aktivitas melalui penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), maka tidak menutup kemungkinan keadaan ini akan berdampak pada terputusnya rantai distribusi pangan dan juga barang. Akibatnya, suplai kebutuhan menjadi tersendat dan berpotensi menjadi kelangkaan, dan dengan sendirinya harga-harga bahan pokok menjadi naik. Meskipun beberapa syarat dan ketentuan telah diproyeksikan untuk mempermudah akses barang dan logistik lainnya, nyatanya hal ini tidak semudah yang dibayangkan.

Dalam beberapa bulan ke depan, ketahanan pangan menjadi tantangan tersendiri yang perlu segera mendapat perhatian. Untuk itu, langkah-langkah strategis perlu dilakukan sebagai upaya antisipasi menghadapi beberapa kemungkinan buruk yang akan terjadi. Adapun alternatif yang kemudian ditawarkan adalah dengan bersama-sama menjaga perputaran ekonomi denganmenjaga stabilitas produksi sekaligus meningkatkan usaha distribusi.

Jika selama ini perputaran ekonomi tersentral di pasar dan di kota-kota besar, pandangan lain yang mungkin bisa menjadi pertimbangan adalah dengan memindahkan kegiatan tersebut lebih dekat dengan masyarakat. Tentu, masyarakat yang saya maksud adalah mereka yang hidup di pedesaan.

Langkah ini, barangkali, bisa dimulai dengan pendirian tempat-tempat penyedia kebutuhan pokok, yang kemudian disusul dengan kebutuhan-kebutuhan skunder lainnya. Menjadikan desa atau kampung sebagai objek sekaligus subjek dalam kegiatan ini.Barangkali, hal ini yang sering kita kenal dengan lumbung desa. Sebuah sistem yang telah kita kenal sebagai gudang penyimpanan kebutuhan pokok sekaligus menjadi mata rantai kegiatan distribusi ekonomi di pedesaan.

Foto: Sumber daya dan potensi alamnya yang berbeda. (www.thecolumnist.id)

Penyediaan kebutuhan dilakukan secara bersama-sama. Dengan memanfaatkan jaring sosial yang ada, kegiatan produksi sampai dengan distribusi dilaksanakan secara mandiri. Kerja sama lintas sektoral juga perlu untuk dilakukan, mengingat kebutuhan di beberapa daerah yang tidak serupa.

Adapun tujuan lumbung desa tidak lain adalah untuk memperkuat dan mempercepat rantai distribusi pangan;meningkatkan daya beli masyarakat;sekaligusmenjaga stabilitas perekonomian. Secara swadaya dari dan untuk masyarakat, kegiatan ini sepenuhnya diperuntukkan untuk pemenuhan kebutuhan pokok kerumahtanggan.

Capaian dari kegiatan ini adalah teraksesnya bahan pokok dan pangan secara mudah;tercukupinya kebutuhan pokok di level rumah tangga;terjaganya kualitas serta keamanan bahan pokok; dantersedianya sumber daya bahan pokok serta kebutuhan skunder lainnya. Dengan cara ini, mereka yang hidup di pedesaan akan tergerak secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Mereka akan mampu menghadapai krisis pangan, berikut kenaikan harga, dan tersendatnya bahan pokok selama masa pandemi ini berlangsung.

Tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. Di satu sisi, kita harus menjaga diri dari serangan Covid-19, namun di saat yang sama kita juga harus terus memikirkan kebutuhan pangan. Justru di saat yang sulit seperti sakarang inilah kita dituntut untuk survive. Kita didesak untuk bertahan dengan keadaan yang tidak menentu dan sering membikin cemas. Dan dengan sendirinya, kita dipaksa membuat harapan-harapan baru untuk kemungkinan-kemungkinan yang kita yakini semua ini bisa terlewati.Lantas pertanyaan yang munculadalah bagaimana dengan modal dan usaha pelaksanaannya? Kesadaran dan kemandirianlah yang akan membimbingnya. Sekian.

* Penulis adalah Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Brawajiya Malang. Saat ini ia aktif sebagai Remaja Masjid Baitul Mukarramah Desa Wiyurejo Kecamatan Pujon Kabupaten Malang. Tergabung juga di d’Kross Community dan bekeja di Badan Pendapatan Daerah Kota Malang.