Pia Wulandari : New Normal Life Membutuhkan 2 Faktor

Foto: Maulina Pia Wulandari, S.Sos.,M.Kom.,Ph.D. (ist)

BACAMALANG.COM – Agar new normal life bisa diterapkan dengan “sukses” dan berkesinambungan Pakar komunikasi dan Management Krisis Universitas Brawijaya (UB) Maulina Pia Wulandari, S.Sos.,M.Kom.,Ph.D mengatakan membutuhkan 2 hal yakni kedisiplinan dan kesadaran sosial.

“Kehidupan Normal Baru atau “new normal life” adalah tentang dua hal yaitu kesadaran dan displin. Dua faktor ini mutlak diterapkan agar new normal life sukses,” tutur Pakar komunikasi dan Management Krisis Universitas Brawijaya (UB) Maulina Pia Wulandari, S.Sos.,M.Kom.,Ph.D Rabu (27/5/2020).

Perempuan alumnus Program Studi Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga Surabaya ini mengatakan, masyarakat harus memiliki kesadaran dan displin dengan gaya hidup baru yang lebih fokus pada keselamatan dan kesehatan diri sendiri, keluarga dan orang lain. 

“Sayangnya di Indonesia masyarakatnya belum memiliki tingkat kesadaran dan disiplin yang tinggi,” terang perempuan yang akrab dipanggil Ning Pia ini.

Pia menambahkan  tingkat kesadaran dan disiplin yang masyarakat yang masih rendah perlu ada sanksi tegas yang mengatur.

“Jika tidak ada sanksi tegas maka peraturan tersebut seolah seperti macan ompong,” tukas dosen Komunikasi FISIP UB ini.

Pemberian sanksi tegas akan membentuk masyarakat yang disiplin dan patuh terhadap peraturan. 

“Seperti contohnya penerapan peraturan pemakaian seragam di sekolah. Semua murid patuh karena ada sanksi tegas yang mengatur,” jelas pemrakarsa gerakan pemberian sembako selama pandemi Covid–19 ini.

Pia juga menambahkan bahwa penerapan sanksi jangan sampai transaksional. 

“Kalau penerapan sanksi masih bersifat transaksional dan tidak tegas, masyarakat Kita cenderung tidak akan patuh karena karakter masyarakat Indonesia yang masih suka ngeyel, sak karepe dewe, dan suka menawar,” kata Pia.

New normal life atau normalitas baru adalah melakukan aktivitas normal dengan menggunakan standar protokol COVID-19, seperti cuci tangan sesering mungkin, menghindari menyentuh daerah wajah, menerapkan etika batuk dan bersin, menggunakan masker, dan menjaga jarak sosial atau sosial distancing. 

Pia mengatakan dalam menerapkan new normal, beberapa lokasi yang beresiko seperti sekolah, mall, tempat wisata dan panti jompo harus sepenuhnya dididik dan diberdayakan dibawah konsep normal baru.

Selain itu, sistem kesehatan juga harus disiapkan apakah sudah bisa melacak setiap kasus baru.

Dalam menerapkan New normal life ke masyarakat harus disosialisasikan sesuai karakteristiknya di Indonesia.

Bentuk sosialisasi bisa dilakukan lewat  media komunikasi tradisional misalnya pertunjukan wayang bagi masyarakat di wilayah pedesaan, dan media sosial bagi masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan.

Tujuannya agar hal ini mudah diterima masyarakat. “Agar konsep New Normal bisa diterima masyarakat, maka sosialisasinya harus disesuaikan dengan kondisi demografis mereka. Sosialisasi pada masyarakat desa tentunya bisa dilakukan dengan wayang. Dan sosialisasi masyarakat perkotaan bisa dilakukan lewat media sosial. Sedangkan untuk remaja (sosialisasi) bisa lewat tokoh idola dan panutan mereka,” pungkas Pia. (hum/had)