Ini 7 Catatan Diskusi Ngobar di Pendopo Kembang Kopi

Foto: Ngobar (ngopi bareng) di Pendopo Kembang Kopi. (ist)

BACAMALANG.COM – Owner Pendopo Kembang Kopi Malang Piet Widiadi mengatakan, resep eksis di tengah pandemi adalah menjalankan kearifan budaya lokal salah satunya kembali menjalankan budaya Karang Kitri.

“Resep eksis di tengah pandemi adalah menjalankan kearifan budaya lokal salah satunya kembali menjalankan budaya Karang Kitri,” tegas Piet Widiadi usai Ngobar (Ngopi Bareng) di Pendopo Kembang Kopi di Dusun Ngemplak, Desa Sumbersuko, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Minggu (28/6/2020).

Kegiatan diskusi yang dikemas santai yaitu ngopi bareng diadakan hari Minggu. Setelah penat dengan pekerjaan selama seminggu sebelumnya maka diskusi ini menjadi wadah untuk merefresh otak serta menambah ilmu baru mengenai salah satu usaha dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

Kegiatan yang penuh dengan suasana santai dan hangat ini turut dihadiri oleh warga sekitar pendopo dan juga beberapa komunitas di Malang Raya.

Diantaranya peserta yang hadir ialah ibu lurah, ibu-ibu rumah tangga yang tinggal di sekitar pendopo, Komunitas Pasar Rakyat Desa (KOMPOR), Padepokan Cinta Tanah Air dari Kepanjen, Rupa Duta Malang Raya, EJEF (East Java Ecoturisems Forum), Komunitas Omah Hijau serta mahasiswa UMAHA Sidoarjo.

Peserta diskusi saling mengutarakan pengalaman mereka terkait dengan Karang Kitri yang telah mereka laksanakan di tempat masing-masing.

Pietra Widiadi selaku pemantik diskusi tersebut membuka kegiatan dengan memaparkan apa yang dimaksud dengan Karang Kitri.

Piet mengatakan, Bangsa Indonesia mempunyai peradaban yang tinggi, adiluhung dan salah satunya adalah budaya Karang Kitri yang saat ini dibutuhkan untuk survive di tengah pandemi yang memporak-porandakan sendi-sendi kehidupan manusia.

“Literasi Budaya Karang Kitri di tengah pandemi. menarik dijalankan karena diharapkan mampu membangun kesadaran masyarakat memanfaatkan lahan produktif di sekitar rumah guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari untuk meminimalisir pengeluaran,” terang pria alumnus FISIP Universitas Airlangga ini.

Sementara itu Fasilitator Pendopo Kembang Kopi Agus Sugiarto mengatakan, setidaknya ada 7 catatan rangkuman dari diskusi santai ini.

Pertama, Karang Kitri menjadi gerakan budaya yang mempunyai manfaat sebagai Ketahanan pangan rumah tangga dan keluarga.

Kedua, Karang Kitri bisa dijalankan untuk pembedayaan ekonomi keluarga dengan menurunkan pengeluaran rumah tangga.

Ketiga, perlunya dilakukan pembangunan ekonomi solidaritas dengan membentuk kelompok usaha bersama berbasis komunitas.

Keempat, pentingnya membangun ekonomi dengan peningkatan ekonomi keluarga berbasis pangan lokal dan kearifan lokal.

Kelima, perlunya dijalankan optimalisasi peran PKK sesuai dengan pangan lokal dan apotik keluarga.

Keenam, pentingnya dilakukan konservasi alam dan lingkungan untuk penghidupan berkelanjutan.

“Ketujuh adalah perlunya dilakukan edukasi secara sistematis dan massif melibatkan semua pihak, agar tertanam kesadaran masyarakat menjalankan Karang Kitri agar bisa bertahan di tengah pandemi,” tegas Agus. (Had/Red)