Hadirkan Ki Bondan, Ajak Menelaah Kesejarahan Gunung Katu

Caption : Tari topeng ikut mengisi Diskusi Sejarah Gunung Katu. (ist)

BACAMALANG.COM – Menghadirkan Ki Bondan, Pendopo Kembangkopi Wagir Kabupaten Malang mengajak menelaah kesejarahan Rabut (bukit/gunung) Katu yang hingga kini menyimpan aura misteri kuat.

“Berbudaya itu tidak berkesenian saja, berkesenian pasti berkebudayaan. Kami menghadirkan Bondan Rio Prambanan, Dalang pelaku seni dan juga sejarahwan Malang Raya. Kami mengajak menelaah kesejarahan Rabut (Gunung) Katu yang hingga kini menyimpan aura misteri kuat,” tutur Owner Pendopo Kembangkopi Wagir, Pietra Widiadi, Senin (29/3/2021).

Sekilas informasi, Gunung Katu, atau dalam Kitab Pararaton disebut dengan Rabut Katu atau Bukit Katu. Tempat yang menyejarah, tempat dimana Ken Angrok “dibaptis”, dinobatkan sebagai anak Brahmana, yang diagungkan sebagai bapak dari Raja-raja Jawa.

Misteri Ken Arok

Korelasi Rabut Katu dengan Ken Angrok (Ken Arok) dan dimana ia dimakamkan. Hingga kini masih jadi misteri. “Di Pararaton, Ken Angrok disebut anak dari Brahma. Di Malang Raya itu ada tiga tempat “kagenengan” yang diduga jadi tempat makamnya. Kandidat pertama, Rabut Katu. Ini masih tafsir. Tapi kita tidak bisa ngomong pasti disana,” ungkap Bondan.

Secara telaah, kemungkinan besar masih banyak peninggalan kuno. Di daerah Katu, sering ditemukan benda-benda kuno. Termasuk batu bata jaman kerajaan.

Keyakinan semakin kuat, pada eskavasi beberapa saat lalu, tim sempat pula menemukan temuan-temuan baru. Salah satunya koin jaman dinasti Song.

Waktu itu berhasil ditemukan koin dinasti Song. Perkiraan abad 9 – 10-an. Di daerah sana, ada beberapa lapisan. Masih ada kemungkinan di lapisan bawahnya, ada kebudayaan lain.

Bondan menyarankan agar pada karya novel yang menyinggung Rabut Katu, pembaca sebaiknya membaca lebih dulu kata pengantar buku. “Agar menyikapinya dan menerima informasi tidak serta merta meyakininya sebagai dasar sejarah,” tukasnya.

Dipersatukan musuh bersama

Dalam jagongan telaah Rabut Katu ini, tempat pendarmaan Ken Angrok, berkembang diskusi tentang kesejarahan Malang.

Membandingkan Malang (Raya) yang demikian menyejarah, demikian menggelora, dari masa pra abad 9 sampai awak lahirnya Mojopahit.

Diskusi kesejarahan tentang Malang (Raya) terjadi dalam setiap waktu, dalam setiap kesempatan selalu ditanyakan mengapa ikon Malang sulit untuk dilihat, meski dalam sejarah Malang cukup memiliki jejak yang sangat panjang.

Dari Kahuripan, lalu Tumapel, menuju Singhasari ibu kota kerajaan yang menggelegar karena mampu mengangkat keberanian, kegarangan Ken Angrok yang merupakan seorang Raja.

Pada sesi ini, oleh Ki Bondan dibenarkan, bahwa Malang ini dipersatukan oleh adanya musuh bersama. “Malang ini dipersatukan oleh adanya musuh bersama. Dimana kalau tidak maka, kericuhan dan saling sikut menjadi hal yang biasa. Ini bisa dilihat dari perebutan kuasa dari jaman Jawa menjelang abad 9 dimana Raja Airlangga, akhirnya membelah Medang menjadi dua, dengan bantuan Mpu Barah, menjadi Gaha dan Jenggala,” paparnya.

Dinamis dan Kreatif

Sementara itu, Pietra Widiadi, menegaskan bahwa ini tanda bawa Malang itu penuh dinamika. “Malang itu hidup, Malang itu penuh warna. Bahwa ketiadaan ikon itu bukan soal barang, tetapi soal jiwa, soal semangat, yaitu itu kreatifitas. Jadi icon itu adalah elan gerak dan kreatifitas, jadi Malang iku kreatif Cuk,” urainya.

Arema punya icon Singo Edan, itu bukan tentang Singa Afrika, tetapi singo dalam artian mbah e Macan.
Atau Malang yang dikenal dengan tempe, kripik tempe, atau dikenal dengan STMJ, susu telor madu jahe, atau Malang dikenal dengan keindahan dan anyaman bambu

“Atau icon lain yang muncul, Ini adalah bentuk berkesenian yang berkebudayaan. Dengan demikian berkebudayaan itu kreatifitas dalam berkehidupan. Kalau ada yang bertanya Malang apa iconnya, maka jawabnya reka Ngalam iku kreatif, dan bisa apa saja,” pungkas Pietra. (had)