Mencoba Tetap Eksis dengan Bisnis Kuliner dan Penginapan

Penginapan Cak Man. (ist)

BACAMALANG.COM – Seiring maraknya pandemi tidak melulu melahirkan kisah menyedihkan dan mentrenyuhkan hati.

Masih banyak cerita-cerita yang bisa menjadikan hidup terus bersemangat dan dijalani dengan optimis seperti kisah Maman yang eksis jalani usaha penginapan dan kuliner di Kota Batu.

Sama seperti yang lain, ketika mengawali membuka usaha yang terbayangkan pertama dari mana modalnya, lalu bagaimana cara produksi dan pemasarannya serta bagaimana kalau usahanya bangkrut.

Pemikiran semacam itu, selalu bergelayut dalam benak Cak Man, panggilan akrab Maman Adi Saputro, pemilik usaha Homestay Syariah Cempaka, Kota Batu dan “Dapur Cak Man’ dengan menu utama ikan Tuna Bakar.

Tepatnya tahun 2014 lalu, Cak Man memulai membuka usaha penginapan homestay atau lebih dikenal dengan usaha persewaan villa atau penginapan khusus untuk keluarga.

Awalnya hanya sebagai penonton, melihat tetangga dan teman yang lebih dulu memulai usaha persewaan rumah untuk tempat penginapan.

“Kira-kira tahun 2008-2009 obyek wisata BNS buka. Tetangga dan teman-teman yang lebih dulu memiliki modal tanah dan bangunan rumah, berbenah dan menyewakan tempat tinggalnya untuk wisatawan dari luar Kota Batu yang ingin bermalam di sekitar BNS,” urai Cak Man.

Berikutnya, bermodal tekad dan hutang ke salah satu bank membangun sebuah rumah ukuran 7×9 meter persegi.

“Awalnya saya pamitan pada orang tua ingin merenovasi tempat tinggal kami. Ternyata tidak boleh, saya diminta membangun rumah diatas tanah seluas 150 meter persegi yang saya beli tahun 2008 seharga Rp 42.5 juta,” tutur Maman.

Proses membangun tidak langsung tuntas dua lantai dengan tiga kamar tidur dan dua kamar mandi, dapur, ruang tamu dan ruang keluarga serta garasi.

“Modalnya kecil, lantai satu saya selesaikan dulu. Proses membangunnya hampir 1 tahun. Sebagian dinding saya plester sendiri. Saya plamir sendiri sambil ditemani istri dan anak pertama saya Acha,” ungkap Maman.

Bahkan, begitu inginnya bangunan rumah selesai, proses finishing seperti plamir tembok sampai pukul 01.00 WIB.

“Tak sebatas itu, sebelum berangkat kerja istri saya ajak untuk ngayak pasir dulu dan masih banyak pekerjaan lain yang semestinya dikerjakan tukang dan kuli bangunan, saya kerjakan bersama istri saya,” imbuh pria yang juga jurnalis ini.

Berikutnya akhir Desember 2014, homestay Syariah Cempaka pertama kali menerima tamu dari Jawa Tengah. “Waktu itu Pak Hindarto, teman jamaan Masjid Darul Falah yang memberi tamu. Dia menjadi mentor saya untuk terus berusaha melengkapi perabotan dalam homestay sekaligus memberi semangat untuk terus mengembangkan usaha penginapan,” tambah Maman.

Secara perlahan dan pasti, Cak Man bersama istrinya berusaha mandiri dengan memanfaatkan media social mencari tamu.

Eksis Saat Pandemi

“Alhamdulillah sebelum Pandemi Covid-19. Rata rata ada 10-15 rombongan yang bermalam di tempat kami. Tapi adanya Covid–19, kunjungan agak turun. Sebulan hanya 5-7 malam yang terisi. dengan biaya sewa homestay rata-rata Rp 400-500 ribu per malamnya,” jelas Maman.

Untuk saat ini, adanya Pandemi Covid-19, Cak Man terus memutar otak supaya usaha penginapannya tetap berjalan.

“Pertama saya jaga kualitas kebersihan dan pelayanan pada tamu. Kita juga selalu bekerja sama dengan teman-teman tour leader (TL), serta memantau perkembangan daerah lain, terutama obyek wisata yang ada di sekitar Kota Batu. Up date status dengan harapan tamu yang pernah bermalam di homestay kami mau datang lagi ke Kota Batu,” ungkap Maman.

Berikutnya, selain menyiapkan penginapan. Kadang sebagian tamu enggan memasak sendiri di homestay. Akhirnya kami tawarkan untuk menyiapkan sarapan dan makan malam.

“Intinya Kami bondo nekat. Meski tidak ahli di bidang kuliner, setiap ada pesanan masakan Kita selalu bilang oke. Kalau tidak bisa masak sendiri, kadang Kita limpahkan pada tetangga yang ahli memasak,” jelas Maman.

Untuk saat ini, antara usaha penginapan dengan kuliner, menurut Cak Man masih menjanjikan. “Trendnya sekarang menu siap saji. Jadi tamu yang bermalam di homestay lebih banyak memilih bersih tidak mau repot dengan urusan masak memasak di dapur,” tambah dia.

Kuliner Ikan Tuna

Terbaru kata Cak Man, bersama saudaranya yang tinggal di Kecamatan Sumber Manjing Wetan (Sumawe) Kabupaten Malang membuka usaha ‘Dapur Cak Man’ dengan menu utama Tuna Bakar.

“Kita ingin ikut mengkampanyekan gerakan gemar makan ikan. Ikan Tuna yang kami datangkan langsung dari Pantai Sendang Biru. Saat ini prosesnya memang masih mengandalkan pesanan dari teman dan mitra kerjanya,” sebut Cak Man.

Nah yang terakhir, pesan Cak Man, jangan takut untuk memulai usaha yang baru. Selalu berusaha walaupun hanya bermodal nekat.

“Insya Allah kalau ada kemauan pasti ada jalannya. Lantas jangan lupa manfaatkan media social untuk mengembangkan usaha sedang kita bangun,” pungkas Cak Man. (had)