Film 18 KM, Sebuah Karya Sinema Kreatif di Tengah Pandemi

Foto: Para pendukung film 18 KM saat gala premiere di Hotel Atria Malang, Rabu (20/10/2020). (ned)

BACAMALANG.COM – Sebuah sinema karya anak bangsa hadir memperkaya khasanah perfilman di tengah masa pandemi yang seakan tiada berakhir. Film ini berjudul “18 KM – Malang Batu, Kalau Masih Sayang Pasti Bertemu”, sebuah film pendek produksi Oneng Sugiarta Entertainment dan PT Kian Mulia Dua Puluh Tujuh.

Penulis naskah, Oneng Sugiarta menjelaskan, film ini merupakan kelanjutan dari album kompilasi 18 KM yang telah diluncurkan beberapa waktu sebelumnya. “Album tersebut adalah kolaborasi karya rekan-rekan pekerja seni banyak yang kehilangan pekerjaan saat puncak pandemi,” ungkapnya usai gala premiere film 18 KM di Hotel Atria Malang, Rabu (20/10/2020).

Pria yang kondang sebagai Master of Ceremony (MC) ini mengaku, respon masyarakat terhadap karya tersebut cukup tinggi, sehingga muncullah inspirasi untuk membuat film dengan judul yang sama. “Dan lagu Janeeta adalah yang pertama ada di pikiran saya untuk cerita film berdurasi 18 menit ini,” paparnya.

Film ini mulai digarap sejak Mei 2020 lalu. Kisahnya tentang kehidupan Lanang, seorang mahasiswa dari keluarga sederhana di Bumiaji, Kota Batu yang mengejar seorang gadis bernama Janeeta untuk dijadikan kekasihnya.

Oneng menambahkan, seperti judul albumnya, 18 KM di sini menunjukkan jarak rumah Lanang di Batu dengan kampusnya di Kota Malang. Dikatakan Oneng, film ini murni sebagai hiburan, namun juga sebagai momen bahwa pandemi ini mengajarkan banyak hal, termasuk perjuangan untuk tetap berkarya dan bangkit bersama. “Kisahnya sederhana dan mengangkat kearifan lokal, dan dapat diterima semua kalangan baik di desa maupun kota, intinya seluruh masyarakat dapat terhibur,” urainya.

Meski sebagai hiburan, namun ada pesan moral tersirat dalam film ini, “Mimpi itu harus diraih dengan usaha, jika tidak mau berusaha, akan mengganggu kesehatan mental,” ujar Kiki Indah Permata Direktur KM 27, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan mental yang mendukung pembuatan film 18 KM ini.

Film besutan Ruli Suprayugo & Irfan Zahri ini sekitar 90 % adegannya menggunakan dialog Bahasa Jawa. Pengambilan gambar dilakukan di sejumlah kawasan di Kota Batu.
Film ini, lanjut Oneng, menampilkan visual-visual cantik panorama Kota Batu. Selain itu hampir semua pendukungnya adalah orang-orang yang baru pertamakali terlibat dalam sebuah film. “Seperti pemeran utama Bintang Halilintar hingga sutradara Irfan Zahri yang sebelumnya lebih banyak menangani wedding,” imbuhnya.

Oleh karena itu Oneng mengaku bahwa film ini tentunya masih jauh dari sempurna.
“Bahkan saya siap menerima segala macam krtik sebagai sutradara,” timpal Rulli Suprayugo yang sehari-hari berprofesi sebagai penyiar radio dan MC ini.

Film ini terinspirasi dari lagu-lagu dari album 18 KM yang berisi 9 tembang kompilasi. Meski demikian hanya empat tembang yang dipasang sebagai soundtrack film ini, yaitu Janeeta, Beautiful Moment, Stalking Kamu, dan Jangan. Lagu Janeeta sebagai theme song ditampilkan secara penuh justru lewat versi akustik oleh Axel, bukan Sayangku seperti dalam album musiknya.

Film yang dirilis perdana pada Hari Sumpah Pemuda tersebut dapat ditonton di YouTube Channel Oneng Sugiarta Entertainment. “Kami juga bersyukur, karena sudah ada tawaran dari salah satu perusahaan untuk road show di beberapa tempat di Jawa Timur,’ pungkasnya. (ned)