Review 18 KM: Visual Cantik Yang Masih Terjebak Inkonsitensi

Foto: Suasana gala premiere film 18 KM di Hotel Atria Malang, Rabu (20/10/2020). (ned)

BACAMALANG.COM – Lanang (Bintang Halilintar) adalah seorang pemuda yang tinggal di Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur. Ia adalah anak yang patuh kepada kedua orang tuanya yakni pak Kasdi (Bayhakky Novanda) dan ibuk Hartini (Atika Soekarno).

Mahasiswa jurusan Psikologi yang berkuliah di Kota Malang ini menaruh hati pada temannya yang bernama Janeeta (Elizabeth Jennifer). Namun hati Lanang gundah saat mendengar kabar dari sahabatnya, Yunna (Yunna Amora), kalau Janeeta harus mengikuti orangtuanya pindah ke Jakarta.

Bahkan ia menyampaikan keinginan kepada Bapak dan Ibunya agar dapat mengikuti Jeneeta ke Jakarta, yang tentu saja ditentang, karena mereka ingin Lanang tetap kuliah dan bekerja sambil mengelola tegal atau lahan milik Bapaknya di Batu.

Singkat cerita, Lanang akhirnya menjadi pengusaha cafe yang sukses sesuai dengan yang diinginkan. Hingga suatu ketika ia bertemu pujaan hatinya yang pulang dari Jakarta dan ternyata masih membuka hatinya untuk Lanang, hingga akhirnya menikahlah mereka.

Namun, apakah pernikahan mereka akan bahagia? Itulah sinopsis film pendek berjudul “18 KM – Malang Batu, Kalau Masih Sayang Pasti Bertemu”, produksi Oneng Sugiarta Entertainment dan PT Kian Mulia Dua Puluh Tujuh. Naskah ditulis Oneng, sementara penyutradaraan diserahkan kepada Ruli Suprayugo & Irfan Zahri. Film ini berdurasi tepat 18 menit, termasuk kesan dari Waikota Batu Dewanti Rumpoko serta sejumlah outtakes.

Kehadiran film ini yang sudah ditayangkan secara luas di kanal Youtube, mendapat perhatian pegiat sinema Arief Akhmad Yani dari komunitas Lentera Sinema Mandiri Malang Kota (Lensa Mata). “Ada sejumlah hal yang harus dibahas lebih lanjut, tentu dari sisi sinematografinya,” ujarnya saat dihubungi bacamalang.com secara terpisah belum lama ini.

Ia menuturkan, introduksi di awal film dianggap akan lebih baik jika panorama Kota Batu sebaiknya ditampilkan secara utuh. “Tidak perlu langsung diberi tulisan judul film, supaya penonton betul-betul menikmati visual cantiknya,” jelas Yani, sapaannya.

Yani menilai, kedua sutradara belum maksimal dalam menggali karakter utamanya. Ada inkosistensi dari penggambaran yang ditampilkan sejak awal film. Ia menyebut seperti kostum dan lifestyle yang tampak terlalu berlebihan, hingga berlanjut ke adegan resepsi pernikahan bernuansa menengah ke atas.

“Dialog bahasa Jawa dari Lanang sebagai tokoh utama juga sedikit kaku, seolah bukan bahasa sehari-hari seperti digambarkan dalam keluarganya. Sebaiknya disertakan
terjemahannya juga seperti film-film lain yang menggunakan bahasa selain bahasa Indonesia,” papar pria yang juga aktif di Jejaring Komunitas Film Indonesia atau IFC Network ini.

Yani juga menyoroti tokoh banci, dalam konteks dominasinya di hampir setiap scene film ini. “Perannya justru terlihat mengalahkan karakter utama,” imbuh dia. Menurut Yani, penulis naskah juga kurang peka terhadap situasi pandemi Covid-19 yang justru menjadi latar belakang film ini dibuat. Dalam sejumlah adegan tidak ditampilkan penggunaan masker hingga social distancing. “Seperti saat adegan senam, yang juga tidak menunjukkan apa hubungan Janeeta dengan pesenam lainnya dalam frame tersebut,” terangnya.

Yani menilai sutradara masih perlu memahami imajinasi ruang dan cerita secara lebih mendalam saat mencoba mengadaptasi syair lagu agar sesuai kisah yang ingin ditampilkan. “Apalagi lagu tema tersebut muncul secara utuh dalam adegan resepsi pernikahan,” lanjutnya.

Bagi Yani, pemahaman ini penting, sehingga bisa jelas arah cerita yang ingin disampaikan dengan durasi film yang cukup singkat ini. “Jadi bisa kelihatan mau dijadikan film romantis, komedi atau dibuat sebagai videoklip panjang sekalian,” tandasnya. (ned)