Sembilan Bulan Pandemi, 7 Hal Penting Ini yang Perlu Diingat

Foto: dr Umar Usman MM. (Ist)

BACAMALANG.COM – Sembilan bulan Pandemi Covid-19 telah menjangkit di Indonesia dan dunia. Saat ini di Indonesia pasien Covid 19 beertambah 6.267, sehingga total ada kasus Covid-19 mencapai 534.266 pasien, hingga Jumat (29/11/2020).

Satu hal yang layak dijalankan adalah perlunya melakukan antisipasi datangnya momen libur panjang akhir dan awal tahun yang berpotensi memunculkan klaster baru Covid 19.

Meski anti virus belum kunjung datang, namun optimisme untuk penanggulangan penyebaran wajib digaungkan untuk menumbuhkan imunitas psikologis dan sosial rakyat Indonesia.

7 Hal Penting

Wakil Ketua Satgas Covid 19 NU Malang Raya, dr Umar Usman MM mengatakan setidaknya ada 7 hal penting bisa dijalankan sebagai bagian penanggulangan meminimalisir penyebaran virus bernama latin Coronavirus Disease tersebut.

Sebagian hal ini ada yang bersifat konvensional, sudah banyak diketahui warga karena tersosialisasikan dengan massif.

Yaitu misalnya pertama, penguatan sikap disiplin dari seluruh masyarakat untuk bisa menjalani protokol kesehatan (prokes) 3 M meliputi mencuci tangan, menjaga jarak (physical distancing) dan memakai masker.

Jangan Isolasi Mandiri

Catatan kedua, adalah selayaknya pasien yang tergolong orang tanpa gangguan (OTG) semestinya jangan melakukan isolasi mandiri.

“Semestinya OTG tidak melakukan isolasi mandiri. Hal ini karena tingkat kedisiplinan dan protap medis yang diterapkan terkadang tidak sesuai standard yang ditetapkan,” terang dr Umar.

Catatan penting ketiga adalah menjalankan 3 T, yaitu pemeriksaan dini (testing) secara massif, pelacakan (tracing), dan perawatan (treatment).

“Pemeriksaan dini menjadi penting agar bisa mendapatkan perawatan dengan cepat. Tak hanya itu, dengan mengetahui lebih cepat, Kita bisa menghindari potensi penularan ke orang lain. Sebaiknya dilakukan swab massal secara gratis agar tidak membebani perekonomian warga,” tukas alumnus Universitas Airlangga ini.

Keempat, menjalankan berbagai solusi secara Pentahelix. Strategi pentahelix menjadi upaya yang dapat diterapkan agar tidak terjadi timbulnya kasus baru COVID-19 di zona hijau.

“Penanggulangan COVID-19 dengan strategi pentahelix melibatkan semua pihak terkait, sangatlah perlu khususnya dalam memitigasi agar tak terjadi kasus-kasus baru di zona yang sudah dinyatakan hijau,” tegas dr Umar.

Waspada Klaster Baru

Catatan kelima adalah perlunya mewaspadai potensi munculnya kluster baru Covid 19. Adapun klaster yang dimaksud contohnya klaster wisata (potensi orang berwisata saat liburan akhir dan awal tahun), klaster LP (lembaga pemasyarakatan), klaster perkantoran, klaster pilkada, klaster family (keluarga), dan pondok pesantren.

Hal keenam yang perlu diperhatikan adalah memberi perhatian lebih terhadap imun tubuh agar potensi terpapar virus lebih kecil.

“Masa pandemi yang panjang ini telah menimbulkan kelelahan fisik dan mental mengakibatkan masyarakat abai prokes. Penting mengingatkan prokes dan menerapkan perilaku hidup bersih sehat meningkatkan imunitas, mengonsumsi gizi seimbang, melakukan aktivitas fisik rutin, istirahat cukup, dan pengelolaan stres,” urai dr Umar.

Penambahan Nakes dan Insentif

Hal terakhir (ke-7) yang tidak kalah urgen adalah penguatan pada sektor tenaga kesehatan (nakes). Beberapa upaya pemerintah pantas diapresiasi.

Seiring meningkatnya jumlah pasien dan penambahan ruang isolasi, pemerintah turut memperkuat nakes dengan membuka rekrutmen bagi relawan tenaga kesehatan.

Selain itu juga mendatangkan tambahan nakes dari beberapa daerah terdekat Malang Raya, untuk membantu percepatan penanganan pasien Covid-19.

Pemerintah juga berupaya meningkatkan perlindungan pada tenaga kesehatan. Salah satu cara yang dilakukan dengan membatasi jam kerja nakes yang bertugas menangani pasien Virus Corona.

Selain itu diperlukan penambahan fasilitas kesehatan tenaga medis bagi yang kekurangan.

Hal ini demi meningkatkan pelayanan rumah sakit dalam menangani pasien virus Corona sehingga para tenaga kesehatan tidak kewalahan.

“Yang juga dibutuhkan adalah percepatan pemberian insentif kepada nakes. Hal ini diperlukan sebagai stimulus nakes untuk semangat mengabdikan diri dalam penanganan pandemi Covid 19,” urai dr Umar mengakhiri. (had)