Rilis Komposisi Unik, Rani Jambak Sebut SM Sebagai Perjalanan Spiritual yang Sakral-Personal

Caption : Rani Jambak (berkacamata). (ist)

BACAMALANG.COM – Komposisi SM (Suara Minangkabau) karya komposer dan pemburu bebunyian, Rani Jambak, dirilis dengan kolaborasi organizing pelaksana kegiatan oleh Medan Creative Hub di sebuah Cafe di Kota Medan, beberapa waktu lalu.

“Alhamdulillah. Saya menyebut Suara Minangkabau sebagai perjalanan spiritual yang sakral-personal mengesankan, yang bertepatan dilaunching pada hari ulang tahun saya ke-29,” tegas Rani Jambak, Rabu (31/3/2021).

Dalam proses karya ini, ia merasa bahwa karya ini adalah benar-benar perjalanan spiritual personal untuk mengenal diri dan asal-usul, serta tanah leluhurnya.

“Saya lahir di Medan, namun saya berasal dari etnis Minangkabau, dari suku Jambak. Menurut saya, banyak hal-hal mengenai sejarah dan kebudayaan yang ternyata tidak bisa saya dapatkan di literasi buku Minangkabau konvensional. Saya menemukan keberagaman aksen bahasa tiap nagari (desa) dan kekayaan alam mulai dari pegunungan hingga lautan,” tutur Rani Jambak.

Prihatin Surau tak nampak

Ia menjumpai sistem pendidikan Minangkabau yang ada sejak dulu, yaitu surau, yang kini mulai hampir tidak bisa ditemukan lagi. “Saya pun menjumpai sistem pendidikan Minangkabau yang ada sejak dulu, yaitu surau, yang kini mulai hampir tidak bisa ditemukan lagi. Menurut saya surau dan pendidikan silat masih sangat relevan bahkan sangat penting untuk generasi Minangkabau yang kuat secara fisik, mental, dan spiritualnya,” jelasnya.

Ia menilai hasil karyanya belum sepenuhnya bisa merepresentasikan kebudayaan Minangkabau. “Saya merasakan bahwa sebenarnya apa yang saya tuangkan dalam karya ini, tentu sangatlah subyektif, dan mungkin belum sepenuhnya merepresentasikan Minangkabau, namun itulah perspektif yang memang saya tangkap secara personal, terutama dalam hal-hal yang selama ini belum saya temukan dalam berbagai literasi kebudayaan tentang Minangkabau,” tuturnya.

Komposisi Unik

Suara Minangkabau merupakan sebuah komposisi unik, di mana Rani Jambak (sound recordist) dan Evi Ovtiana (videografer) merekam langsung berbagai bunyi-bunyian khas daerah Minangkabau (dan visualnya melalui video), seperti aktivitas di pasar, berkebun, berburu babi, melaut, rumah gadang, pemain musik tradisi, makanan tradisional, randai, sawah, perbukitan, transportasi umum, pembuatan sampan, lembah, air terjun, danau, mesjid, hewan, alat musik talempong batu, air terjun, laut, dan lainnya.

Setelah tuntas melakukan perburuan bunyi merekam di lapangan, proses selanjutnya dilakukan Rani dan Evi di studio, untuk mengaransemen komposisi musik dan video editing. Proses komposisi menggunakan teknik sampling, eksplorasi bunyi, dan soundscapes, yang diolahnya menjadi sebuah suguhan karya inovatif.

Teknik sampling adalah pengambilan suara yang kemudian diolah kembali menjadi suara instrumen baru, bisa berupa melodis atau perkusif. Eksplorasi bunyi merupakan berbagai proses teknis pengolahan suara melalui software, selain sampling juga penambahan berbagai macam reverb, perubahan EQ, dan lainnya. Sedangkan soundscapes adalah suara apapun yang ada di sebuah wilayah yang dapat didengar oleh manusia. Studi mengenai soundscapes pertama kali dipopulerkan oleh Murray Schafer sekitar tahun 1960an.

Untuk wilayah-wilayah yang dieksplorasi oleh Rani dan Evi pada saat perburuan bunyi Suara Minangkabau adalah di kota Padang, Pariaman, Ampek Angkek, Payakumbuh, Bukit Tinggi, Tabek Patah, kota Medan, dan Kisaran.

Rilis karya Suara Minangkabau episode “Darek” yang juga disiarkan secara live streaming melalui zoom Meeting, dan diikuti oleh seniman, budayawan, dan berbagai komunitas pelaku industri kreatif dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri ini, berlangsung dinamis dengan diskusi yang sangat gayeng. Sementara di lokasi acara, tak kurang dari 50-an peserta yang hadir, karena memang dilakukan pembatasan pengunjung sesuai protokol kesehatan Covid-19.

Acara rilis karya dimulai pada pukul 19.45, dibuka oleh MC Fenrico Pasaribu dari Medan Creative Hub, diawali dengan pemutaran beberapa video apresiasi terhadap karya Suara Minangkabau dari beberapa tokoh, yang dilanjutkan dengan performance dari Rani Jambak, membawakan lagu Kampuang Nan Jauh di Mato dalam versi kemasan musik elektronik. Kemudian kegiatan diteruskan dengan presentasi dan perilisan (penayangan) karya Suara Minangkabau oleh Rani Jambak, yang disambung dengan diskusi yang dipandu oleh host Brevin Tarigan, dosen Program Studi Pendidikan Musik di Universitas Negeri Medan.

Tanggapan bagi karya Suara Minangkabau disampaikan kepada Rani Jambak dalam sesi diskusi. Beberapa penanggap antara lain budayawan Medan asal Minangkabau Juhendri Chaniago, koreografer dan penari Suwarsono, pegiat pariwisata dan budaya Bachtiar Djanan dari Banyuwangi, budayawan Minang Viveri Yudi yang akrab dipanggil Mak Kari (melalui zoom meeting), dan anggota DPRD Komisi E Drs. Penyabar Nakhe, sekaligus menyampaikan statement penutup acara.

Acara rilis karya Suara Minangkabau diakhiri pukul 22.30, dengan kejutan perayaaan kecil ulang tahun Rani Jambak ke-29, yang bertepatan dengan waktu pelaksanaan rilis karyanya yang mendapatkan dukungan penuh dari Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui program FBK (Fasilitasi Bidang Kebudayaan 2020). (bach/had)