Ajakan MANUT Prokes ala Walikota Solo, Begini Pandangan Pakar UB

Foto : Maulina Pia Wulandari, Ph.D. (ist)

BACAMALANG.COM – Penerapan PPKM Darurat di berbagai wilayah yang telah ditetapkan telah dibreakdown oleh Pemerintah Pusat ke wilayah yang tinggi pasien Covid. Menariknya, pada setiap wilayah, setiap pemangku jabatan secara dinamis melakukan improvisasi agar pelaksanaan PPKM Darurat bisa berjalan efektif dan efisien. Salah satu fenomena keren adalah upaya Walikota Solo yang menggaungkan ajakan MANUT alias Patuh terhadap aturan prokes yang diharapkan bisa melandaikan kurva Corona.

“Keren. Lagi viral ajakan Walikota Solo yang menghimbau masyarakatnya untuk MANUT pada protokol kesehatan yang dalam Bahasa Indonesia berarti patuh. Lalu kata manut ini ramai dipakai oleh berbagai lapisan masyarakat sebagai slogan kampanye di daerah Jawa Timur termasuk di kota Malang saat masa PPKM darurat ini,” tegas Pakar Komunikasi dan Manajemen Krisis Universitas Brawijaya (UB) Maulina Pia Wulandari PhD.

“Dari segi konten sih oke banget. Terutama buat masyarakat yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Masalah efektif atau tidaknya, masih perlu dipertanyakan karena ada banyak komponen yang dapat membuat kampanye itu berhasil,” tandas Perempuan alumnus FISIP Universitas Airlangga ini.

“Kalau merujuk pada teori multi steps flow of communication (Katz & Lazarfeld, 1955), pesan yang bertujuan untuk merubah perilaku orang akan lebih efektif jika disampaikan melalui Opinion Leaders, karena pengaruh personal dari Opinion Leaders ini memiliki keterikatan secara emosional yang kuat pada pengikutnya. Kampanye MANUTO akan efektif jika gencar dan tegas disampaikan kepada tokoh atau pemimpin masyarakat, agama, adat dan politik, media social influencer, dan aparat pemerintah terlebih dahulu. Jika lini pertama ini bisa berhasil merubah perilakunya untuk patuh pada protokol kesehatan dan kemudian ditunjukkan kepada pengikutnya, maka besar kemungkinan para pengikut akan mencontoh kepatuhan para tokoh yang dijadikan role model,” jelas Perempuan alumnus Studi Doktoral University of Newcastle Australia ini.

“Kampanye ini juga akan berhasil jika diikuti dengan penegakan hukum yang tegas, adil, konsisten dan transparan. Para penegak hukum tidak boleh setengah-setengah kerjanya, tidak boleh tebang pilih, dan pelaksanaannya pun harus transparan. Sehingga Opinion Leader dan pengikutnya akan percaya bahwa jika Kita tidak manut pada protokol kesehatan maka Kita akan kena sangsi dan hukuman yang jelas,” urai Perempuan penggemar inovasi kuliner ini.

“Dan yang terakhir adalah para Opinion Leaders ini jangan kebanyakan berdebat dan harus kompak dengan pemerintah sebagai komunikator pesan kampanye MANUTO ini. Kalau masih ada perbedaan pendapat dan pandangan tentang masalah pentingnya protokol kesehatan dan masalah Covid 19, maka akan para pengikut pun juga sulit untuk dirubah perilakunya untuk patuh pada protokol kesehatan. Kalau kesadaran masyarakat sudah tinggi, masyarakat akan patuh dengan sendirinya. MANUTO KER!!! Ayas Tunam (Manut),” pungkasnya. (had)