Akademisi UB Khawatir Terjadi “Semilir Angin” di Kasus Dugaan Pelanggaran PPKM Wali Kota Malang

Caption : Dr Riyanto M Humaniora. (ist)

BACAMALANG.COM – Kasus dugaan pelanggaran PPKM di Pantai Kondang Merak rombongan Gowes Wali Kota Malang, memasuki babak baru penyelidikan di ranah hukum.

Atas hal tersebut, Akademisi Universitas Brawijaya (UB) Malang, Dr Riyanto M Humaniora, mempunyai tanggapan pedas dan menohok.

Akademisi UB yang juga Budayawan ini khawatir terjadi fenomena “Semilir Angin” di kasus pelanggaran PPKM Wali Kota Malang.

“Teori adalah kerangka berfikir menyelesaikan masalah. Menurut teori politik, kata orang Jawa, “ngono hya ngono tapi aja ngono” (gitu ya gitu, tapi jangan gitu). Biasanya berakhir dengan damai,” tutur Riyanto, Sabtu (25/9/2021).

“Pihak penegak hukum, termasuk yang demo, biasanya akhirnya hanya mengatakan, “aja di baleni,” imbuhnya.

“Di bidang hukum, sering terdengar, “praduga tak bersalah”. Bersama berjalannya waktu dan semakin “semilirnya angin” konsep praduga tak bersalah triwikrama menjadi tak bersalah,” jelasnya.

Kesimpulannya; masih banyak kepala daerah yang kurang faham tugas kemanusiaan. Jabatan adalah sumber kekuasaan, kesenangan, dan sumber kekayaan. “Pantaskan dirimu sebelum berani memimpin rakyatmu,” tegasnya.

MASYARAKAT BUKAN ANAK KECIL

Riyanto menuturkan, dalam pemerintahan itu ada tiga peran yang harus dijalankan secara terus menerus. Pamong praja, pangreh praja, dan abdi masyarakat.

Pamong, artinya kepala daerah harus bisa mengarahkan rakyatnya, sekaligus memberi contoh yang memotivasi dan mendidik.

“Istilah Ki Hajar Dewantara, “ing ngarsa sung tuladha”, di depan memberi teladan. Setelah lulus sebagai pamong, barulah pantas menjadi “pangreh”, tukang memerintah. Dua-duanya dilandasi tekat untuk mengabdi kepentingan rakyat,” imbuhnya.

“Bagaimana dengan kasus Walikota Malang yang berwisata di masa pandemi ? Tentu tiga kondisi diatas tidak hanya tertuju pada pak Sutiaji,” imbuhnya.

“Ibunda di rumah, momong kita dengan kasih sayang. Kalau terpaksa berbohong, karena faham, anak-anaknya masih berebut untuk kenyang. Pertanyaan yang sebenarnya, tertuju pada masyarakat, “apakah kalian anak – anak kecil ?,” pungkasnya. (had)