Alm Errol Jonathans dan Ilmu Naafik, Akademisi UB Ini Cerita Warisan Mendiang

Caption : Errol Jonathans(alm). (ist)

BACAMALANG.COM – Sepeninggal Errol Jonathans, Direktur Utama Suara Surabaya Media Selasa (25/5/2021) dalam usia 63 tahun menyisakan kedukaan mendalam bagi teman dan kerabat dekatnya.

Pria yang berkecimpung di Radio Suara Surabaya (SS) FM selama 30 tahun itu meninggal karena sakit di RS Husada Utama (RSHU) Surabaya, setelah dirawat sejak Lebaran 2021.

“Pak Errol Jonathans (biasa dipanggil mas Errol) adalah salah satu guru saya di dunia ke-radio-an. Dan juga guru kita semua karena ilmunya tertularkan lintas generasi. Ilmunya banyak saya manfaatkan saat berkiprah sebagai awak radio, antara 1994-2001 dan saat menjadi Dosen hingga kini,” terang Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya Malang Rachmat Kriyantono, PhD memulai cerita.

BERUNTUNG

“Saya beruntung dijeda kegiatan workshop kurikulum di lantai 2 RKB Progran Ilmu Sosial FISIP UB, sekitar 2007, kami sempat ngobrol. Beberapa hasil obrolan tersebut menjadi ilmu yang saya sebarkan lewat buku kedua saya berjudul Public Relations Writing tahun 2008 (dicetak lagi 2010, 2012, 2016), terbitan Prenada Jakarta,” urai pria alumnus FISIP Universitas Airlangga ini.

“Jauh sebelumnya, tahun 1994, Saya sebagai penyiar Radio 846 Miniwatt AM Surabaya (Radio dangdut di Dharmahusada Indah Surabaya) ikut workshop Announcing PRSSNI Jatim, diikuti penyiar se-Jatim. Mas Errol menjadi pengajar bersama Mas Dr Djoko El Bayu dan Mas Andi Rustam (ProFM Jakarta yang juga kakak artis Fariz RM). Saya mendapat ilmu kepenyiaran dan scriptwriting, termasuk ilmu tentang senam penyiar,” ungkapnya.

HAMPIR NAIK PERAHU YANG SAMA

“Saya pernah diterima tes menjadi penyiar Suara Surabaya FM dan bisa mulai masuk 1 April 2000. Saat itu, saya adalah part-time announcer 89.65 FM Surabaya ProFM di Pradah Indah Surabaya sejak April 1999 (grup ANTV, yang terkenal dengan tagline “Dari Pojok Kiri Radio Anda”, karena satu-satunya radio di era Orba yang boleh pake frekuensi di bawah 100FM, frekuensi ABRI saat itu). Saya melamar mengikuti rekan di Pro FM yang sudah mendarat di SS FM, mbak Ana Maria, setelah itu ada rekan yang lain, mbak Emma,” tukasnya.

“Oleh Mas Errol, saya diberi jam tugas setiap hari pukul 05.00 WIB -12.00 WIB. Saya bingung. Mengapa? Karena dua minggu sebelumnya, Saya mendapat SK Dosen Tetap Fisip Ubhara Surabaya setelah menjadi Dosen Tetap Percobaan sejak 1 September 1999,” katanya.

“Saya sempat bargaining dengan Mas Errol, apakah saya bisa dijadwalkan ‘gilir kacang’, yakni sekarang pagi besok siang. Mas Errol bilang “ngga bisa karena saya diminta menemani penyiar senior, Mas Yoyong Burhanudin untuk ‘Kelana Kota,” terangnya.

NASEHAT IBU

Saya minta nasehat kepada ibu saya. Ibu saya menasehati agar saya tetap menjadi Dosen. Meski saat itu, gaji Dosen masih kalah banyak, pilihan ibu ini ternyata menjadi jalan hidup terbaik bagi saya,” imbuhnya.

“Jauh sebelumnya, tahun 1992, saya yang menjadi anggota Listerner Club 89.65 Pro FM (masih di THR), ikut pelatihan. Dibimbing manajer Pro FM, Mas Patrick Jonathan, adik Mas Errol. Ternyata, ilmu yang saya peroleh juga ilmu yang sama dari sang kakak,” tegasnya.

PIONER JURNALISME WARGA

“Bersama pemilik SS, Mas Errol adalah pioner jurnalisme warga di 1983. Ini ide kreatif-inovatif, bahkan dianggap ‘ngawur’. Karena beberapa hal : (1) Policy Orba yang melarang bau-bau berita atau informasi. Berita dan info adalah milik RRI dan TVRI. (2). Akibatnya, masyarakat hobby sandiwara radio (saur sepuh, tutur tinular, Trinil, misteri gunung merapi dan lainnya), program request lagu, dan kirim salam via surat, telpon atau kartu pos. (3) Secara marketing nggak laku saat itu. Tapi ternyata, setelah Reformasi jurnalisme warga, talkshow politik dan public policy menjadi booming hingga kini,” jelasnya.

BEDA PENDAPAT DAN ILMU NAAFIIK

“Namun, dari banyak ilmu yang saya serap, ada satu beda pendapat saya dan mas Errol. Saya juga tulis di buku PR Writing tersebut dan saya detailkan di buku Best Practice Humas Bisnis dan Pemerintah (2020). Yaitu tentang konsep Hidden Advertising sebagai simbiosis mutualisme PR dan jurnalis. Selama ini gaya siar SSFM sering menyajikan iklan dalam satu paket informasi jalan raya atau informasi lainnya,” ungkapnya.

“Saya sependapat, teknik ini efektif dalam marketing, tapi, saya tidak sependapat karena teknik ini bisa mengganggu idealisme dan prinsip jurnalistik. Beda pendapat ini saya obrolkan juga dengan mas Errol di RKB tersebut diatas,” katanya.

“Sekarang, ilmu Mas Errol telah saya abadikan saat saya nulis buku. Saya juga sampaikan ke mahasiswa di kelas. Inilah ilmu manfaat, NAAFIIK. Tersebar lintas generasi. Semoga ilmu ini menjadi teman setia Mas Errol bertemu SANG RAJA DIRAJA. Selamat jalan terima kasih Mas Errol,” pungkasnya. (*/had)