Alpukat Pameling Unggulan dari Lawang, Dipamerkan di Lippo Plaza Batos

Fahri, direktur utama Pameling Raja Nusantara (Paranusa) saat sesi Foto: Berfoto bersama di sela-sela pameran Exotic Botanical, yang digelar 12-15 November 2020 di Lippo Plaza Batu Town Square, Kamis (12/11/2020). (eko)

BACAMALANG.COM – Kabupaten Malang tak hanya dikenal sebagai penghasil buah apel dan jeruk keprok. Kini, juga dikenal sebagai penghasil alpukat unggul. Namanya alpukat pameling.       

Dulu, buah asli dari Desa Wonorejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang ini dinamai alpukat arjuno. Kemudian oleh Bupati Malang di era Rendra Kresna diberi nama alpukat pameling. Nama ini menunjukkan harapan warga, agar setiap orang yang telah melihat dan mencicipi kelezatannya akan terus mengingatnya (tereling-eling dalam bahasa Jawa-red).    

Buah alpukat ini memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan alpukat kebanyakan, terutama di Kabupaten Malang.

“Karena ukuran buah ini tergolong jumbo, mulai dari 600 gram hingga 2 kilogram dengan bentuk buah agak lonjong. Selain itu, daging buahnya juga tebal, berwarna kuning mentega dan bijinya relatif kecil,” kata Fahri, direktur utama Pameling Raja Nusantara (Paranusa) kepada awak media di sela-sela pameran Exotic Botanical, yang digelar 12-15 November 2020 di Lippo Plaza Batu Town Square, Kamis (12/11/2020).

Menurutnya, tanaman buah alpukat pameling tersebut memiliki produktivitas tinggi mencapai 150-200 kilogram per pohon, dan termasuk tanaman yang genjah karena pada umur 2 tahun sudah mulai belajar berbuah, hingga 3 tahun siap panen.

“Jadi, kalau soal rasa jangan ditanya, karena pulennya juara dan siap diadu dengan buah alpukat unggulan lainnya,” tukas Fahri.

Keunggulan lainnya, ditambahkan Fahri adalah berbuah sepanjang tahun tanpa mengenal musim. “Karena tanaman ini tidak pernah berhenti berbuah. Dalam satu pohon ada cabang yang sudah berbuah, ada yang berbuah kecil, bahkan ada yang masih berbunga,” imbuhnya.      

Deretan keunggulannya tersebut, lanjut Fahri, mengantarkan buah ini sebagai juara II kontes buah unggulan nasional yang diselenggarakan dalam rangka PENAS di Aceh pada 2017 lalu.

“Kemudian pada 2019, buah alpukat ini resmi didaftarkan dan dilepas oleh Menteri Pertanian sebagai alpukat unggulan nasional,” ungkap dia.

Fahri juga mengaku, harga pada panen raya adalah Rp 30 ribu per kilogram. Sedangkan pada saat panennya sedikit harganya mencapai Rp 50-60 ribu per kilogram.

“Harga buah ini sangat bagus dan menguntungkan bagi petani. Saat ini pemasaran alpukat pameling baru mencapai daerah Jawa Timur saja, dan sudah masuk ke pasar-pasar premium,” ujarnya.   

Fahri berharap, agar alpukat pameling ini dapat dinikmati oleh konsumen di seluruh Indonesia bahkan di ekspor ke luar negeri.

“Ya, karena beberapa waktu yang lalu sudah ada calon pembeli dari Jerman dan Swiss yang ke sini dan mencicipi, respon mereka sangat positif,” pungkas dia.    

Sekadar diketahui, Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) RI berencana mengalokasikan pengembangan kawasan di Kabupaten Malang, dengan luas 100 hektare.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto kala itu mengungkapkan, bahwa alpukat merupakan salah satu komoditas buah berpotensi ekspor. Komoditas tersebut, didorong untuk dapat menembus pasar ekspor karena tinggi permintaan. (Eko)