Ambyarisme Didi Kempot Di Tengah Pandemi Covid-19

Foto : Didik Sasono Setyadi. (ist)

Oleh : Didik Sasono Setyadi

Ambyarisme Didi Kempot. Bayangkan. Jaman sekarang ini mencari, menemukan “mantan” yang menghilang itu sebenarnya bukan hal susah.

Tak perlu keliling Seribu Kota (Sewu Kutho), tak perlu menunggu Banyu Langit (Air Langit) turun dari Kahyangan.

Tinggal search di medsos mulai dari FB, Twitter sampai Instagram. Akun sang mantan dengan foto-foto selfie. Lagi shopping, atau lagi hang out di cafe, atau lagi berlibur minimal di Bali.

Atau bahkan di Korea dengan Bojo Anyar (Pasangan Baru) nya pun bertebaran di sana. Tinggal sampean kuat apa nggak menerima kenyataan.

Namun demikian Didi Kempot dengan lagu-lagunya yang bikin AMBYAR sesungguhnya tidak sedang bercerita soal patah hati secara letterlijk.

Dia sedang menggerakkan suatu paham (“isme”) baru, yaitu Ambyarisme.

Ambyarisme ini adalah soal kecintaan yang terlukai. Tentang kesetiaan yang dikhianati. Sekaligus cerita tentang kekekalan cinta dan setia itu benar adanya.

Perbedaan status ekonomi, status sosial, perbedaan pilihan politik, bahkan keyakinan sering menjadi penghalang langgengnya hubungan atas dasar kecintaan dan kesetiaan.

Namun demikian Didi Kempot mengajarkan agar tak ada dendam. Kesakitan hati, bagi penganut ambyarisme adalah bagian dari kehidupan yang harus dijalani untuk mendewasakan diri.

Bahkan patah hati kudu (harus) tetap dijogeti. Alhasil meskipun “teles kebes netes luh neng pipiku” (basah deras air mata di pipiku), tetap direspon dengan “Cendol Dhawet…. Seger…!!!”

“Kalung Emas” yang dulu dibelikan untuk Sang Mantan dengan penuh perjuangan ketika lewat masa, menjadi tak bermakna seiring dengan lunturnya rasa cinta dan setia.

Lewat Ambyarisme Didi Kempot bertutur bahwa manusia yang satu bisa mengambyarkan manusia yang lain.

Mungkin saja anda diambyarkan oleh seseorang, namun secara tidak sadar andapun mungkin pernah membuat ambyar orang lain tanpa ada sadari.

Bagi Didi, ambyar justru menjadi perekat. Sobat ambyar makin menjamur dimana-mana.

Bahkan mereka (orang-orang ambyar) ternyata sangat berguna. Setidaknya dalam menyikapi pandemi Corona.

Konser Didi di Kompas TV kemarin dalam beberapa jam saja mampu mengumpulkan sumbangan hingga milyaran rupiah.

Konser itu juga mampu mendeliver pesan agar tidak mudik dan disiplin selama social, physical, distancing dan PSBB.

Bagi Didi Ambyarisme bukanlah Fatalisme. Ambyarisme adalah solidaritas baru bagi kaum yang pernah tersakiti, kaum yang tercampakkan cintanya dan terciderai setianya. Namun tetap sanggup menebar cinta dan setia kepada sesama.

Satu hal lagi, dibalik kenaifan tentang kesedihan yang diderita dalam lagu-lagunya, Didi sebenarnya sedang menyembunyikan “kesombongan” dan “kebanggaan” akan dirinya sendiri.

Karena bisa saja dia sedang menuturkan “…Hei kamu…yang pernah mengecilkan artiku… lihatlah sekarang…. aku tak sekecil atau sehina perkiraanmu…!!”

Hidup Ambyarisme ! Tetap Cinta dan Setia, Bahkan akhirnya Sukses dan Senantiasa Gembira. Kalau ada yang kangen Mantan? Japri dan ajak meeting di Zoom aja.

*) Penulis adalah Seniman dan Budayawan yang sekaligus Pengamat Kebijakan Publik dan Inisiator #GerakanSejutaHandSanitizer #GotongRoyongLawanCorona