Anatomi Tahu Ala Kamateatra Art Project

Tim Kamateatra Art Project saat latihan di pabrik Tahu, sebuah pertunjukan teater dengan menggunakan pendekatan teater antropologi-industri. (ist)

BACAMALANG.COM – Sebuah pertunjukan kesenian tidak pernah lepas dari kondisi sosio kultural masyarakatnya. Bagaimana masyarakat berkembang, bersama dengan itu pula pertunjukan kesenian bergerak. Begitu pula dengan pertunjukan teater yang seringkali mengambil isu dari kondisi lingkungan di sekitarnya.

Ada yang menarik dalam fenomena industri yang berkaitan erat dengan sistem ekonomi, sosial, dan psikologi masyarakat. Ketiganya saling mempengaruhi dan membentuk budaya tertentu dalam masyarakat. Di luar dari itu, seni seringkali berkembang dari kondisi budaya masyarakat dan akan menarik saat pertunjukan dihadirkan di tengah kegiatan industri.
Kali ini Kamateatra Art Project mengangkat industri pabrik tahu dengan isu tahu di dalamnya.

Aktor dan sutradara Kamateatra Art Project, Anwari mengatakan, tahu yang dianggap sebagai makanan ‘murah’ rakyat rupanya sedang mengalami kondisi kontradiktif, dimana murahnya harga jual dibayangi dengan fenomena impor kedelai sebagai bahan bakunya.

“Kondisi ini tentu tidak banyak menjadi fokus mayoritas konsumen tahu, sehingga sepanjang perjalanan, tahu terus menjadi makanan murah di negara sendiri. Sementara di luar negeri, tahu rupanya menjadi makanan yang tidak murah,” ungkapnya dalam rilis yang disampaikan Rabu (23/6/2021).

Dengan kondisi inilah Anwari mencoba menggagas sebuah pertunjukan teater dengan menggunakan pendekatan teater antropologi-industri. Anwari mengaku ingin menunjukkan hubungan menarik antara industri yang banyak mengambil alih peran manusia hingga menciptakan pola masal dan instan dalam hal jangkauan dan konsumen.

“Sedangkan terkait dengan pemilihan tempat pabrik tahu RDS yang berkomitmen membuat tahu organik adalah kesterilan yang distandarkan pada pekerja tahu dan strategi pembuangan limbah – yang seringkali dianggap mencemari lingkungan- namun di pabrik ini ada strategi industri yang menarik,” ujarnya.

Pertunjukan ini berangkat dari riset proses pengolahan tahu langsung di pabrik tahu RDS Klampok, Singosari. Periset adalah tim Kamateatra Art Project yang terdiri dari pemimpin pertunjukan, sutradara, hingga aktor, yang dibantu oleh pemilik pabrik tahu sebagai narasumber dan produser pertunjukan.

Pada saat pengolahan adegan, sutradara bersama para aktor mengangkat isu seputar impor kedelai yang sempat disinggung presiden Joko Widodo, hingga harga tahu yang tidak pernah naik. Kemudian bagaimana para pekerja di pabrik tahu dieksplorasi dalam adengan-adengan minim kata dan lebih banyak eksplorasi gerak. Penonton akan banyak menikmati pola-pola gerak aktor dan bahasa-bahasa simbolik. Isu lain adalah seputar sosok kapitalis yang dianggap mampu memberikan kesejahteraan di balik produksi tahu dan nyatanya hanya menjadi angan-angan semu. Hingga pada akhirnya digambarkan betapa masyarakat pembuat dan konsumen tahu terus berkubang dalam permasalahan di balik produksi tahu yang tak pernah selesai.

“Ada yang menarik dalam proyek Kamateatra Art Project kali ini di mana kami menggandeng sosok pebisnis muda yang pernah menerima penghargaan berskala nasional “Mandiri Award” sebagai wirausahawan muda paling berbakat pada tahun 2010,” ungkap Anwari.

Menurut dia, ini adalah kolaborasi yang di luar alur kebiasaan. Bahkan lewat sosok wirausahawan muda ini pulalah jalan berkesenian langsung di pabrik tahu terbuka. “Kemudian kami menggandeng pengurus Ansor Ranting Desa Klampok, dengan mengusung misi kami sejak tahun lalu yaitu bersinergi dengan segala potensi yang ada di sekitar lingkungan kami, desa Klampok, kecamatan Singosari, Kabupaten Malang,” imbuhnya.

Anwari memaparkan, tim pertunjukan ini terdiri dari Rudik Setiawan (produser); Anwari (sutradara); Elyda K. Rara (pemimpin produksi); Ma’rifatul Latifah, F.N. Bagaskara, Moenir Khan, Azizah Novi, Allan Fikri, dan Bahauddin (pemain); Dodot (penata lampu); Akmal Rahmat Firdaus (penata artistik); Julieta Anta (manajer administrasi); dan Arrington de Dionyso (penata musik), serta beberapa volunteer yang tidak bisa disebutkan satu per satu.

Pertunjukan ini membuka kesempatan bagi siapa saja untuk memberikan dukungan dalam bentuk dana, peliputan pertunjukan, hingga tindak lanjut pertunjukan lanjutan. Dukungan dapat disampaikan secara langsung melalui 085102321025 (Rudik) atau 081944908806 (Elyda).

Bagi penonton yang ingin menyaksikan pertunjukan ini diimbau agar segera memesan tiket karena kuota terbatas. Pertunjukan akan dihelat pada Minggu, 4 Juli 2021 jam 19.00 WIB di pabrik tahu RDS, Klampok, Singosari, dengan HTM 25.000. Untuk pemesanan bisa melalui 085230800787 (Mia) atau 081944908806 (Elyda).(ned/lis)