Apresiasi dari Pakar untuk Sound of Borobudur Meluber

Caption : Aksi musisi di Sound of Borobudur. (ist)

BACAMALANG.COM – Sokongan dan apresiasi dari kalangan akademisi untuk gelar prestisius Sound of Borobudur yang digelar 24 Juni 2021 meluber.

“Secara etnomusikologi, instrumen musik dikatakan serumpun apabila terdapat kemiripan dalam nama, bentuk (organologi), fungsi, teknik, ataupun tangga nada. Contohnya pada instrumen petik Kecapi di Kalimantan Tengah, Kacaping di Makasar, Hasapi di Batak, dan Kudyapi di Filipina,” tegas Drs. Haryanto, M.Ed, (etnomusikolog dari ISI Jogja).

“Pada instrumen gong melodi, ada contoh-contoh alat musik Kelintang dari Kalimantan Timur, Kulintang dari Filipina, Kolintang dari Sulawesi Utara, Kyomong dari Kalimantan Barat, Kromong dari Betawi, Trompong dari Bali,” tuturnya.

“Dari observasi pada relief seni pertunjukan yang terdapat pada Candi Borobudur, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada masa itu terdapat dua bentuk pertunjukan, yaitu yang bersifat profane dan religious, profane dilakukan oleh jenis instrument petik dan tiup, sedangkan religious dilakukan oleh jenis instrumen perkusi,” imbuhnya.

“Terdapat hubungan antara Borobudur dengan kebudayaan lain, seperti, Timur Tengah, India dan Asia Timur, yang dapat ditunjukan oleh keberadaan alat musik seperti mouth organ, lute dan suling horizontal. Dua jenis alat musik sebagai kunci penelusuran sejarah laras hingga sekarang hanya ada pada masyarakat Dayak di Kalimantan,” paparnya.

“Pada saat itu masyarakat telah mengenal 5 nada yang ditunjukkan dalam permainan alat musik tiup harmoni yang menggunakan 6 pipa bambu yang memiliki rumpun dengan: khaen di Vietnam dan Laos, sho di Jepang, sheeng di China, engkrerurai di Serawak, sompotan di Sabah, keledik, kadede, kedire, keroni burong, gerdeg di Kalimantan,” urainya.

“Hasil dari penelusuran awal dengan bukti-bukti yang ada sampai sekarang seperti: organ mulut, lute dan nyanyian-nyanyian kuno membuktikan bahwa tangga nada padantara atau anhemitonic pentatonic salah satu tangga nada yang digunakan pada waktu itu,” tukasnya.

WARISAN ADALAH KATA KERJA

Sementara itu, Dr. Lono Lastoro Simatupang, MSi. (Antropolog dari Universitas Gajah Mada) turut memberikan dukungan.

“Warisan itu adalah kata kerja. Apa yang didapat itu bukan final, tapi awal atau modal untuk membangun suatu gerakan, dengan menggali dari akar masa lalu, baik yang berupa tangible maupun intangible, dan lintas bidang, lintas disiplin ilmu,” terangnya.

“Watak dari warisan adalah tidak semula jadi (given), melainkan dijadikan (made), hasil pemilihan dengan berbagai pertaruhan (politik, ekonomi, budaya, agama, ilmu pengetahuan), warisan adalah kinerja warisanisasi (heritagization), ini bukanlah soal penetapan, tetapi lebih perihal perlakuan istimewa terhadap warisan,” imbuhnya.

“Bahwa warisan itu menyambungkan antara masa lalu dan masa kini, sementara warisanisasi adalah kerja adaptasi dan transformasi dalam konteks masa kini, di mana Sound of Borobudur menjadi sebuah gerakan yang membangun kolaborasi lintas disiplin, yang mewariskan sebuah semangat,” tegasnya.

“Siapa pewaris Borobudur? Kepemilikan budaya tidak sama seperti hak milik properti. Budaya diwariskan untuk dibagikan dan menjadi milik bersama. Maka pewaris adalah siapa saja yang menempatkan Borobudur sebagai sumber daya hidup saat ini. Dalam hal persoalan kepemilikan budaya, ketika gamelan dimainkan seluruh dunia, apakah kita akan kehilangan identitas…? Jawabannya adalah bisa “tidak” dan bisa “iya”. Jawaban “Tidak” jika ini adalah sebagai diplomasi bunyi, tapi “iya Kita akan kehilangan” jika ternyata di Indonesia sendiri kita tidak merasa memilikinya,” jelasnya.

SUARA DALAM KONTEKS GEOGRAFI

Sokongan dan apresiasi terhadap Sound of Borobudur juga disampaikan Prof. Dr. M. Baiquni (pakar Geografi, Universitas Gajah Mada.

“Melihat Borobudur dari berbagai elemennya, saya tertarik tentang The geography of sounds, suara-suara dalam konteks geografi, dimana di negara Kita yang kepulauan ini banyak ragam yang unik dan menarik,” urainya.

“Borobudur sering dilihat sebagai sebuah magnet. Dalam fisika ada gaya sentrifugal dan gaya sentripetal, yang perlu dimainkan. Jika hanya melihat Borobudur sebagai magnet, maka dia adalah materi, yang bila dibelah sampai detail maka akan ketemu atom,” ungkapnya.

“Dalam konteks gaya sentrifugal dan sentripetal itu, Kita harus memadukan kekuatan itu melalui berbagai eksplorasi dan aktivitas kehidupan sehari-hari masyarakat. Sentripetal itu gaya yang menarik ke dalam, dan sentrifugal itu gaya menarik ke luar.
Bila dihubungkan dengan satu gerakan-gerakan yang Kita untai dalam kumparan-kumparan peradaban, baik masa silam maupun dalam konteks sekarang,” lanjutnya.

“Maka Kita bisa menghasilkan suatu cahaya, yaitu listrik. Mengubah daya magnet, menjadi gelombang, listrik, dan menjadi cahaya. Dalam konteks the geography of sound, Kita bisa melihat adanya adaptasi dari masa ke masa, untuk mendengar suara alam, angin, air, dan bunyi-bunyian yang ditabuh dari batu, kayu, dst, sehingga menghasilkan perkembangan-perkembangan hal semacam ini,” sambungnya.

“Dari riset kecil yang pernah saya lakukan, ternyata ada beberapa dimensi, pertama dimensi materi, berupa artefak atau tangible, sesuatu yang nampak dan bisa Kita lihat secara fisik turun-temurun sampai sekarang, tapi ada juga dimensi gelombang, suara, atau hal-hal yang kita bisa sadap atau cerna dari berbagai cara melalui interpretasi yang hari ini Kita bahas,” jelasnya.

“Naik ke teori cahaya, Kita ini menggunakan fisik, yaitu alat-alat yang Kita gunakan, Kita pancarkan dengan gelombang, Kita tangkap dengan cahaya. Teknologi yang Kita perlukan adalah dari alat-alat, bunyian, sampai makna atau manfaat dari musik ini akan memberikan kontribusi yang signifikan pada perkembangan di masa depan,” tukasnya.

“Secara geografi Borobudur terletak di lembah diantara dua pegunungan yang subur. Melihat Borobudur sebagai suatu bentuk, tapi juga ada makna dan manfaat, menjadi berbagai hal perlintasan yang akan Kita tata sebaik-baiknya, yang tentunya mungkin akan ada dialektika dan perbedaan pemahaman, itu bagian dari proses interaksi,” katanya.

“Musik atau suara sebagai medium untuk mentransformasikan, dari materi atau badan Kita atau artefak, menuju gelombang cahaya. Antara nalar, naluri dan nurani, Kita bisa lakukan interaksi bersama-sama, bahwa ketika Kita membahas alat musik, itu semua juga mengandung materi, gelombang, dan cahaya,” pungkasnya. (*/had)