Apresiasi Program Desa Wisata untuk Melestarikan Budaya

Foto : Suasana pertemuan dengan warga Nias Selatan. (ist)

BACAMALANG.COM – Drs. Penyabar Nakhe, anggota Komisi E DPRD Provinsi Sumatera Utara, melakukan kegiatan Reses kedua di Desa Onohondrö, Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Senin (22/2/2021), dengan mengusung tema program desa wisata.

Dalam kegiatan ini, Drs. Penyabar Nakhe hadir bersama Perkumpulan HIDORA (Hiduplah Indonesia Raya), konsultan sekaligus praktisi pariwisata dari Banyuwangi, Jawa Timur, untuk berbagi pengetahuan, wawasan, dan pengalaman dalam program-program pengembangan wisata desa yang pernah dilakukan HIDORA di desa-desa di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Lombok Nusa Tenggara Barat, melalui program pemberdayaan masyarakat.

Rombongan terdiri dari Drs.Penyabar Nakhe (Anggota Komisi E DPRD Provinsi Sumatera Utara), Tri Andri Marjanto (Ketua HIDORA), Dian Septiana Sari (Sekretaris HIDORA), Arianto Zega (Camat Gunungsitoli Barat), yang disambut baik oleh warga.

Para penyambut dari Desa Onohondrö yang terdiri Temaziso Hondro (Kepala Desa), Yohanes Hondrö (Si Ulu Si Ila/tokoh adat), Marthin Luther Dachi (Mantan Wakapolres Nias Selatan), Awali Bagu (Kepala Sekolah SD 071103 ONOHONDRO), Claudius (DPC PDI P), perangkat Pemerintah Desa Desa Onohondrö, anggota BPD Desa Onohondrö, anggota PKK Desa Onohondrö, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, masyarakat setempat, dan insan Pers.

Rombongan tiba di Desa Onohondrö pada pukul 16.00 WIB, dan dipersilahkan duduk di mimbar dengan latar belakang rumah adat. Kemudian tokoh adat Desa Onohondrö memberikan penghargaan adat kepada rombongan berupa rompi dan selendang khas Nias untuk Ketua dan Sekretaris HIDORA, sebagai lambang penerimaan serta penghormatan masyarakat secara adat, kepada tamu yang datang ke desanya dan akan membantu peningkatan ekonomi masyarakat desa. Kemudian acara dilanjutkan dengan kegiatan foto bersama.

Rangkaian acara dalam kegiatan Reses ini berupa perkenalan rombongan, sambutan dari Kepala Desa, sambutan dari Mantan Wakapolres Nias Selatan, sambutan dari tokoh adat, yang dilanjutkan dengan materi Reses oleh Drs. Penyabar Nakhe, dan sosialisasi program desa wisata oleh Ketua HIDORA, serta diskusi tanya jawab tentang program desa wisata. Acara berakhir sekitar pukul 19.00 WIB dengan acara makan malam bersama.

Merasa senang

Temaziso Hondrö, Kepala Desa Onohondrö menyatakan senang sekali mendapatkan kunjungan dari anggota Komisi E DPRD Provinsi Sumatera Utara, Penyabar Nakhe, karena jarang ada pejabat yang mau mengunjungi Desa Onohondrö.

Warga merasa kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah, terlihat dari beberapa hal, antara lain:

1. Listrik baru masuk ke Desa Onohondrö pada tahun 2018.

2. Aksesibilitas jalan ke Desa baru dibuat pada tahun 2020.

3. Rumah adat yang berusia lebih dari 400 tahun yang ada di desa ini belum pernah mendapatkan perhatian dari pemerintah untuk dukungan dalam hal perawatan.

Selain itu, ia mengatakan, Air Terjun Zumali yang ada di desa ini, airnya ditampung di semacam telaga, sehari-harinya warga desa mengambil air di sana untuk air minum. Hal ini memerlukan dukungan dari Pemerintah Kabupaten/Provinsi agar nantinya ada program untuk bisa mendistribusikan air ke desa. “Saya sangat mendukung program desa wisata yang akan dilaksanakan di desanya, dengan harapan program ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat desa,” tegasnya.

Lestarikan budaya dan alam

Yohanes Hondrö, Si Ulu Si Ila/tokoh adat mengungkapkan, ia sangat senang ada pihak luar desa yang mau peduli dengan Desa Onohondrö, terutama karena program ini akan melestarikan budaya dan alam desa.

Beberapa informasi terkait kekayaan budaya di desa ini antara lain:

  1. Nama Desa Onohondrö berasal dari nama bangsawan Nias yang pertama kali membangun rumah adat besar di sana, sehingga kemudian dijadikan marga Hondrö.
  2. Desa ini tidak besar, namun memiliki kekayaan berupa 24 rumah adat, termasuk sebuah rumah raja terbesar kedua (Omo Sebua) di Nias Selatan, yang diperkirakan berusia sekitar 400 tahun, yang sebenarnya indah tapi mengalami kerapuhan di sana-sini karena dimakan usia.

Di dalam rumah raja tersebut masih bisa dijumpai tempat untuk penghakiman bagi warga yang memiliki kesalahan. Yohanes Hondrö sebagai keturunan langsung Marga Hondrö sangat prihatin dengan kurang pedulinya pemerintah terhadap perawatan rumah adat terbesar kedua di Nias Selatan.

“Kondisi rumah adat saat ini sudah mau roboh karena kayu-kayunya yang mulai lapuk, masyarakat desa kini hampir tidak sanggup lagi untuk merawatnya, karena biaya perawatan yang mahal, dan dana desa pun tidak cukup bila dialokasikan untuk perawatan rumah adat. Dengan adanya program wisata desa ini, diharapkan ekonomi masyarakat desa bisa meningkat,” tukasnya.

Beri apresiasi

Marthin Luther Dachi, Mantan Wakapolres Nias Selatan menuturkan, sebagai putera daerah Desa Onohondrö, sangat mengapresiasi kedatangan rombongan ke Desa Onohondrö. Diharapkan dengan kedatangan rombongan ini dapat mengubah tatanan kehidupan masyarakat desa, pendapatan masyarakat juga bisa semakin meningkat dengan dikembangkannya menjadi desa wisata.

Di desa ini terdapat budaya yang terkenal di masa lampau, yaitu Ritual Famadaya Harimao, berupa simbolis pembersihan (memandikan) replika harimau, yang kemudian airnya dibuang di air terjun Zumali.

Upacara ini dilaksanakan setiap 7 tahun sekali, yang dilakukan untuk mencegah penyakit, bala bencana, dan energi-energi negatif, dengan ruang lingkup bukan hanya Desa Onohondrö, tapi juga kawasan desa-desa di sekitarnya. “Tradisi Ritual Famadaya Harimao yang merupakan budaya khas Desa Onohondrö, tetap harus dilestarikan, sehingga tidak pernah hilang dan terus diingat oleh masyarakat modern di Era 4.O ini,” jelasnya. (had)