Atensi Covid Bangkalan, Menjaga Malang Raya, dan Langkah Penanganan

Foto: dr Umar Usman. (ist)

BACAMALANG.COM – Berita lonjakan Covid di Bangkalan viral dan menjadi suatu hal yang patut diberikan atensi dan kewaspadaan. Pada sisi lain, kondisi Malang Raya relatif masih bisa dikendalikan lewat sinergi semua unsur (pihak)

“Kami prihatin atas kondisi zona merah Bangkalan yang patut diberikan atensi dan kewaspadaan. Kita wajib bersyukur karena kondisi Malang Raya relatif bisa dikendalikan. Kalau Kita bersinergi pasti ada langkah penyelesaian,” tegas Wakil Ketua Satgas Covid 19 NU Malang Raya, dr Umar Usman MM.

Seperti diketahui, Bangkalan kini menjadi satu-satunya daerah di Jatim yang berstatus zona merah. Daerah dengan status zona kuning atau risiko rendah penularan Covid-19 kini hanya tersisa empat daerah yakni Lumajang, Kabupaten Probolinggo, Sumenep dan Pamekasan. Sementara 33 daerah lainnya termasuk Malang Raya berstatus zona oranye atau risiko sedang penularan Covid-19.

OPTIMALKAN SARANA RS

Diketahui, Bed Occupancy Rate (BOR) atau tingkat pemakaian tempat tidur untuk pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang meningkat dalam kurun waktu seminggu terakhir.

BOR untuk pasien Covid-19 rata-rata 30 persen dari 108 tempat tidur yang disediakan. Saat ini, rata-rata BOR di rumah sakit rujukan utama di Jawa Timur itu sebesar 43 persen.

Pasien Covid-19 yang dirawat di RSSA juga berasal dari luar daerah Kota Malang, namun diantara pasien itu tidak ada pasien yang berasal dari daerah yang mengalami lonjakan kasus yang signifikan, seperti di Bangkalan.

Terkait penutupan safe house di Jalan Kawi yang izinnya tak lagi diperpanjang,
maka pasien yang masih dirawat di safe house akan dialihkan ke RS Lapangan Idjen Boulevard dan RSUD Kota Malang.

“Safe house Kawi sudah tidak menerima pasien baru yang menjalani karantina. Pasien yang ada tetap menjalani perawatan dengan di pindah ke RS. Kami memaksimalkan RSUD Kota Malang dan RS Lapangan. Seluruh pasien lama sudah harus meninggalkan safe house Kawi maksimal 25 Juni, sehingga 26 Juni hingga 29 Juni, Dinkes Kota Malang dapat melakukan penyemprotan disinfektan pada gedung tersebut sebelum digunakan kembali oleh Pemprov Jatim,” tukas pria yang juga Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Malang ini

8 JALAN PENANGANAN

Setidaknya ada 8 jalan penanganan yang bisa dilakukan untuk menurunkan persebaran Covid. Pertama, gencar vaksinasi. Kedua, menegakkan prokes. Ketiga, testing, tracing dan treatment. Keempat, memaksimalkan RS dalam hal SDM, TT (tempat tidur), maupun obat-obatan. Jalan penanganan berikutnya (kelima) dibutuhkan intervensi pemerintah dari tingkat teratas hingga RT/RW.

Khusus Bangkalan maka butuh 3 jalan penanganan khusus. Pertama, menjalankan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah Bangkalan karena PPKM Mikro dirasa tidak cukup untuk dilakukan.

“Varian Covid baik yang baru atau yang lama, pencegahannya sama. Penularan diupayakan tidak meluas. Jangan sampai ini penularannya terus terjadi baik di wilayah setempat maupun di luar wilayah,” kata pria yang juga Ketua PC NU Kabupaten Malang ini.

PSBB bisa dengan konsep seperti PSBB Surabaya Raya atau Malang Raya yang telah digelar tahun lalu yang berdasarkan pengalaman dinilai cukup efektif menekan penyebaran virus.

“Terapkan PSBB seperti yang telah Kita lakukan tahun lalu di Surabaya Raya, dan Malang Raya. PSBB bisa dijalankan di wilayah yang sedang parah, terutama Kabupaten Bangkalan. Diharapkan jangan ada perjalanan keluar masuk dari dan ke Bangkalan. Yang boleh melintas yang urgent seperti ambulans, petugas, dan logistik,” tutur pria alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini.

“Masyarakat di dalam wilayah diharapkan tinggal di rumah selama dua minggu. Apa yang dilakukan pemerintah daerah bisa didorong pemerintah provinsi, karena keputusan untuk pengambilan sikap itu terletak pada pemerintah kabupaten kota,” jelas pria yang juga senior KAHMI ini.

“Masyarakat diharapkan menjadi masyarakat yang paham risiko, tidak percaya hoaks, mematuhi pemda, pemerintah pusat, untuk, berprotokol kesehatan 100%. Diharapkan melibatkan tokoh agama hingga tokoh masyarakat di Bangkalan. Selayaknya tokoh agama, tokoh masyarakat mengajak masyarakat yang tadinya abai menjadi disiplin prokes. Sertakan penegakan hukum tegas. Beri edukasi, dan keteladanan. Masalah Covid Bangkalan menjadi kepedulian bersama. Kita berdoa semoga dapat tersolusikan,” pungkas dr Umar. (had)