Bangkitkan Potensi Ekonomi Berbasis Kearifan Lokal, Minuman SABUSI Jadi Alternatif

Komunitas pecinta minuman sari buah fermentasi dan inzet Pegiat Ekonomi Kreatif Kota Batu M. Anwar. (ist)

BACAMALANG.COM – Guna membangkitkan potensi ekonomi berbasis kearifan lokal, olahan minuman sari buah fermentasi (SABUSI) yang asli warisan leluhur Malang bisa dijadikan alternatif.

“Bagaimana jika warisan teknologi pangan leluhur Nusantara bermanfaat tidak hanya bagi kesehatan, namun juga kebudayaan, ekonomi, dan kebanggaan negeri atas produk lokalnya. Nah minuman sari buah fermentasi (SABUSI) yang asli warisan leluhur Malang bisa dijadikan alternatif,” tegas Pegiat Ekonomi Kreatif Kota Batu, M. Anwar, Rabu (15/6/2022).

Dikatakannya, inilah yang sedang jadi perjuangan Indonesia SABUSI Association (Asosiasi Pengrajin Sari Buah Fermentasi Indonesia). Kelompok penggiat riset dan pengembangan teknologi olahan pangan, khususnya berupa minuman dari buah, bunga, rimpang, dan labu yang tumbuh subur serta melimpah di Indonesia.

SABUSI disingkatnya, upaya penamaan baru dari jenis minuman yang diolah kelompok unit bisnis mikro di Kota Batu.

Lewat SABUSI, pihaknya hendak menyuarakan kampanye bahwa hasil bumi Nusantara memiliki nilai jual tinggi dan mampu bersaing dengan produk luar negeri.

“Awalnya Kami akan namai ini tape buah, tape bunga atau tape labu. Tapi dalam bahasa marketing terkesan kurang menjual. Kenapa tape, ya memang basicnya ini teknologi kuno bagaimana nenek moyang Kita membuat tape. Ya mungkin waktu itu ketemunya singkong, beras, atau ketan hitam saja. Padahal varian buah di sekitar Kita dapat diproses serupa. Kalau Eropa punya kebanggaan Wine yang diproduksi di pedesaan negeri mereka, Kita juga punya varian “wine non-anggur” atau disebut juga Tropical Wine yang Kami beri nama SABUSI, sari buah fermentasi. Mulai dari Apel, Salak, Nanas, Labu Butternut, Rimpang Temulawak (Java Ginger), bunga Mawar Jawa, dan terus berkembang sampai ada 25 varian,” tukasnya.

Ia bersama Dody Baswardjoyo, seorang petani di Desa Junrejo yang sejak muda memiliki hobi mengolah beragam hasil panenannya sendiri di rumahnya menjalankan upaya perkenalan produk ke berbagai pihak.

“Dari hobi dan kebutuhan asupan nutrisi yang dikonsumsi terbatas keluarga saja, hingga kini sudah meluas pemasarannya,” imbuhnya.

Diceritakannya dirinya, tahun 2018 bertemu dengan Dody dan Dino sebagai desain grafis produk kemasan mencoba mengemas fermentasi koleksi keluarga pak Dody ke masyarakat umum.

Diungkapkannya pihaknya membentuk kelompok yang tujuan utamanya sebagai pengembangan riset komoditas agribisnis, juga memiliki misi agar produk pertanian dapat bernilai jual tinggi.

Lewat mengikuti beberapa pameran di Dinas Pertanian Kota Batu dan pemasaran digital, produk SABUSI mulai dikenal oleh publik.

Puncaknya adalah pandemi, ketika kebutuhan orang untuk konsumsi nutrisi, vitamin, sebagai penangkal radikal bebas dan peningkatan daya tahan tubuh melonjak.

Fermentasi Rimpang Temulawak jadi primadona, disusul buah Mulberry, keduanya berkhasiat terapi cepat bagi pencernaan dan antioksidan.

Gaya hidup sehat dengan meminum olahan sari fermentasi semakin meningkat 3 tahun belakangan ini.

Kembali pada cita-cita semula, penamaan kemasan botol minuman SABUSI disesuaikan dengan asal muasal dimana sumber komoditas olahan tersebut berasal.

Misalnya label Junrejo, desa di kota Batu yang jadi lokasi rumah produksi di tengah kebun Mulberry.

Apel buah ikonik kota Batu banyak tumbuh di Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji.

Diluar itu, ada label Sugih Waras nama desa di Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri desa penghasil buah Nanas.

Fermentasi memakai ragi saccaromhysis menjadi Probiotik. Studi menunjukkan bahwa minum fermentasi buah/bunga/rempah/umbi/labu atau wine non anggur khususnya, dapat mengurangi risiko penyakit jantung, stroke, batu empedu, diabetes tipe 2 dan demensia. Bahkan juga dapat meningkatkan sistem metabolisme dalam tubuh Kita.

Setiap buah/bunga/rempah/umbi/labu mengandung alkohol alami untuk asupan kebutuhan tubuh, dan imunoterapi.

Fermentasi adalah proses memantik dan mengikat nutrisi agar bertahan dalam waktu jangka panjang.

Kandungan alkohol yang muncul tergantung dari pembawaan masing-masing komoditi yang muncul dari proses “per-tape-an”.

Konsumsi alkohol dalam jumlah ringan telah dikaitkan dengan sejumlah manfaat kesehatan yang baik.

Ini yang disebut proses suplai probiotik ke dalam tubuh, lawan dari proses Antibiotik (obat sintetis ketika sakit).

Fermentasi sepanjang tahun, dimana hebatnya negeri tropis mampu mengikat bakteri baik pengolah makanan yang mudah dicerna tubuh walaupun lewat teknologi sederhana diolah industri rumah tangga.

Dimulai dengan proses jus buah yang kemudian difermentasi dan dijaga dari udara terbuka agar tidak bersifat asam. Kemasan prioritas dari botol kaca menjaga agar mikroba bergerak netral.

Kualitas fermentasi di negeri tropis perbandingannya 1:3, usia 1 tahun fermentasi Indonesia sama dengan 3 tahun usia fermentasi Eropa.

Apakah SABUSI halal? Di beberapa belahan dunia, seperti contoh di Prancis, masyarakatnya kerap minum sesloki atau segelas kecil wine sebagai penutup dari menu makanan mereka pada takaran tertentu saja.

Masyarakat Eropa yang melegalkan alkohol mengenal istilah standard drinks – kadar minimal minuman beralkohol yang diperkenankan dan dapat ditoleransi tubuh.

Minuman standard drinks itu telah ditakar dan diteliti oleh para ahli, sehingga “peminum rasional” memahami batasan minum serta menjauhi merek dan jenis yang tak bisa mereka toleransi kadar alkoholnya.

Standard Drinks sebagai SOP (prosedur pokok) mengkonsumsi, kini yang sedang jadi kampanye edukasi pengrajin SABUSI.

Dalam kacamata pandangan ulama agama Islam, fermentasi termasuk di golongan Nabidz, Mengutip artikel di www.halalmui.org : Imam Abu Hanifah berpendapat khamar itu pasti mengandung alkohol dan haram; namun alkohol belum tentu khamar.

Sebagai contoh, buah Durian yang telah masak mengandung alkohol, sehingga ada orang yang tidak kuat lalu menjadi mabuk karena memakannya.

Demikian pula buah-buahan yang matang dan dibuat jus, itu mengandung alkohol.

Namun para ulama tidak ada yang mengharamkan Durian atau jus buah. Termasuk dalam kategori ini adalah tape.

Ia mengandung alkohol, tetapi bukan khamar. Pada kenyataannya juga, tidak ada orang yang mabuk atau sengaja mabuk dengan memakan tape.

Imam Abu Hanifah menyebut makanan/minuman yang mengandung alkohol ini sebagai Nabidz, bukan khamar.

Berkenaan dengan Nabidz ini, Imam Abu Hanifah berpendapat pula, apabila Nabidz dapat menyebabkan mabuk, maka menjadi haram. Namun, apabila tidak menyebabkan mabuk, maka tetap Halal.

Bagaimana cara mendapatkan SABUSI?
“Untuk saat ini pemasaran terbatas untuk kalangan sendiri dan penjualan lewat kanal online serta beberapa jaringan penjual berbasis komunitas. Anda dapat mengikuti instagram dan halaman facebook @saribuahfermantasi,” pungkasnya. (*/had)