Bantu Tingkatkan Skill LSM, FISIP UB Gelar Pelatihan Big Data

Caption : Ketua Tim Pengabdian Masyarakat FISIP UB Wawan Sobari, Ph.D. (ist)

BACAMALANG.COM – Guna membantu meningkatkan skill LSM (NGO), Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) menggelar pelatihan Big Data.

“Kami meyakini bahwa salah satu cara berkontribusi secara aktif adalah mendorong pentingnya membangun kapasitas LSM (NGO) sebagai bentuk pelibatan politik dalam proses kebijakan dan membantu mencari solusi-solusi atas persoalan publik di Malang Raya,” tegas Ketua Tim Pengabdian Masyarakat FISIP UB Wawan Sobari, Ph.D, Minggu (9/10/2021)

“Untuk itu, FISIP UB perlu bermitra dengan aktifis NGO di Malang Raya untuk memanfaatkan big data guna kepentingan advokasi sekaligus mendorong kepekaan isu pembangunan dan persoalan publik di Malang Raya,” tutur Pria alumnus FISIP Universitas Airlangga ini.

Seperti diketahui, program Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Brawijaya (UB) bekerjasama dengan Malang Development Watch (MaDeWa) dan Yayasan Kebangsaan Kemanusiaan Indonesia (YSKKI) melaksanakan pelatihan implementasi data besar (big data) bagi para penggiat lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Adapun materi yang dipaparkan meliputi tentang aplikasi Social Network Analysis (SNA) dan Discourse Network Analyzer (DNA).

Juga menghadirkan Trainer dan peneliti DNA Mokh. Sobirin dan Adi Khisbul Waton dari Malang Development Watch (Maladewa).

Kegiatan bertujuan untuk memberikan edukasi dan pemahaman lebih perihal pemanfaatan data besar untuk isu-isu yang menjadi fokus perhatian dan advokasi para aktivis LSM tersebut dilaksanakan pada Sabtu (09/10/2021).

Advokasi merupakan keterampilan dan aktivitas mendasar bagi para aktivis organisasi non-pemerintah (NGO) atau LSM.

Pelatihan pemanfaatan big data untuk advokasi merupakan upaya peningkatan kapasitas dalam upaya-upaya advokasi yang sesuai dengan perkembangan era digital yang mempengaruhi banyak aspek kehidupan.

Pemanfaatan big data merupakan keniscayaan bagi para aktivis dalam memperkuat kapasitas dan efektifitas advokasi kepentingan publik.

Memperjuangkan kepentingan publik di era digital membutuhkan perubahan dalam pengumpulan data, argumentasi, analisis, dan visualisasinya untuk menyuarakan kepentingan publik dalam pembuatan kebijakan.

Sebelum penggunaan big data, advokasi memanfaatkan media sosial. Studi Obar, Zube, and Lampe (2012) di Amerika menemukan bahwa hampir semua kelompok advokasi yang disurvei percaya bahwa media sosial adalah alat yang efektif untuk memfasilitasi keterlibatan sipil dan aksi kolektif.

Sementara Studi Obar (2014) di Kanada mengungkap empat kesimpulan 1) sebagian besar kelompok advokasi yang disurvei mengadopsi pilihan terbatas dari teknologi media sosial, terutama Facebook, Twitter, dan YouTube; 2) kelompok ini menganggap media sosial menawarkan berbagai kemampuan yang menguntungkan; 3) banyak kelompok memiliki keraguan tentang overcommitting pada teknologi, dan 4) ketika hasil penelitian ini dibandingkan dengan Obar et al. (2012), kelompok di Kanada lebih berhati-hati dalam mengadopsi strategi media sosial daripada kelompok advokasi di Amerika.

Meskipun terdapat perbedaan respon pemanfaatan media sosial dalam advokasi, namun kedua studi menunjukkan bahwa media sosial bisa menjadi salah satu pilihan strategi dan media dalam partisipasi politik (political engagement) dalam advokasi.

Sementara dalam praktik penggunaan big data untuk advokasi dilakukan oleh para aktivis pembela hak-hak asasi manusia. Rall et al., (2016) menunjukkan hasil studi sebagai contoh dari sisi output penggunaan big data untuk advokasi tersebut.

Para pendukung hak asasi manusia yang berusaha untuk mengkomunikasikan pesan mereka melalui visualisasi data.

Para aktivis menggunakan visualisasi untuk membuat pesan mereka lebih persuasif dan untuk membatasi efek kontraproduktif.

Berdasarkan uraian-uraian tersebut mengerucut pada satu catatan tentang pentingnya praktik-praktik advokasi yang didukung dengan data yang memadai.

Perkembangan teknologi digital telah mendorong pemanfaatannya dalam praktik advokasi oleh NGO, baik dari sisi input maupun output.

Pemanfaatan big data merupakan salah satu input sekaligus kemampuan mengolahnya menjadi output advokasi yang berbasis data.

Para aktivis NGO di Malang Raya perlu menjadi bagian dari perubahan tersebut dan memanfaatkannya untuk advokasi kebijakan dan/atau persoalan-persoalan publik yang memberi manfaat.

Bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut bisa membuka link berikut : https://www.youtube.com/watch?v=usMMRLR4kqc. (had)