Batik Karya SMPN 2 Sumberpucung Diharapkan Bisa Dipasarkan Secara Luas

Foto : Salah satu contoh hasil karya batik. (Had)

BACAMALANG.COM – Selain melestarikan warisan seni budaya asli Indonesia, seni batik selayaknya mendapatkan bantuan agar bisa menjadi sumber pendapatan untuk kegiatan pendidikan di sekolah.

Salah satu kegiatan ekstra kurukuler
membatik di sekolah misalnya, menjadi salah satu kegiatan yang mempunyai banyak manfaat positif dan ekonomis, patut mendapat apresiasi dari masyakarat luas serta pemerintah Kabupaten Malang.

Beberapa bantuan yang bisa dijajagi untuk diberikan kepada kegiatan membatik di ekstra kurikuler sekolah semisal pemberian peralatan membatik dan pemasaran produk.

“Kami berharap agar kegiatan ekstrakurikuler membatik di sekolah kami semakin maju dan berkembang. Kami berharap ada bantuan untuk peralatan membuat batik agar bisa semakin berkualitas hasilnya,” tandas Santoso Kepala SMPN 2 Sumberpucung Kabupaten Malang baru-baru ini.

Santoso mengatakan, dirinya berkeinginan agar semua siswa didik mengenakan jilbab hasil karya murid peserta ekskul membatik di sekolah SMPN 2 Sumberpucung.

Ia mengatakan saat ini kegiatan membatik di ekskurikuler diikuti oleh siswa kelas 9.

“Siswa kelas 9 selain wajib membuat tugas sekolah, setiap anak juga wajib membuat batik untuk adik kelasnya,” terang Santoso.

Dikatakannya, pihaknya akan menampung semua produk kerajinan batik di koperasi sekolah.

Diceritakannya, selama ini kegiatan membatik oleh siswa masih terbilang sederhana karena bersifat swadaya dan mandiri dengan peralatan sederhana.

“Alhamdulillah selama ini dukungan dari ortu wali murid terhadap kegiatan membatik siswa cukup besar. Namun kami akan sangat berterima kasih jika ada perhatian juga dari Pemkab Malang untuk memberikan bantuan,” papar Santoso.

Ia menuturkan, seandainya ada bantuan dari Pemkab Malang, maka diharapkan kualitas hasil akan meningkat dan standar sehingga bisa dipasarkan secara luas.

Sementara itu, Supriadi, Guru Ekstra Kurikuler Batik mengatakan, dalam seminggu kegiatan membatik oleh siswa dijalankan sekali seminggu dengan durasi selama dua jam.

Dikatakannya, selama ini kegiatan batik masuk ke dalam mata pelajaran pra karya dan kegiatan ekstrakurikuler masuk ke dalam muatan lokal.

Dikatakannya, total siswa peserta ekskul membatik ada sebanyak 338 siswa, terbagi dalam 88 kelompok, dan 1 kelas terdiri dari 8 kelompok.

Supriadi mengungkapkan proses pembatikan terdiri dari beberapa tahapan.

Pertama adalah melakukan pengamatan lingkungan, dilanjutkan dengan membuat desain dan diikuti dengan membuat batik.

Dalam proses membatik, biasanya muncul kendala yaitu siswa sudah merasa bosan apabila mencanting beberapa kali (5 kali).

Namun selanjutnya siswa sudah kembali bersemangat pada saat memasuki tahapan memberikan warna pada batik.

“Saya sering mengikuti pelatihan di Surabaya. Kami menjajagi dilakukannya pematenan hasil karya batik dari anak-anak. Karena bersifat orisinil dan asli,” urai Supriadi.

Senada dengan Santoso, Supriadi mendukung adanya harapan agar Pemkab Malang turut memberikan bantuan berupa pelatihan, peralatan dan pemasaran.

“Agar bisa menghasilkan batik yang berkualitas standar, maka kami berharap ada bantuan Pemkab Malang agar bisa dijajagi untuk dipasarkan secara luas, supaya bisa menambah pendapatan untuk memajukan pengelolaan sekolah,” tukas Supriadi. (Had).