Belum Mbayar

Caption : Dr. Riyanto, M. Hum. (ist)

Oleh : Dr. Riyanto, M.Hum

Sejak jalan tol dibangun, suara kecelakaan diluar jalan tol tidak sesanter dulu lagi.

Orang lebih suka korban sedikit uang untuk keselamatan dan memanjakan diri.

Tembok China dibangun dengan keyakinan, musuh tidak akan bisa masuk.

Tidak mungkin pasukan musuh dapat memanjat dinding setinggi itu.

Tapi, apa yang terjadi ?

Seratus tahun sejak tembok itu dibangun, sudah tiga kali China diserang musuh.

Pertanyaannya, lewat mana ?
Tidak ada tembok yang rusak, “grendel” pintupun konon ceritanya, masih utuh.

Usut punya usut, ternyata, penjaga pintu disuap dengan sejumlah uang.

Muara itu, adalah uang.

Akhir-akhir ini, beberapa daerah di Jawa Timur mirip-mirip dengan itu. Ada beberapa kepala daerah yang kegencet uang.

Bagaimana dengan vandalisme yang menimpa Kota Malang.

Ibarat buah, sekarang sedang musim. Kita tengok sedikit ke belakang. Belum lama ini, bapak Jokowi dihebohkan dengan gambar dan tulisan yang nuansanya melecehkan.

Sampai orang di gerbang istana ikut kebakaran jenggot. Memang tidak sulit menggambar wajah presiden yang sederhana itu. Tapi rasanya kurang puas.

Seraya menambah-nambah. Itulah cara anak bangsa kepingin menguatkan presidennya, dengan cara yang tidak biasa.

Presiden dengan sabar, tidak komentar. Kata orang Jawa, “nesu tanpa kanepson”, marah tanpa amarah. Boleh marah, tapi jangan menghancurkan.

Kembali lagi pada uang. Satu saat ada kabar menyatakan, “proyek pusat” itu identik dengan bagi-bagi uang.

Kota Malang sedang giat-giatnya membangun. Ada gedung Islamic Center, Malang Creatif Center, juga Heritage Kayutangan, konon yang terakhir, dananya dari pusat.

Saya tidak tahu persis, apa maksud dibalik tulisan “Wali Kota Tewur Mundur Ji’. Tapi saya yakin, dari pilihan kata, yang punya ide, adalah teman dekat pak Sutiaji, Ji’.

Terus bagaimana mensikapinya ?
Tenang saja seperti pak Jokowi. Biarlah waktu yang akan membuktikan.

Itu adalah teman yang pingin menguatkan, dengan cara yang tidak biasa. Atau sedang mengingatkan, Ji’, masuk pintu tol belum mbayar.

Penulis : Akademisi Universitas Brawijaya dan Budayawan Malang.