Benarkah Masyarakat Desa Tak Lagi Sinergi-Harmoni?, Ini Komentar Akademisi UB

Foto: Bachtiar Djanan, salah satu pemateri webincang. (ist)

BACAMALANG.COM – Saat ini sebagian masyarakat desa tidak lagi mampu bersinergi dan hidup harmoni. Karenanya butuh upaya untuk kemampuan mengolah alam dan potensi desa.

“Masyarakat desa hari ini banyak yang mengejar zona nyaman modern, karena tidak sanggup mengolah alam, tak sanggup mengolah potensi desa, gagal berpikir untuk bisa survive di desanya sendiri,” tandas akademisi Universitas Brawijaya (UB) Bachtiar Djanan Machmoed, dalam webincang bertema Eksistensi Budaya Jawa di Era New Normal baru-baru ini.

Event BCFF 2020

Seperti diketahui, Program Studi S-1 Pariwisata Fakultas Ilmu Administrasi UB menyelenggarakan event Brawijaya Culture Food and Festival (BCFF) 2020.

BCFF merupakan event reguler tahunan yang digagas oleh Fakultas Ilmu Administrasi Universitas sejak tahun 2011, dan diselenggarakan untuk pertama kalinya pada tahun 2013 oleh Program Studi Bisnis Pariwisata FIA UB.

Kegiatan ini dijalankan dengan tujuan untuk menumbuhkan rasa cinta kepada budaya dan keberagaman kuliner nusantara.

Keunikan budaya yang digali dan dikelola dengan baik, akan menjadi aset, untuk menjadi salah satu jalan kemakmuran bagi masyarakat, di tengah dahsyatnya gempuran budaya dan kuliner dari luar negeri karena dampak teknologi.

Bachtiar mengatakan, sebagian masyarakat desa menjadi jauh dari bumi yang seharusnya dipijak. Dan jauh dari langit yang semestinya dijunjung. Tak lagi muncul sinergi dan harmoni.

“Sebagian dari mereka (masyarakat desa) mencari cara instan dengan bekerja di kota dan bekerja di luar negeri,” tutur Bachtiar Djanan.

Kegiatan ini adalah sejalan dengan kata-kata dari Mahatma Gandhi.
“A nation’s culture resides in the hearts and in the soul of it’s people.” quotes dari Mahatma Gandhi (2 Oktober 1869 – 30 Januari 1948), yang dalam terjemahan bahasa Indonesia memiliki arti “kebudayaan sebuah bangsa bersemayam dalam hati dan jiwa rakyatnya.”

Inilah semangat yang mendasari Program Studi S-1 Pariwisata Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya menyelenggarakan event Brawijaya Culture Food and Festival (BCFF) 2020.

Namun karena kondisi pandemi covid-19 saat ini, event yang di-organize oleh Himpunan Mahasiswa Pariwisata Universitas Brawijaya ini untuk tahun 2020 terpaksa harus diselenggarakan secara daring (online), berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang diselenggarakan secara fisik.

Namun hal ini tidak menyurutkan semangat penyelenggara, mereka tetap berupaya menyajikan event yang terbaik untuk publik, dengan mengangkat tematik “Undiscovery Jewel of Java”.

Dalam kegiatan yang dilaksanakan pada hari Kamis, 5 November 2020 ini, dikemas beberapa rangkaian suguhan acara, yaitu Live Performance Penampilan Forum Daerah, Pameran Budaya Tradisional, Cooking Show Kuliner Khas Nusantara, Performance Tari oleh Mas Didik Nini Thowok, serta Webinar bertajuk “Eksistensi Budaya Jawa di Era New Normal” dengan pembicara saya dan Dr. Riyanto, M.Hum (budayawan, dosen FIA Universitas Brawijaya, Direktur UBTV), dengan moderator Supriono, S.Sos.,M.AB.

Dekan mengucapkan selamat dan doa kebaikan buat Prodi S-1 Pariwisata UB, Himpunan Mahasiswa Pariwisata FIA UB, Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, semoga event ini akan terus berkembang dan memberi sumbangsih yang nyata bagi pengembangan dunia pariwisata, bagi pelestarian budaya, dan bagi upaya-upaya konservasi alam serta lingkungan hidup. (*/had)