Berkreasi di Tengah Pandemi, Tari Roro Ayu Proboretno Ikut Kompetisi CKTNV

Foto: Perform Tari Roro Ayu Proboretno Panji Pulang Jiwo. (ist)

BACAMALANG.COM – Pandemi mengakibatkan banyak sendi kehidupan porak-poranda tak terkecuali sektor seni budaya dan tari.

Berbekal spirit dan semangat tinggi untuk eksis dan melestarikan warisan seni budaya di tengah pandemi, maka digelar ajang Kompetisi Cipta Karya Tari Nusantara Virtual (CKTNV).

“Kami menampilkan kreasi Tari Roro Ayu Proboretno Panji Pulang Jiwo. Tari ini kreasi sendiri menggabungkan beberapa musik daerah dan tari daerah di Jawa Timur,” tegas Koordinator; Fredy Dwi Santoso, Kamis, (8/4/2021) kepada BacaMalang.

Seperti diketahui, telah digelar kegiatan kompetisi Cipta Karya Tari Nusantara secara Virtual dengan penyelenggara paguyuban Suryo Bhirowo, yang disupport Yayasan Ngesti Gondho Pesarean Gunungkawi dan Pemdes Wonosari.

Sedangkan untuk peserta adalah berasal dari seluruh Nusantara. Untuk Juri dari Pusdiklat Seni Ayodyapala memperebutkan total hadiah sebesar Rp 10 juta, sertifikat, piala, dan tropi.

Perjuangan Tim

Fredy yang tinggal di Desa Wonosari Dusun Sumbersari ini menceritakan, dirinya bertugas mengatur masalah gending dan tari. Proses latihan dilakukan selama kurang lebih 1 bulan.

Baju dan perangkat lainnya pihaknya mencari donatur dan sumbangan dari Pemdes Wonosari dan juga Yayasan Ngestigondho Pesarean Gunung Kawi.

Ia mengatakan, tantangan selama berlatih sudah menjadi hal biasa misalnya berselisih pendapat, ketidaktepatan waktu latihan karena ada beberapa penari yang masih sekolah. Sebagian dari mereka juga bekerja.

‘Juga mengumpulkan beberapa ide dari masing-masing anggota cukup membuat prosesnya menjadi bersitegang. Tapi Kami menganggap hal tersebut wujud totalitas dan solidaritas yang kuat,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, makna filosofis dari tari adalah penyatuan dua Pemerintahan guna perluasan daerah kekuasan Mataram dibawah Raja Sultan Agung, yang dilakukan oleh Panji Pulang Jiwo melalu hubungan asmara, antara Roro Ayu Proboretno & Panji Pulang Jiwo lalu diadakan Patemboyo / Sayembara.

Ia berharap bisa menang. “InshaAllah Kami setiap mengikuti kompetisi selalu bermusyawarah terlebih dahulu apakah para penari dan pemusik bersedia. Dan menurut mereka menang atau tidak kita harus tetap mencoba. Karena jika kita menang karena keberuntungan pun kita tidak pernah tahu. Jadi dari situlah keyakinan kami kita layak berkompetisi dengan kreasi kami,” tuturnya.

Dampak Pandemi

Fredy menuturkan, pandemi tidak harus mengurangi atau menstop kegiatan. “Harapan kami tentu pandemi tidak harus mengurangi atau menstop kegiatan kami dalam berkesenian, walaupun tidak ada job sekalipun,” ungkapnya.

Ia berpesan agar penggiat seni terus berkreasi. “Berkesenian ataupun melestarikan seni dan budaya kami, bisa kapanpun dan saya harap semua penggiat seni bisa terus berkesenian, entah berkompetisi, ngamen online, atau pertunjukan online. Agar kita tidak menjadi vacum,” urainya.

Terkait penghasilan ia menjelaskan mengalami penurunan drastis bahkan libur. “Sangat menurun atau benar- benar paguyuban kesenian kami menjadi libur untuk menghibur selama pandemi ini. Saya rasa banyak pekerja seni juga demikian. Semoga segera kita mendapat ijin kembali untuk bekerja atau setidaknya menjadi longgar dalam berkesenian kembali,” ungkapnya. (had)