Bersyukur dan Berharap Pandemi Hilang, Masjid An Namiroh Gelar Barikan Kemerdekaan

Caption : Kegiatan Bari'an Kemerdekaan. (dok pribadi)

BACAMALANG.COM – Berharap bebas dari segala marabahaya termasuk Pandemi Covid, Takmir Masjid An Namiroh Perum IKIP Tegalgondo, menggelar ritual tradisi Barikan Kemerdekaan.

“Dengan barikan, kita mensyukuri bebas dari penjajahan. Dengan barikan, kita berharap juga bebas dari marabahaya, termasuk pandemi Covid ini,” tegas Ketua Takmir Masjid An Namiroh, Dr. H. A. Subhan, M.Pd.

Sekilas info, Senin, ba’da Isya’ (16/8/2021), Takmir Masjid An Namiroh Perum IKIP Tegal Gondo, menggelar Malam Bari’an Tasyakuran Kemerdekaan ke-76 NKRI. Dalam bari’an, Jamaah Masjid berikrar menjaga NKRI. “Jika ada pendatang baru ingin mengganti dasar negara, kita harus melawan, karena mencederai komitmen perjuangan leluhur kita,” tegas Subhan.

Sementara itu, Koordinator Humas Masjid An Namiroh, Rachmat Kriyantono turut memberikan apresiasi kegiatan ini.

Diketahui, Bari’an (Barikan) berasal dari Bahasa Arab “baro’a, bari’an, bara’atan, yubarri’u” yang bermakna “bebas”.

“Lewat barikan, doa pengharapan dan puji syukur terhatur kepada Gusti Allah Ingkang Dumadi, sebagai bentuk kehambaan kita,” jelas Rachmat, Koordinator Humas Masjid An Namiroh.

Dikatakannya, Bari’an juga menjadi malam bersedekah. Makanan minuman tersaji, seperti tumpengan untuk makan bersama. Wujud syukur kita kepada segala pemberianNya dan silaturahmi dengan sesama ciptaanNya.

AKULTURASI ISLAM DAN JAWA

Jamaah NU selama ini melestarikan tradisi ini. “Dahulu, leluhur kita mengadakan ritual untuk tolak bala (tolak bahaya) dan gangguan makhluk halus, mendoakan sesepuh yang membuka desa dan wujud syukur,” terang Rachmat, yang juga Dosen UB.

Acara ini juga dikenal dengan nama “bersih desa” atau “sedekah bumi”. Biasanya ada sesajian/sajen.

Ketika Islam masuk, para wali dan ulama mempercantik dengan unsur-unsur syariat. Yang bertentangan diganti. Namanya pun ditambahi bari’an/barikan.

Sajiannya pun dipilih yang halal, tumpeng halal, dan jampi-jampi diganti kalimat tauhid.

“Semoga Bari’an yang merupakan tradisi berdoa, bersyukur, bersedekah dan bersilaturahmi akan terus lestari. Semoga pandemi menghilang Nusantara Gemilang,” pungkas Rachmat. (had)