Bonerutzy Turen Luncurkan Album Rap Pertama

Boim "bonerutzy", musisi asal Turen siap luncurkan album rap pertamanya. (ned)

BACAMALANG.COM – Musik rap adalah salah satu jenis aliran musik yang cukup diminati kaum remaja hingga dewasa. Musik ini merupakan salah satu unsur Hip Hop, yang dikembangkan masyarakat Afro-Amerika dan Latin-Amerika pada sekitar tahun 1970-an dan menyebar ke berbagai penjuru dunia termasuk Indonesia.

Sementara jenis musik Hip Hop ini mulai tumbuh di Malang pada akhir 1990-an. Salah satunya diramaikan Twin Sista, yang digawangi Nova Ruth, putri gitaris Elpamas Toto Tewel.

Kini di masa pandemi yang berkepanjangan ini, satu lagi rapper Malang mulai unjuk gigi. Iim Hardian Ansori, pria asal Turen, Malang Selatan dengan nama panggung bonerutzy sudah menyiapkan album rap pertamanya. “Album ini berjudul ISOMAN, sesuai dengan kondisi sekarang,” ungkapnya saat ditemui bacamalang.com, Rabu (11/8/2021).

Rapper yang akrab disapa Boim ini mengatakan, album pertamanya ini merupakan kolaborasi dengan Oneng Sugiarta Entertainment. “Album ini spesial, sekaligus emosional bagi saya karena banyak kisah di dalam prosesnya,” tukasnya.

Pria asli Turen ini menjelaskan, sejatinya album ini merupakan tribut atau penghargaan bagi mantan keyboardist Flanella, Basia Saritha Kaban, yang meninggal dunia beberapa waktu lalu. “Saya mengenalnya sejak tahun 1994, dan mendiang Basia adalah orang yang meyakinkan dan memotivasi saya bahwa saya dapat melanjutkan project saya sebagai rapper,” ungkapnya.

Boim menambahkan, pada saat itu ia telah menulis lagu South M Fella, yang kerap dibawa ‘ngamen’ dari kafe ke kafe. Hingga akhirnya setelah lebih dari dua dekade, lagu tentang rasa bangganya menjadi arek Malang Selatan ini dapat terwujud menjadi bagian dari sebuah album.

Perjalanannya dengan Basia pula yang membuat ayah empat anak ini tetap konsisten ‘berceloteh’ di sela kegiatan lainnya sebagai fotografer profesional.
“Basia mengerti sound yang cocok untuk generasi sekarang,” ungkapnya.

Album Isoman ini terdiri dari 10 track, yakni Malang Kuat, Isoman, I Love Indonesia, Satu Hati, South M Fella, Jalanan, Indahnya Berbagi, Riyoyo, Mutazawij dan Get Rich!.

Boim alias bonerutzy sebenarnya telah mengawali kolaborasi dengan Oneng Sugiarta Entertainment lewat single Malang Kuat, yang menjadi penyemangat bagi warga Malang Raya di masa PPKM dan melonjaknya angka Covid-19. “Saya nge-rap bareng Vivi Mambo dan dr. Syifa Mustika, Sp.PD-KGEH yang merupakan ketua Satgas Covid NU Malang Raya,” ujarnya.

Sementara Isoman bercerita tentang bagaimana keluarganya sempat terpapar covid, hingga harus menjalani isolasi mandiri. “Kalau Jalanan adalah lagu hip-hop pertama yang saya tulis pada saat awal kuliah,” ungkap pria yang sudah naik panggung sejak SMA dengan grup One-H ini.

Medium berceloteh dan bercerita yang luas inilah menjadi alasan pria kelahiran tahun 1981 memilih genre musik rap. “Semua idealisme, kondisi yang terjadi serta pengalaman bisa dicurahkan menjadi suatu kreasi seni, tanpa kehilangan identitas sebagai warga Malang,” tukasnya.

Namun menurut dia, lirik-lirik yang diciptakan bukan melulu sebagai protes sosial seperti musik rap pada umumnya, karena lebih kepada positive vibes, hasil perjalanan panjangnya dengan berbagai kalangan mulai di jalanan hingga pondok pesantren.

Bonerutzy mengaku kolaborasi dengan Oneng ini juga semakin membuka wacana dan wawasannya sebagai entertainer. Seperti kerjasama pada beberapa lagu, yang dianggapnya sebagai sebuah kompromi tanpa harus menghilangkan idealisme. “Uniknya, album ini melibatkan banyak pekerja seni asli Malang, mulai proses recording hingga pembuatan videoklip, sebuah kolaborasi luar biasa di masa pandemi,” tambahnya.

Dalam video klip inilah Oneng memberi ia trade mark penampilan dengan kacamata berantai menjuntai, ala penyanyi lawas Johnny Iskandar. “Mas Oneng juga menyarankan album pertama ini diluncurkan pada 29 Oktober 2021 nanti, yang terkait dengan Hari Sumpah Pemuda, namun sebenarnya sebagai hadiah ulang tahun ibunda saya yang jatuh pada tanggal tersebut,” paparnya terharu.

Terpisah, Oneng Sugiarta mengatakan, bahwa tidak mudah menyatukan idealis Boim sebagai seniman dan rapper belasan tahun bahkan puluhan tahun digabung dengan sales orientation yang dia miliki. “Bagaimanapun roda ekonomi teman-teman yang terlibat di project ini harus bergerak, dan Boim sepakat dan kompromi dengan rules yang kami buat tanpa mengurangi karakter dan warna tiap komposisi album ini,” ujar MC yang sebelumnya telah menelurkan album kompilasi sejumlah musisi Malang Raya bertajuk 18 KM ini.

Oneng menegaskan bahwa PPKM yang terus diperpanjang hampir dua bulan ini justru membuat pihaknya tekun menyelesaikan project ini di beberapa studio rekaman, tentunya dengan protokol kesehatan ketat.

“Terimakasih para sahabat yang hadir membantu memberi energi luar biasa untuk kami di masa pandemi seperti ini. Dan terimakasih pula kepada para musisi hebat yang berkenan kolaborasi, meskipun sebagian ada yang sudah sukses di tingkat nasional dan memberi sentuhan indah di album ISOMAN,” tandasnya. (ned)