Candradimuka

Dr. Riyanto. (ist)

Oleh : Dr Riyanto*

CANDRADIMUKA
“akhiri pertapaanmu, tugas kesatriaan menunggu …

Tepi tepinya melingkar, Gunung Kawi, Arjuno, Bromo Tengger, Mahameru, dan Gunung Kapur pinggir pantai.

“Candradimuka ?
Ki Hanggendhali terdiam. Menerawang jauh, seperti menggambar mangkok buih panas mendidih.

“Tempat berlatih !
Bayangan mahabarata.
Tetuko Raden Gatutkaca.
Otot kawat, tulang besi, kulit tembaga.
Hati hati “ngojah” sejarah Malang.
Tanah perdikan yang ahlinya ahli pada berselisih faham.

Malangkucecwara, Tuhan menghancurkan yang batil.
Apakah Bumi Arema ladang kebatilan ?
Malang nominor, sursum moveor. Malang namaku, maju tujuanku.
Candradimuka untuk menghadapi kebatilan dan mapak jaman kemajuan.

Hutan belantara.
Gelap bukan gelapnya malam. Terang bukan terpaan sinar rembulan.
Calon orang-orang hebat di dalamnya.

Ki Hanggendhali menggambar lagi. Hutan tampak luas, berkembang singa singa aremania.

“Benar, Bumi Arema …..
Candradimuka, “wahana
panas mbabar orang-orang terkemuka.

Argakelasa.
“Bima, akhiri pertapaanmu.
Ki Hanggendali menyambung Argakelasa. Malang tempat bertapa, bukan jadi brahmana. Tugas kesatriaan menunggu di luar sana.

Gunung-gunung lembah ngarai hanya ilusi.
Malang hanya menempa.
Bukan untuk dimiliki.
Pergilah, jejak-jejakmu biar tinggal disini.

Malang adalah sumur.
Mengalir sandang pangan, papan.
Bangsa manca datang, dari balik gunung-gunungnya.
Di bawah tanah, banyak cerita romantisme masa lalu.
Dinoyo, Lesanpura, Sukun, Lowokwaru ……

Ken Arok Rajasa Sang Amurwabhumi.
Cikal bakal trah raja-raja Jawi.
Ken Dedes Nariswari.
Cahaya utama yang dikagumi.
Raden Wijaya Kerta Rajasa Jayawardhana.
Meratakan hutan Tarik, Majapahit, Candra Wilwatikta berdiri.

“Cheng Ho datang, “ngregem agama Islam.
Gunung Katu, Ken Arok “mesu raga, sakti mandraguna.
Hayam Wuruk sesuci di Sumber Awan.
Mampu melangkah jaman.
Seni budaya tanpa tanding.
Ahli per-besi-an, Empu Gandring.

Injak Bumi Arema, minum airnya.
Tugas kesatriaan menunggu.
Malang tinggalkan …..
Awas, singa-singa aremania edan …..
🇲🇨.

Penulis : Dr Riyanto, Budayawan dan Akademisi UB (Universitas Brawijaya)
*)Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi BacaMalang.com