Catatan dibalik Dekrit Presiden Gus Dur

BACAMALANG.COM – Saya ingin menulis memori  dibalik dekrit yang berujung  penjatuhan Gus Dur dari kursi presiden RI, mumpung masih banyak saksi hidup yang bisa saling melengkapi sejarah kebesaran beliau, karena kebetulan  saya ikut hadir dalam beberapa pertemuan penting menjelang dekrit itu sebagai khadim (ajudan) alm Mbah KH Ahmad Idris Marzuqi, pengasuh Ponpes lirboyo kediri dan Rais syuriyah PBNU saat itu .

Pertama, saat rapat di istana tanggal 21 Juli 2001, saya bersama beliau dan beberapa kyai sepuh termasuk Ketum PBNU hadir ke istana , presiden Gusdur dawuh soal kondisi politik terakhir negara, kebuntuan sikap pimpinan DPR MPR dan anasir orba  yang akan bangkit, beliau memandang perlu di lakukan dekrit pembubaran DPR MPR dan mengembalikan kekuasaan ke tangan rakyat, sebagai presiden dan  panglima tertinggi TNI Gus Dur berkeyakinan bahwa dekrit presiden akan dipatuhi dan diamankan  oleh aparat keamanan negara, beliau menyebut beberapa nama komandan korps pasukan elite yang menurut beliau pada posisi mendukung penuh dekrit dan akan beraksi mengamankan gedung DPR MPR ketika DPR dibubarkan, rakyat akan menyambut dengan suka cita dan  akan dibentuk pemerintahan peralihan untuk menyiapkan pemilu

Rapat Kedua, rapat khusus malam hari di kantor PBNU Jl. KH. Agus Salim  (saat itu kantor di jalan Kramat raya dalam pembangunan), tanggal 22 juli 2001, malam itu saya bersama Mbah Kyai Idris  di Hotel Indonesia dijemput untuk rapat mendadak di kantor PBNU Jl Agus Salim.

Ketum PBNU  KH Hasyim muzadi memimpin rapat tersebut, beliau menjelaskan situasi terkini dari istana dan desakan untuk segera melakukan dekrit,  situasi rapat menegangkan, ada dua sikap terhadap rencana pelaksanaan dekrit tsb;

Pak Hasyim Muzadi dkk menolak dekrit segera dilakukan malam itu karena hanya akan mempercepat Sidang istimewa dan kejatuhan GD, di mana sore harinya beliau menerima Rombongan pak Agum Gumelar yang menyarankan agar tidak ada dekrit dan lebih baik mendatangi sidang Istimewa DPR untuk menyampaikan penjelasan dan pembelaan.

Sementara sekelompok muda, Cak Anam (Khoirul Anam), Cak Masduqi Baidlowi dkk termasuk saya setuju dekrit karena sudah ada  kepastian skenario SI dan presiden GD akan dijatuhkan, Mereka berpikiran lebih baik kita melawan, saya masih teringat ada seorang peserta rapat yang berucap, “Soekarno dulu dijatuhkan, sekarang sudah bangkit, kalau kita menyerah, apalagi yang akan dibangkitkan?”

Akhirnya Pak Hasyim berinisiatif menyerahkan kebijakan pada Mbah Kyai Faqih Langitan.  Beliau saat itu  menginap di Hotel Sriwijaya, saya ingat kamar beliau di bawah sebelah tangga bersama alm Gus Mujab.

Kemudian dikirim utusan para kyai sepuh untuk menghadap KH abdullah Faqih dengan mengendarai dua mobil, Saya berada satu mobil bersama alm. Mbah Kyai Idris, alm. Mbah Kyai Subadar dan alm. Pak Fathur Rosyid, ketua DPRD jatim.

Rapat ketiga , di kamar Mbah kyai Faqih Langitan di hotel Sriwijaya, Mungkin tidak banyak orang yg tahu kalau dekrit presiden malam itu atas persetujuan alm Mbah Kyai Faqih Langitan.

Setelah Mbah Kyai Subadar dan kyai Muhaiminan matur lengkap apa yg dibahas dalam rapat di kantor PBNU, dawuh beliau yang masih saya ingat, “nggeh pun dekrit mawon, meskipun mboten bunder, mangke kan ketingal sinten ingkang leres”

(ya sudah dekrit saja, meskipun tidak bulat, nanti akan terlihat siapa yang benar)

Saya masih ingat betul, saat itu kita kesulitan mencari kontak langsung kepada siapa yg berada didamping presiden Gusdur di istana. Akhirnya saya usul agar Gus Mujab menelpon Gus Yusuf Muhammad yg saya tahu ada di samping Gus Dur, kemudian kyai Faqih langsung dawuh kepada presiden gusdur. Dan sebelum kami keluar dari kamar itu, saya melihat di layar TV Gus Yahya membacakan dekrit dari istana.

Demikian Para Kyai mendampingi Gus Dur dalam situasi genting tersebut, insyallah kebangkitan para kader Gus Dur segera menjadi kenyataan  . Alfatihah… 

Penulis:
Dr. Ahmad Fahrurrozi
Khadim Pesantren Annur 1 Bululawang Malang