Cegah Saraf Terhimpit, Tim Mahasiswa PTS di Malang Ciptakan Ini

Foto: Arif Kusuma, salah satu anggota tim. (ist)

BACAMALANG.COM – Banyaknya orang mengalami Carpal Tunnel Syndrome (CTS) akibat terhimpitnya saraf yang ada di pergelangan tangan, mengilhami tim mahasiswa UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) menciptakan alat medical wristband untuk menanggulanginya.

“Bagi para pekerja, penyakit ini cukup mengganggu produktivitas. Jika telah terkena sindrom ini, pergelangan tangan akan terasa sakit jika dipakai bergerak agak berat atau secara terus-menerus. Hal ini akan berpengaruh pada kehidupan sehari-hari serta aktivitas di tempat kerja,” tegas salah satu anggota tim, Arif Kusuma Firdaus, Rabu (1/9/2021).

Sindrom ini umumnya ditemui pada orang-orang yang sering menggunakan tangan secara berulang dalam bekerja.

Arif Kusuma Firdaus, mengatakan bahwa penyakit ini umumnya menyerang pegawai kantoran, pemetik daun teh, pelinting rokok, dan juga gamer professional.

Hal ini disebabkan penggunaan tangan yang berulang dan dalam jangka waktu yang lama. Utamanya saat bekerja yang memakan waktu panjang.

Arif menjelaskan bahwa medical wristband yang dirancang timnya ini berbentuk sarung tangan.

Pada bagian tengah alat ditanamkan sensor untuk mendeteksi gerakan di pergelangan tangan.

Khususnya gerakan ke arah ibu jari atau istilah medisnya radial deviasi. Informasi yang diperoleh dari sensor akan dikirim ke microcontroller Arduino untuk diproses.

“Dari situ bisa ditentukan apakah jumlah gerakan tangan yang dilakukan akan beresiko menjadi CTS atau tidak. Jika beresiko, alat ini akan bergetar sebagai peringatan kepada si pemakai,” ujarnya.

Perbedaan disiplin ilmu antara tim dan topik yang dibahas menjadi kendala terbesar ketika proses pembuatan alat.

Anak ketiga dari empat bersaudara ini mengatakan jika seluruh kelompoknya berasal dari bidang kedokteran sementara proses pembuatan alatnya lebih condong ke bidang elektronika.

Oleh karena itu, tim ini bekerja sama dengan Lembaga Semi Otonom (LSO) Robotika UMM untuk proses pembuatan alat.

“Dalam proses pembuatan alat, kami mendiskusikan semua bahan dan komponen serta perancangan dengan LSO Robotika. Untuk bahan dalam pembuatan sensor, tim kami menggunakan fibroin dan laponite. Kedua bahan tersebut memiliki kelebihan yaitu ramah lingkungan. Sehingga lebih mudah untuk di daur ulang atau diuraikan kembali,” jelas Arif.

Medical wristband ini diikutsertakan pada Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) dan berhasil memperoleh pendanaan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti).

Dalam PKM ini, Arif tidak sendiri. Ia ditemani oleh tiga mahasiswa FK lainnya yaitu, Aurizan Adli, Agam Siswanto Hardoyo, dan Waldiyansyah Rizkyfi Makky.

Dijelaskannya, pihaknya berencana melakukan pengembangan dan perbaikan lagi pada desain dan cara kerja alat ini. Diharapkan ke depannya alat ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Sehingga dapat disebarkan dan bermanfaat bagi orang banyak. (*/had)