Covid-19, Vaksinasi dan Kabar Baik

Ilustrasi vaksin Covid-19 (ist)

BACAMALANG.COM – Walaupun penambahan angka pasien Covid-19 mencapai angka tertinggi yakni 14.224 pada Sabtu (16/1/2021) dari pekan sebelumnya 9.000 – 10.000, namun pada sisi lain tetap mencuatkan sejumlah kabar baik yang diharapkan bisa membangun optimisme dan harapan kesembuhan.

“Kita harus selalu berdoa. Selalu ada kabar baik karena angka kesembuhan pasien juga terus meningkat. Baik di Jatim maupun nasional,” tegas Wakil Ketua Satgas Covid 19 NU Malang Raya, dr Umar Usman MM, Selasa (19/1/2021).

Diketahui dari laman infocovid19.jatimprov.go.id, disebutkan, rata-rata jumlah pasien sembuh diatas 500 orang per hari. Tingginya angka kesembuhan bisa dilihat sejak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Pada 11 Januari, angka kesembuhan di Jawa Timur mencapai 969 pasien.

Hari berikutnya turun menjadi 522 pasien. Penurunan itu hanya sementara. Sebab, pasien sembuh naik lagi pada hari berikutnya. Yakni 715 pasien, lalu 745 pasien, dan seterusnya. Sehingga meski penambahan kasus positif Covid-19 tinggi, jumlah pasien yang dirawat tetap berada di bawah angka 8 ribu.

Penambahan kasus positif di Jawa Timur masih tinggi, semisal Sabtu (17/1), kasus positif bertambah sebanyak 974 kasus. Sementara itu, pasien sembuh mencapai 985 orang.

“Perkembangan harian penanganan COVID-19 Per 17 Januari 2021, juga mencatatkan angka kesembuhan harian tertinggi yakni mencapai 9.102 orang dan meningkatkan jumlah kesembuhan kumulatif menjadi 736.460 orang atau persentasenya di angka 81,1%,” urai pria yang juga Ketua PC NU Kabupaten Malang ini.

KIPI Jadi Garansi

Pemerintah menyiapkan aturan terkait Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) dalam program vaksinasi. Peraturan tersebut berkaitan dengan kesiapan dana bila terjadi KIPI di tengah vaksinasi.

Termasuk juga alokasi anggaran yang disiapkan untuk kasus KIPI. Pemantauan tetap akan dilakukan selama program vaksinasi termasuk berkaitan dengan KIPI. Oleh karena itu dana KIPI disiapkan oleh pemerintah.

“Kita harus selalu berpikir antisipatif. Adanya anggaran untuk KIPI setidaknya menjadi semacam garansi, meskipun tetap harus optimis tidak akan terjadi efek kurang baik pasca vaksinasi,” terang pria yang juga Sekertaris Dinas Kesehatan Kota Malang ini.

Plasma Konvalesen

Diketahui, Palang Merah Indonesia (PMI) sejauh ini telah memiliki 64 alat yang dapat mengambil donor plasma konvalesen bagi penyintas Covid-19 tersebar di 31 Unit Donor Darah (UDD) PMI di berbagai daerah di Indonesia.

Dari 64 alat itu, 18 di antaranya kini sudah mengantongi sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Sejalan dengan itu, PMI berusaha mempercepat jumlah sertifikasi alat donor dan dilakukan percepatan sertifikasi tanpa mengurangi kualitas alat.

Pemerintah juga telah mencanangkan gerakan nasional donor plasma konvalesen bagi penyintas Covid-19. Plasma tersebut nantinya digunakan untuk terapi penyembuhan mereka yang positif Covid-19, dengan harapan penyintas Covid-19 yang menjadi pendonor itu sudah memiliki antibodi.

Dengan berjalannya gerakan ini, diharapkan ada konsekuensi meningkatnya jumlah pendonor plasma konvalesen di Tanah Air. PMI sudah ancang-ancang dengan membuka outlet pendonoran lebih banyak. Sejak pandemi Covid-19 di Indonesia, PMI sudah menerima kurang lebih 7.000 plasma konvalesen sejak Mei 2020.

“Konsekuensi minat dari pendonor dan yang memenuhi syarat kesehatan itu meningkat harus diimbangi menyediakan outlet lebih banyak. Selain vaksinasi, adanya plasma konvalesen diharapkan ikut mempercepat penanganan virus,” imbuh dr Umar.

Vaksinasi Mandiri

Diketahui, Asosiasi Daerah Penghasil Panas Bumi Indonesia (ADPPI) mendorong pemerintah pusat segera mengeluarkan regulasi vaksinasi secara mandiri untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

ADPPI mengapresiasi langkah Menteri Kesehatan mempertimbangkan dilakukannya vaksinasi mandiri pada sektor dunia usaha. Vaksinasi mandiri untuk sektor dunia usaha bisa mempercepat upaya pemerintah dalam langkah pemulihan ekonomi nasional.

“Vaksinasi mandiri diharapkan mempercepat penanganan pandemi dan mengurangi beban pemerintah. Selama masa pandemi, sektor yang paling terpukul adalah dunia usaha,” pungkas dr Umar Usman MM. (had)