Covid Melonjak, Empat Strategi, Tiga Target, dan Apresiasi Pemerintah Pusat

Foto: dr Umar Usman MM. (Ist)

BACAMALANG.COM – Melonjaknya kasus di berbagai daerah, ditambah mutasi baru, menuntut dilakukannya jibaku inovasi dalam strategi penanganan virus Covid 19.

“Intinya Kita jangan kendor harus selalu optimis dan bersemangat dalam memerangi Covid ini. Selain sinergi, koordinasi, juga dibutuhkan ragam strategi untuk mengatasinya,” tegas Wakil Ketua Satgas Covid 19 NU Malang Raya, dr Umar Usman MM.

TIGA TARGET dan EMPAT STRATEGI

Saat ini dibutuhkan penurunan mobilitas di atas 30 persen untuk mengendalikan penambahan kasus COVID-19 di Indonesia. “Sehingga akan ada penyesuaian peraturan dan kebijakan akan hal ini,” terang pria yang juga Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Malang ini.

“Ada tiga target pemerintah dalam penanganan COVID-19 saat ini. Yakni menurunkan penambahan kasus harian, menurunkan angka kematian, dan meningkatkan kesembuhan,” terang pria yang juga Ketua PC NU Kabupaten Malang ini.

Untuk memenuhi target itu pemerintah menjalankan empat strategi. Pertama, peningkatan perubahan perilaku masyarakat dalam menangani COVID-19. Caranya, dengan melakukan operasi perubahan perilaku, serta kampanye protokol kesehatan secara sistematis di masyarakat yang melibatkan berbagai kalangan. Selain itu juga akan dilakukan deteksi awal penyebaran COVID-19 dengan mendorong strategi pemeriksaan (testing) dan pelacakan (tracing) yang agresif dan tepat sasaran.

“Diharapkan penyebaran informasi dan kampanye dapat bergerak secara masif dengan melibatkan berbagai lembaga lain, seperti Kemenag dengan mengajak pemuka agama, dan juga Kemendikbud,” urai Pria alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini.

Strategi kedua, pembangunan fasilitas isolasi terpusat. Contohnya seperti Wisma Atlet di Jakarta. Tempat isolasi terpusat di Wisma Atlet untuk wilayah Jabodetabek itu dapat membantu mengurangi penyebaran penularan ke keluarga dan menurunkan keterisian rumah sakit. Pemerintah mendorong provinsi dengan kasus positif tinggi untuk menyediakan fasilitas isolasi terpusat. Strategi ini diharapkan bisa mengurangi hari perawatan pasien COVID-19.

Manajemen perawatan juga akan terus ditingkatkan, dengan memastikan adanya ketersediaan tempat tidur rumah sakit serta penyediaan semua obat dan alat yang dibutuhkan.

Ketiga, akselerasi vaksinasi COVID-19, yang dimulai dari tenaga kesehatan, pelayanan publik, kelompok rentan, dan juga daerah-daerah yang menjadi prioritas. Daerah yang dianggap prioritas adalah daerah yang memiliki positivity rate (angka positif) tinggi.

“Kita harapkan mencapai 70 persen herd immunity (kekebalan komunitas) dalam jangka waktu 12 bulan,” ujar Pria yang juga senior KAHMI ini.

APRESIASI PEMERINTAH PUSAT

dr Umar memberikan apresiasi terhadap gercep (gerak cepat) pemerintah pusat turut membantu mengatasi lonjakan kasus daerah.

Pemerintah memberikan dukungan fasilitas kesehatan seperti bantuan tempat tidur, alat-alat medis, termasuk mendukung persediaan obat-obatan dan menambah alokasi tenaga kesehatan.

Kemenkes juga melakukan mitigasi dan evaluasi dalam rangka membantu manajemen pelayanan kesehatan bagi daerah-daerah yang mengalami lonjakan kasus tinggi tersebut.

Di Bangkalan, Kemenkes bergerak cepat dengan memberikan dukungan peralatan dan fasilitas kesehatan. Selain itu, rumah sakit di Surabaya juga disiapkan untuk menjadi rumah sakit penyangga bagi pasien rujukan COVID-19 dari Bangkalan, Madura.

“Dihimbau masyarakat mengenali gejala COVID-19 dan diharapkan tidak malu memeriksakan diri bekerjasama dalam melaksanakan testing agar turut menekan lonjakan kasus COVID-19,” imbau dr Umar.

Selain itu, Pemerintah pusat telah melakukan tindakan cepat dengan melakukan koordinasi dan bantuan. “Alhamdulillah bantuan diberikan untuk mempermudah daerah mengendalikan kasus yang sedang tinggi. Semisal mengkonversi tempat tidur untuk pelayanan kesehatan, maupun intensifikasi pelaksanaan PPKM mikro untuk mengetatkan kembali Protokol kesehatan,” pungkasnya. (had)