Dampak Pandemi terhadap Jumlah Uang yang Beredar

ilustrasi. (ist)

Oleh : Safira Andiana Alfareza R

Inflasi merupakan keadaan dimana jumlah uang yang beredar lebih cepat sehingga mengakibatkan harga barang menjadi naik. Menurut Badan Pusat Statisti (BPS), mengartikan inflasi sebagai kondisi ekonomi negara Indonesia yang sedang menaiknya harga-harga serta jasa dalam waktu yang cukup panjang. Hal tersebut disebabkan oleh ketidakseimbangnya arus yang dan barang. Mengenai inflasi dapat dihitung dengan menggunakan Indikator Harga Konsumen. Jika hasil yang didapatkan banyak jumlah uang yang beredar maka akan menyebabkan menigkatnya harga-harga (inflasi) sehingga akan berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat Indonesia. Begitupun sebaliknya.

Mengenai pertumbuhan uang diatur dalam Undang-Undang No. 7 tahun 2011 tentang mata uang yang memuat beberapa regulasi seperti, 1. Aturan tentang bentuk Rupiah secara fisik yaitu macam, harga, ciri khusus, dan bahan baku uang, 2. Aturan tentang pengelolaan rupiah yang dimulai pada tahap perencanaan, percetakkan, pengeluar, pengedaran, pencabutan, penarikan, serta pemusnahan terhadap Rupiah, 3. Aturan tentang kewajiban menggunakan Rupiah, menukarkan Rupiah, serta memberantas uang Rupiah palsu, dan 4. Aturan tentang ketentuan pidana hukum terkait masalah menggunakan, menirukan, merusak, serta memalsukan rupiah. Undang-Undang No. 7 tahun 2011 tentang Mata Uang tercantum dalam lembaran negara Republik Indonesia No. 64 tahun 2011. Serta mengenai penjelasan atas Undang-Undang No. 7 tahun 2011 ditetapkan juga dalam tambahan lembaran negara republik Indonesia No. 5223.

Pada tahun 2020, dunia dikejutkan dengan berita mengenai wabah yang dapat ditularkan melalui organ pernapasan yaitu ketika orang yang terpapar sedang berbicara, bersin, ataupun tertawa. Wabah ini dikenal dengan covid-19 yang disebabkan oleh coronavirus disease. Virus corona mulai memasuki Indonesia pada bulan Maret 2020 dengan jumlah kasus pertama sebanyak 3 orang terpaparpositif virus corona. Sehingga semakin hari semakin menimbulkan banyak orang yang positif covid. Pemerintah Indonesia pun mulai menetapkan kebijakan PSBB sampai PPKM Jawa Bali, hal tersebut dilakukan untuk memutus rantai virus corona. Hampir seluruh sektor mengalami penurunan baik sektor industri, ekonomi, sosial budaya, dan lainnya. Selama hampir satu tahun Indonesia mengganti beberapa kebijakan yang akan diterapkan, mulai bulan Juni 2021 ekonomi di Indonesia sudah mulai menunjukkan adanya pemulihan kembali.

Hal tersebut dibuktikan dengan Pidato Menteri Keuangan, Sri Mulyani yang mengatakan bahwa tingkat GDP (Gross Domestic Product) Riil di Indonesia pasca pandemi berada di angka kuartal kedua sebesar Rp2,773 triliun yang cukup lebih besar daripada di tahun 2019 sebesar Rp2.735 triliun. Angka tersebut merupakan angka yang cukup tinggi  jika dibandingkan dengan sebelum adanya pandemi covid-19.

Bank Indonesia pun merilis pengaruh pandemi covid-19 terhadap pertumbuhan jumlah uang yang beredar dalam masyarakat. Diberitakan pada bulan Juli 2021, jumlah uang yang beredar di masyarakat tumbuh dengan terjaga. Likuiditas perekonomian yang dihasilkan (M22) pada bulan Juli 2021 cukup terjaga sebesar Rp7.149,22 triliun hal tersebut cukup melambat sebesar 8,9% daripada tahun lalu sebesar 11,4%. Di bulan Juli 2021, pertumbuhan uang yang terjadi disebabkan oleh adanya bagian atau komponen dari uang yang beredar secara sempit (M1) sebanyak 14,9% dan uang kuasi 6,8%.

Selain itu jumlah uang yang beredar sebagian besar dipngaruhi oleh aktiva (harta) bersih dari luar negeri dan adanya penyaluran kredit. Aktiva tumbuh sebanyak 4,3% cukup kecil dari bulan sebelumnya yaitu Juni 2021 sebanyak 11,5%. Sedangkan untuk penyaluran kredit dapat tumbuh sebanyak 0,3% lebih melambat dibandingkan bulan Juni 2021 sebesar 0,4%. Kemudian untuk tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat cukup tumbuh sebesar 38,7% dibandingkn bulan Juni 2021 sebesar 38,4% (Sumber: Departemen Komunikasi Bank Indonesia).

Sehingga dapat disimpulkan baha secara keseluruhan pertumbuhan uang di masyarakat dapat mempengaruhi terjadinya inflasi dan atau resesi. Olh karena itu untuk mengatur perekonomian suatu negara terdapat kebijakan yang disarankan cukup efektif dan tepat digunakan di Indonesia, kebijakan tersebut adalah Kebijakan Moneter. Menurut (Nopitin, 1997) bererkaitan dengan kebijakan moneter aliran monetaris lebih diperhatikan  kepada model yang kecil yang merupakan penerapan tentang mekanisme transmisi kebijakan moneter secara langsung. Didalam mekanisme ini menjelaskan mengenai pengaruh pertumbuhan jumlah uang beredar terhadap pengeluaran total melalui perubahan harga.

Referensi:
______. (2021). Pemerintah terus Upayakan Pemulihan Ekonomi, namun tetap wasada terhadap Pandemi Covid. Publikasi Kementerian Keuangan.

Miftahul, Aniq. (2015). Pengaruh Kurs, Inflasi, Suku Bunga Sbi, Jumlah Uang Beredar Dan Harga Minyak Mentah Erhadap Jakarta Islamic Index (Jii) Di Bursa Efek Indonesia Periode 2012 – 2014. Semarang: Universitas Islam Negeri Walisonggo.

Dumairy, 1987, “Kausalitas Antara Uang Beredar dan Inflasi di Indonesia”, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, No. 2, BPFE-UGM

*) Penulis : Safira Andiana Alfareza R
Mahasiswa Ekonomi dan Bisnis Jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang

*) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi BacaMalang.com