Demi Proyek Lapangan Voli, Pasir Pantai Balekambang Dikeruk!

Proyek lapangan voli pantai di area Stadion Kanjuruhan Kepanjen (Dhimas)

BACAMALANG.COM – Beberapa pekan lalu sejumlah sopir truk diamankan dan selanjutnya dimintai keterangan di Unit II Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Malang.

Para sopir diamankan saat sedang mengangkut pasir pantai atau pasir laut. Informasi yang dihimpun pewarta menyebutkan, pasir diambil dari seputaran kawasan Pantai Balekambang di Desa Srigonco, Kecamatan Bantur.

Pasir pantai itu diangkut untuk kemudian digunakan sebagai bagian dari proyek lapangan voli pantai di area Stadion Kanjuruhan, Kota Kepanjen. Ada 10 unit truk yang dipakai untuk mengangkut pasir pantai.

“Tadi sekitar 8 kubik (pasir yang diangkut, red),” ucap salah satu sopir yang enggan disebutkan identitasnya, ditemui sesaat sebelum dimintai keterangan di Mapolres Malang.

Sang sopir juga menjelaskan, pengambilan pasir dilakukan dengan cara menggunakan mesin penyedot dan disalurkan lewat selang besar.

Sial, sebelum berhasil menurunkan pasir pantai di tempat tujuan, rupanya aparat berwenang mencium ada yang tidak beres. Hingga kemudian para sopir yang tidak tahu apa-apa harus berhadapan dengan penyidik.

Usut punya usut, proyek pembangunan lapangan voli pantai memang sedang dikerjakan salah satu kontraktor dibawah pengawasan Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Malang. Penelusuran pewarta, lapangan voli pantai dibangun di sisi Barat Selatan area Stadion Kanjuruhan.

Rupanya, saat ini proyek pembangunan lapangan voli pantai hampir rampung. Terlihat sudah ada tumpukan pasir pantai di lapangan tersebut. Entah pasir tersebut merupakan pasir yang sempat tertahan aparat berwenang atau bukan.

Selanjutnya, mari menengok laman Layanan Pengadaan Secara Elektronik atau LPSE Pemerintah Kabupaten Malang.

Pembangunan sarana prasarana lapangan voli pantai disokong Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah atau APBD Tahun Anggaran 2020. Besar anggaran yang digunakan untuk proyek tersebut pun bisa dilihat di LPSE.

Ada tiga paket pekerjaan. Diantaranya, pengadaan jasa konsultasi perencanaan pembangunan lapangan volly pantai senilai Rp 8 juta; pembangunan sarana prasarana olahraga (lapangan volly pantai) Rp 186 juta; dan terakhir pengadaan jasa konsultasi pengawasan pembangunan lapangan volly pantai Rp 6 juta.

Seluruh paket pekerjaan tidak dilakukan melalui skema tender, namun non-tender atau penunjukan langsung.

Terlepas dari masalah proyek pembangunan lapangan voli pantai, pengambilan pasir laut sendiri tidak dibenarkan. Hal ini jelas diterangkan dalam Undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistem.

Pengambilan pasir laut jelas-jelas merusak ekosistem. Bahkan lebih parah, bisa merubah bentang alam. (mid/yog)