DF Sebut Pendamping Desa Harus Miliki Sikap Haus Memotivasi

Foto: Pendampingan di Dial Foundation. (ist)

BACAMALANG.COM – Pendamping Desa sebagai fasilitator di desa mempunyai banyak tugas mulia untuk pemberdayaan masyarakat. Pendamping desa selayaknya mempunyai sikap haus memotivasi dan mendorong kepada perubahan positif.

“Pendamping desa bukanlah perpanjangan tangan feodalisme dan kekuasaan kuno yang memerintah dalam sebuah lingkungan pembangunan desa, atau bahkan mengancam. Pendamping desa adalah aktor yang haus memotivasi, dan mendorong sebuah perubahan untuk keselarasan alam dan ekonomi,” tegas Founder Dial Foundation Pietra Widiadi, Jum’at (25/12/2020).

Pietra menjelaskan, pendamping desa bukan hanya bertugas memerintah, seperti Pembina tetapi pendamping yang menyemangati, dan menguatkan.

“Jadi kalau ada pendamping itu mengancam, berlaku priyayi yang memerintah dan memerangi kreatifitas, adalah penyakit, penghalang yang harus disomasi untuk segera berubah atau bahkan harus digelontor keluar dari ladang yang sedang merekah berkembang,” urai pria alumnus Universitas Airlangga ini.

Pietra melanjutkan, hal ini adalah kenyataan yang tidak nyaman dimana pada kondisi seperti ini ternyata peluang mengembangkan kreatifitas untuk mendapatkan perubahan yang lebih baik masih ada peluang.

Katalisator Perubahan

Dial-Foundation dalam program pendampingan desa, terutama desa Sumbersuko dimana Pendopo Kembangkopi sebagai produk dari DF menjadi katalisator sebuah perubahan.

Memberikan stimulan pemahaman, upaya mendapatkan peluang dengan kreatifitas yang penuh. Mendorong warga masyarakat di Desa Sumbersuko untuk meningkatkan kualitas kehidupan mereka.

Peluangnya sangat besar, sangat banyak, terbentang luas. Seperti saat ini sedang bergeliat mendirikan sebuah tonggak kehidupan desa dalam BUMDesa, yang dinamakan dengan Sumbersuko Lestari.

Bumdes membutuhkan suntikan penyemangat. Maka belajar dari kisah desa Bukit Tinggi dan Jangkat, Jambi, yang didampingi oleh teman-teman dari Yayasan Sekar Kawung dimana Kiki menjadi pendamping, teman-teman Warsi (Warung Informasi) Sumatera, di Jambi dengan semangat yang lapang terbuka dan tidak birokratis, memanen sebuah profil desa yang penuh dengan kekayaan hayati yang disebut keanekaragaman hayati (biodiversity) kehidupan makhluk hidup di negeri ini.

Suntikan Inovasi

Maka pendamping setidaknya harus mempu memberikan suntikan inovasi dan kreatifitas, dimana Sumbersuko saat ini tercatat sebagai desa yang memiliki 9 jenis bambu lokal yang dalam kehidupan sehari-hari bisa diubah jadi kelingking, yaitu rebung yang dikeringkan untuk bahan makanan, tanaman sintrong liar yang jadi sayur, empon-empon lokal seperti jahe emprit, kunir putih, kunci pepeta, serta bawang dayak sebagai tanaman herbal.

Lalu buah dari tanaman murbei yang bisa dikembangkan jadi sirup yang mendunia, ada pula kembang ekor kuda yang diseduh air hangat jadi tanaman obat.

Belum lagi dengan tanaman yang menghasilkan bunga dan bahkan beragamnya serangga, lebah dan segala bentuk dan warna kupu-kupu.

Dengan demikian jelas bahwa desa yang memiliki kesempatan untuk berdesa lebih penuh dapat terjadi apabila dukungan pendamping desa, menyemangati dan tidak menggurui.

Itu esensi dari sebuah peran pembangunan yang tidak mengambil keputusan, yang tidak menggurui dan yang menguatkan sehingga desa bisa berdaya, berkembang meski dalam masa yang sulit seperti sekarang ini.

Penggerak Perubahan

Maka pendamping adalah memberikan saran, memberikan dukungan, mendorong kreatifitas dan berlaku sopan sehingga mudah mengerakkan perubahan.

Kalau tidak, karena masa kerja yang sangat pendek berdasarkan anggaran tahunan, akan segera mandek yang hanya mereka yang diuntungkan, dan desa tinggal terabaikan.

“Masa pandemi, bukanlah masa meratapi kesulitan. Kegiatan ekonomi yang sering disebut mandeg dan sulit untuk bergerak tidak harus diratapi. Ini tantangan untuk ketidakmungkinan menjadi sebuah nilai kerja yang kreatif dan mandiri menghasilkan,” jelas Pietra.

Sebuah sektor ekonomi kreatif, harus benar-benar dikembangkan dan yang seperti tiba-tiba berhenti, seperti detak jarum jam yang tiba-tiba kehabisan baterai, adalah jeda peringatan.

“Ini peluang, itu yang harus disampaikan oleh para fasilitator desa, atau juga bisa disebut dengan pendamping desa. Maka dengan jelas pada situasi seperti itu,” pungkas Pietra. (piet/had)