Dialog “Langkah Serius Pemerintah Tangani Pandemi dengan PPKM”, Begini Kata Para Narsum

Foto: Dialog "Langkah Serius Pemerintah Tangani Pandemi dengan PPKM". (ist)

BACAMALANG.COM – Indonesia telah memperpanjang Pemberlakuan pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 sesuai dengan terjadinya tren perbaikan pengendalian pandemi Covid-19. Selama PPKM Level 4, pemerintah juga melibatkan pemerintah daerah, TNI, POLRI dan satgas penanganan Covid-19 untuk menurunkan laju penurunan kasus terkonfirmasi Covid-19 dengan meningkatkan 3 T yaitu Testing, Tracing, dan Treatment.

Pemerintah juga meminta masyarakat terus disiplin melaksanakan protokol kesehatan 3 , Memakai Masker, Menjaga Jarak, dan Mencuci tangan. Pemerintah turut mengalokasikan bantuan sosial sebesar Rp 55,21 Triliun berbentuk tunai dan non tunai untuk meringankan beban masyarakat terdampak PPKM Level 4. Bansos dari pemerintah untuk masyarakat yang memenuhi persyaratan tertentu beraneka ragam, mulia dari diskon tarif listrik, bantuan untuk pelaku UMKM, hingga bantuan dalam uang tunai.

Untuk membahas langkah serius pemerintah dalam menghadapi pandemi ini, Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) menggelar Dialog Produktif bertema “Langkah Serius Pemerintah Tangani Pandemi dengan PPKM”. Hadir sebagai narasumber yakni Asisten I Sekretaris Daerah Provinsi Yogyakarta yang menjelaskan terkait upaya penurunan laju kasus penularan COVID-19 selama pemberlakuan PPKM Level 4 di Provinsi Yogyakarta. Ada pula Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19, Dr. Sonny Harry SE., ME, yang menjelaskan terkait perlunya masyarakat merubah perilaku sehari-hari untuk sama-sama menekan rantai penularan COVID-19. Selain itu juga ada praktisi kesehatan, dr. Andi Khomeini Takdir SpPD-KPsi untuk mendengar lebih jauh bagaimana menyikapi kondisi pandemi dan sekaligus memperkuat 3M.

Sumadi SH., MH – Asisten I Sekretaris Daerah Provinsi DI. Yogyakarta

Kami di Pemda DIY tentunya mengikuti apa yang sudah diputuskan dari pemerintah pusat dalam hal ini untuk perpanjangan terhadap PPKM Level 4 ini.

Masalah Covid ini adalah tentang bagaimana mencegah terjadi penyebaran dengan melakukan pembatasan-pembatasan dan memang sebetulnya walaupun masyarakat juga merasa terbatas kegiatannya, tapi ini sebuah pilihan dimana masyarakat menerima itu dengan baik seperti apa yang sudah disampaikan pak Gubernur kita bahwa ini adalah sebuah keberhasilan dimana kita semua harus menyikapi dengan bijaksana.

Dr. Sonny Harry SE., ME – Ketua Bidang Perubahan Perilaku Stagas Penanganan Covid-19

Memang program duta perubahan perilaku sebenarnya ingin mengajak partisipasi masyarakat mengedukasi semua warga agar mematuhi protokol kesehatan memahami tentang Covid-19, resiko penularannya, bahaya dari Covid-19 dan seterusnya.

Alhamdulillah sejak 7 September sampai sekarang jumlah Duta Perubahan Perilaku sudah mencapai sekita 107.098 orang.

Kalau dilihat secara detail mereka sudah mengedukasi lebih dari 55 juta orang se-indonesia. Para duta perubahan perilaku ini umumnya bekerja secara sukarela mayoritas ada mahasiswa, ada pramuka, Ibu-Ibu PKK Satpol PP, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan sebagainya.

Ada penyuluh KB, maupun penyuluh sosial yang ada di masyarakat dan memang para duta perubahan perilaku ini betul-betul bekerja cukup keras di lapangan. Bahkan mereka sudah membagikan lebih dari 17,2 juta masker ke masyarakat.

Kalau kita perhatikan dalam penerapan PPKM darurat yang kemudian jadi PPKM level 4 dan 3 ini, kami sejak tanggal 3 Juli melakukan penambahan personel Duta perubahan perilaku sekitar 13 ribu orang, kami rekrut, kami latih kemudian kita terjunkan, kemudian ada beberapa yang kita bekali masker dari BNPB.

Skor kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan naik di hampir semua provinsi. Provinsi yang sedikit turun salah satunya adalah DIY, jadi ini menjadi concern Kami, agak sedikit turun terutama satu dalam seminggu terakhir.

Kepatuhan untuk memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Terutama kontribusi penurunan misalkan di DIY itu terjadi di Kabupaten Kulonprogo, jadi Kulonprogo cukup turun.

Dr. Andi Khomeini Takdir SpPD-Kpsi – Dokter Konsultan RSDC Wisma Atlet

Kami tidak hanya mencoba membantu pasien di wisma atlit 1, kemudian di sisi lain kita mencoba mengurangi jumlah manusia yang sakit yang mesti dirawat di Rumah Sakit.

Kuncinya ini sebenarnya adalah bagaimana menjaga kurva selandai mungkin, dan itu kita coba dengan maksimalkan upaya preventif dan promotif. Saya salah satu dari 100 ribu lebih yang sudah terus membagikan informasi ke teman-teman kita ke cricle-circle kita bagaimana mencoba menjaga tubuh kita tetap sehat, dan keluarga tetap sehat.

Dan ini bukanlah proses yang tidak ada hambatannya dan mungkin kalau saya bagi dalam 3 klaster, hambatan yang saya temukan, dan barangkali ditemukan juga oleh yang lain.

Ada 3 klaster besar, pertama kendala disinformasi. Sampai hari ini hoax di dunia kesehatan bisa sampai 1000 lebih. Jadi kalau dibagi rata-rata ada 3 hoax. 3 berita yang tidak tepat, itu beredar di sekitar masyarakat.

Kendala ke- 2 adalah tingkat edukasi dan kemampuan literasi masyarakat sendiri yang beragam. Jadi satu berita satu informasi diterima oleh orang berbeda, bisa jadi dimaknai berbeda, bisa juga mendapatkan respon yang berbeda juga.

Yang ketiga, faktor kejenuhan, karena sudah satu tahun lebih pandemi ini, bahwa nakes di Jogja, di Jakarta, dan di 32 provinsi yang lain itu sebagian besar kalo boleh bilang mengalami burn out memang sedikit terbantu dengan beristirahat dengan saling menyemangati, tapi ya ada faktor kejenuhan.

Masyarakat juga sama, dan inilah situasi kita sekarang, solusinya juga ada, kita mencoba memberikan informasi yang betul, edukasi coba disampaikan dengan bahasa-bahasa yang mudah dipahami sesuai dengan segmen-segmen di masyarakat yang kita coba komunikasikan ide itu.

Kemudian pada saat kita jenuh, ambilah contoh di Wisma Atlet meskipun jenuh tapi saat mengetahui kondisi pasien ada perbaikan dari hari ke hari itu semacam booster, jadi seperti kerjaan/aktivitas kita itu ada hasilnya, dan itu bikin semangat lagi.

Begitu pula saya pikir masyarakat harus disampaikan juga bahwa segala upaya mereka mungkin pendapatan turun tapi kemudian disisi lain bagaimana masyarakat tidak banyak yang jatuh sakit, itu juga harus disampaikan, kita harus apresiasi kerja semua pihak. (*/had)