Dianggap Tak Becus Tangani Masalah Minyak Goreng, HMI Cabang Malang Tuntut Mendag Lutfi Dicopot

Massa aksi HMI Cabang Malang di depan gedung DPRD Kota Malang, Selasa (23/2/2022) (BBL)

BACAMALANG.COM – Ramainya soal kelangkaan minyak goreng hingga dicabutnya penetapan Harga Tertinggi Eceran (HET) yang membuat harga minyak goreng melonjak, sejumlah massa aksi yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang memberikan aspirasi.

Aspirasi itu disuarakan berupa aksi unjuk rasa dan  digelar di depan gedung DPRD Kota Malang, Selasa (22/3/2022), sejumlah massa aksi HMI Cabang Malang. Massa aksi ingin  Menteri Perdagangan (Mendag) RI, Muhammad Lutfi dicopot.

Nampak beberapa poster pun terbentang lebar di depan gedung DPRD Kota Malang. Poster tersebut diantaranya bertuliskan “Copot Mendag”,  “Yang Turun Hanya Hujan, Yang Naik Minyak Goreng” dan “Bu Mega, Emak2 Tdk Hanya Menggoreng Tapi Juga Berjuang”.

Koordinator lapangan aksi HMI Cabang Malang, Rahmat Hidayat mengatakan bahwa penuntutan ini atas dasar pencabutan HET untuk minyak goreng hingga ibu-ibu yang meninggal dunia akibat berdesakan saat antre minyak goreng.

Hal ini pun menjadi alasan massa aksi ingin Lutfi segera dicopot.

“Tuntutan kami, copot Menter Perdagangan. Latar belakang kami, terkait HET dan ibu-ibu yang meninggal (antre minyak goreng) di Kalimantan,” ujar Rahmat, Selasa (22/3/2022).

Menurutnya, pencabutan HET yang menyebabkan kita harga minyak goreng melambung, menjadi bukti bahwa Mendag RI, Muhammad Lutfi tidak mampu untuk menangani atau mengontrol harga minyak goreng.

“Sampai ibu-ibu meninggal di Kalimantan gara-gara berebut minyak goreng kan. Ini mendasari aksi tuntutan kita,” tegasnya.

Sejumlah massa aksi dari HMI Cabang Malang yang menggelar aksi sejak pukul 12.00 WIB tersebut, masih terus berlangsung panas. Pihaknya sempat menuntut Ketua DPRD Kota Malang, I Made Riandiana Kartika untuk datang menemui massa aksi di depan gedung DPRD Kota Malang guna melakukan audiensi.

Namun, sekitar pukul 13.00 WIB, tiga anggota DPRD Kota Malang, yakni Harvad dari fraksi PDI Perjuangan, Suryadi dari fraksi Golkar dan Gagah Soeryo dari fraksi NasDem menemui massa aksi.

Akan tetapi, massa aksi terus berorasi dan tetap menuntut Ketua DPRD Kota Malang yang menemui mereka. Massa aksi merasa tak mau menerima jika anggota DPRD Kota Malang yang menemuinya.

Lalu, ketiga anggota DPRD Kota Malang itu pun akhirnya kembali masuk ke dalam gedung. Sekitar pukul 13.20 WIB, massa aksi mengeluarkan ban mobil bekas dan botol air mineral ukuran 1,5 liter yang berisikan bensin.

Saat itu juga, massa aksi pun langsung membakar ban tersebut. Akhirnya, gesekan panas antara massa aksi dari HMI Cabang Malang dan pihak kepolisian pun terjadi.

Selanjutnya, beberapa aparat kepolisian datang membawa Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Massa aksi terlihat semakin panas saat ban yang mereka bakar dipadamkan.

Dari situ, Rahmat mendapat informasi jika Ketua DPRD Kota Malang sedang berada di luar kota dan pihaknya menuntut untuk perwakilan pimpinan yang menemui massa aksi.

“Informasinya kan Ketua DPRD sedang ada di Surabaya, kami meminta perwakilan pimpinan DPRD Kota Malang,” katanya.

Saat itu juga, massa aksi sempat mereda dan menutup akses jalan di sekitar alun-alun Tugu Malang. Lalu, pukul 14.40 WIB massa aksi kembali mendekat ke pagar gedung DPRD Kota Malang untuk memaksa merangsek masuk ke dalam gedung.

“Kami akan tetap mengawal ini, kalau tuntutan hari ini tidak didengar, maka besok kami akan kembali lagi,” tegasnya.

Sekitar pukul 15.00 WIB, Wakil Ketua III DPRD Kota Malang, Rimzah menghampiri massa aksi yang terus bersitegang bersama kepolisian.

Rimzah sempat mengatakan bahwa tuntutan yang disuarakan oleh massa aksi HMI Cabang Malang tentunya bakal diteruskan kepada tingkat provinsi dan pusat.

“Usulan atau aspirasi dari njenengan (massa aksi) semua yang tidak bisa kami putuskan, akan kami salurkan kelara pimpinan kami di pusat. Kami akan selalu bersinergi dengan provinsi dan pusat,” pungkasnya. (BBL)