Dihantam Pandemi dan Cuaca Ekstrim, Tangkapan Nelayan Tirtoyudo Anjlok 50 Persen

Caption : Nelayan bersama hasil tangkapan. (Ilustrasi)

BACAMALANG.COM – Selain petani, nelayan yang merupakan golongan besar masyarakat Indonesia, juga merasakan dampak negatif multidimensi pandemi Covid 19. Salah satunya seperti yang dialami nelayan warga sekitar Pantai Wedi Awu (Balearjo) Purwodadi Kecamatan Tirtoyudo Kabupaten Malang, Lasmiadi.

“Terkait adanya Covid menjadi kendala yaitu harga jual turun. Kondisi cuaca saat ini juga cukup ekstrim. Jadi ada beberapa nelayan gak bisa melaut jadi mengurangi pendapatan. Ya jelas menjadikan hasil tangkapan menurun 50 %,” tutur Lasmiadi, kepada bacamalang.com, Sabtu (10/7/2021).

Dikatakannya pendapatan turun terjadi sejak terjadinya pandemi ditambah lagi beberapa bulan ini cuaca yang tidak mendukung. “Ketika kondisi normal mungkin rata-rata bisa sampai pendapatan Rp 6-7 juta sekarang ya cuma Rp 2,5-3,5 juta,” imbuhnya.

Dikatakannya, potensi ikan cukup besar di wilayah setempat. “Ya potensi ikan disini lumayan besar, apalagi ketika musim Ikan Tongkol,” terangnya.

Selanjutnya ia menyebutkan nama ikan hasil laut yang biasa ditangkap. “Ada Tongkol, Ikan Kembung, Cumi-cumi, Lemuru, Benggol dan lain-lain. Ya hampir semua jenis ikan laut bisa tertangkap oleh nelayan sini, tergantung musimnya juga,” paparnya.

Diungkapkannya, menjadi nelayan cukup bisa memberikan penghidupan. “Ya, saya rasa cukup memberikan penghidupan, dan itu tergantung kelengkapan dan sarana alat tangkapnya, serta peka kondisi musim ikan apa yang saat itu bisa ditangkap,” tegas pria yang sudah puluhan tahun menjadi nelayan tersebut.

Berikutnya ia menjelaskan jika hasil tangkapan ikan dalam sehari atau seminggu hasilnya relatif atau tidak bisa dipastikan. “Wah ya relatif untuk hasil tangkapan tergantung kondisi alam. Misal kemaren waktu benur buka 3 hari Kita dapat hasil Rp 14 juta kotor.
Terkadang Kita tidak dapat sama sekali, karena cuaca gak bersahabat karena arusnya deras,” ungkapnya.

“Itu sebagian gambaran tetapi ya masih bisa dijadikan mata pencaharian, toh sekarang peralatan nelayan semakin baik dan canggih juga,” tukasnya.

“Ketika musim Tongkol tahun kemaren total pendapatan saya kotor sekitar Rp 50 juta ini belum diambil (dipotong) BBM, dan bagi hasil. Ya kira-kira Rp 20 juta lah bagian saya Karena perahu dan alat tangkap punya saya ini dioperasikan selama 3 bulan,” katanya.

“Itupun karena harga ikan menurun dan terbantu karena banyaknya hasil tangkapan. Sedang tuk jumlah tonase gak menghitung mungkin bisa sampai 20 ton lebih dalam 3 bulan tersebut,” ungkapnya.

“Perlu diketahui mas musim Tongkolnya waktunya juga relatif kadang bisa sampai 6 bulan juga,” paparnya.

“Beda lagi musim oncoran (mancing malam hari) dengan pakai lampu. Disini kalau musimnya Cumi-cumi sama Layur juga luar biasa penghasilan nelayan karena harganya lumayan tinggi,” tukasnya.

HASIL TAMBAHAN

Ia bersyukur masih mempunyai profesi (mata pencaharian) lain semisal bertani atau berkebun. “Alhamdulillah Kita masih ada profesi atau sumber nafkah) yang lain. Kebetulan berkebun, dan penghasilan melaut Kita gunakan juga tuk biaya berkebun,” tandasnya.

“Kalau berkebun kebetulan beraneka ragam tanamannya. Antara lain: ada Cengkeh, Kopi, Kelapa, Pisang terkadang juga kayu tahunan,” imbuhnya.

Ia menjelaskan ingin berusaha melakukan semacam budidaya ikan air tawar. “Kebetulan untuk budidaya ikan laut belum pernah. Dan sebenarnya pingin sekali melakukan budidaya ikan air tawar. Sayangnya sampai sekarang juga belum ada pihak yang memberikan pelatihan budidaya ikan air,” sambungnya.

Ia menceritakan ada semacam komunitas atau paguyuban bernama kelompok nelayan Mini Lestari. “Adanya kelompok nelayan jelas ada manfaatnya bagi Kami,” tandasnya.

PPKM DARURAT

Lebih jauh ia menjelaskan gambaran dampak saat PPKM Darurat seperti sekarang ini. “Dampak Covid jelas berdampak. Bahkan PPKM Darurat ini salah satu contoh Kami disini mau mendirikan koperasi nelayan. Dengan adanya PPKM, tidak dapat mendatangkan pihak terkait sebagai salah satu persyaratan pendirian koperasi. Itu salah satu dampaknya,” imbuhnya.

Untuk pendirian koperasi pihaknya berharap bisa berjalan lancar. “Apa ya solusinya, karena ini sebuah peraturan pemerintah. Kita ya cuma berharap prahara Covid segera berakhir,” paparnya.

Pemkab Malang sebagai pemangku kekuasaan, ia berharap ada bantuan pemerintah. “Bantuan prasarana alat tangkap misal fish finder, karena alat ini dapat memantau/mengkondisikan posisi ikan, baik ikan dasaran maupun ikan kerumunan (dalam bahasa Kami tangkuhan),” jelasnya.

“Harapan, semoga ke depan cuaca segera membaik. Covid segera usai. Kami bisa mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah sehingga apa yang menjadi tujuan termasuk pendirian koperasi segera terwujud. Bantuan peralatan kelengkapan dan alat tangkap sehingga bisa bermanfaat dan meningkatkan taraf hidup Kami sebagai nelayan,” tegasnya.

Ia mengatakan diharapkan ada solusi alternatif untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat nelayan. “Solusi alternatif menurut saya ya bagaimana ya. Kita masyarakat pinggiran ini dengan kemampuan terbatas kalau bicara pekerjaan ya juga terbatas. Ya mungkin saja ada bantuan dari pemerintah yang dapat menunjangnya itu akan sangat membantu bila itu memungkinkan. Ya kalo tidak ada ya Kami berusaha mempertahankan kehidupan Kami sebisa mungkin dengan pendapatan Kami sekarang ini,” pungkasnya. (had)