Dikdisbud Kota Malang Selenggarakan Pagelaran 5 Dalang Bocah di Museum Pendidikan Tlogowaru

Satu dari 5 dalang bocah saat tampil dalam pagelaran wayang kulit dengan lakon Gatotkaca Winisuda di kawasan Museum Pendidikan Tlogowaru Kota Malang, Senin (20/11/2023). (Nedi Putra AW)

BACAMALANG.COM – Raden Gatotkaca adalah salah satu tokoh terkenal dalam pewayangan. Gatotkaca merupakan seorang kesatria perkasa yang digambarkan berotot kawat bertulang besi. Ia adalah anak Bimasena, ibunya bernama Dewi Arimbi.

Dia juga seorang raja muda di kerajaan Pringgadani, yang sedang dalam kekalutan karena serangan musuh. Namun dengan adanya sosok Gatot Kaca, menjadikan kerajaan tersebut kembali aman.

Gatot Kaca adalah pemuda teladan yang digambarkan memiliki karakter berani tak mengenal takut, teguh tangguh, cerdik pandai, waspada, gesit, tangkas dan trampil, tabah dan mempunyai rasa tanggungjawab yang besar.

Itulah inti cerita lakon Gatotkaca Winisuda dalam pagelaran wayang kulit di kawasan Museum Pendidikan Tlogowaru Kota Malang, Senin (20/11/2023).

Pj Wali Kota Malang Wahyu Hidayat (tengah), didampingi Kepala Dikdisbud Kota Malang Suwarjana (kanan) beserta jajarannya saat pembukaan Pagelaran 5 Dalang Bocah di kawasan Museum Pendidikan Tlogowaru Kota Malang, Senin (20/11/2023). (Nedi Putra AW)

Tidak seperti biasanya, pagelaran unik ini justru menampilkan 5 dalang bocah. Mereka adalah Emiir Al HAfidz dari SDN Bunulrejo 4 Kota Malang, Ardavin Syauqi dari SMPN 6 Kota Malang, Raditya Farel dari MIN Malang 1, Haidar Khailur Bilad dari SDN Mojorejo 4 serta Seno Aji Wahgaluh dari SMPN 3 Kota Malang.

Kelima dalang tersebut diiringi karawitan Sanggar Seni Gumelaring Sasongko Aji Bunul, Kota Malang, secara bergantian memainkan wayang dengan durasi hampir dua jam di depan undangan yang hadir, mulai Pj Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikdisbud) Kota Malang Suwarjana beserta jajarannya serta puluhan siswa dari beberapa SD dan SMP di Kota Malang.

Pj Wali Kota sangat mengapreasiasi Pagelaran 5 Dalang Bocah di Kota Malang ini. “Sekarang eranya gadget, jadi dengan adanya tampilan 5 dalang ini maka budaya Indonesia dapat dilestarikan agar mampu menahan gerusan teknologi yang ada,” ungkapnya.

Ditambahkan Wahyu, pelestarian ini menjadi sangat penting, karena siapa lagi kalau yang akan melakukan kalau bukan semua pihak, khususnya dari guru pendamping anak-anak ini. Apalagi pentas ini diselenggarakan di perkotaaan. “Kalau di Kabupaten Malang, hampir semua kecamatan selalu menggelar pagelaran wayang kulit di setiap acara bersih desa,” ujar pria yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Malang ini.

Para penonton yang merupakan siswa SD dan SMP dari sejumlah sekolah di Kota Malang saat bermain games di akhir pagelaran, (Nedi Putra AW)

Menurut Wahyu, dari cerita wayang banyak nilai kepahlawanan maupun nilai luhur yang dapat dapat dipelajari oleh generasi muda.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang Suwarjana mengatakan, pagelaran 5 dalang ini sengaja digelar di depan anak-anak, sebagai implementasi kurikulum merdeka, khususnya P5. “Yang penting mereka paham dulu terhadap kesenian Jawa, baik itu wayang maupun dalang,” ujarnya di sela kegiatan.

Saat ini, imbuhnya, sedikitnya sudah ada 10 dalang bocah atau dalang cilik yang tercatat di Kota Malang. Ia mengaku akan terus mengkader para dalang cilik ini. Salah satunya dengan menampilkan mereka di sejumlah kegiatan di lingkungan Disdikbud. “Ini juga sebagai bentuk kaderisasi di seni budaya wayang,” tandasnya.

Salah satu dalang, Muhammad Seno Aji Wahgaluh mengatakan dirinya terjun ke dunia wayang kulit sejak umur 5 tahun. “Dari kecil saya sudah kenal kenal gending-gending dan segala yang berbau wayang dari ayah saya yang merupakan seorang dalang,” ungkap putra dari pasangan Trio Sukamto dan Sri Murtini yang juga merupakan seorang pesinden.

Seno, sapaannya, mengaku kegiatan mendalang yang ditekuninya tidak mengganggu aktivitas sehari-harinya sebagai pelajar. “Yang penting bisa membagi waktu,” tukas siswa kelas 7 SMPN 3 Kota Malang ini.

Meski demikian ia berprinsip akan fokus belajar menuntut ilmu, karena Seno menyadari bahwa mendalang kegiatan yang bisa ramai tapi bisa juga sepi. “Tapi insyaallah sebagai keturunan dalang saya akan terus berusaha mewarisi apa yang dikehendaki oleh ayah saya. Tapi saya tetap akan belajar maupun mengaji,” tandas Seno yang pernah meraih prestasi sebagai 10 Besar Dalang Cilik di tingkat Provinsi Jawa Timur saat masih duduk di kelas 1 SD ini.

Pada akhir pagelaran, pembawa acara mengajak para penonton berbagi doorprize dengan bermain games. Mereka harus menjawab sejumlah pertanyaan seperti dimana Museum Pendidikan, apa nama lakon wayang dalam pagelaran ini hingga berapa dalang cilik yang terlibat.

Pewarta : Nedi Putra AW

Editor/Publisher : Aan Imam Marzuki