Dinamika Kasus Rasisme Anti-Asia di Amerika Serikat Pada Masa Pandemi

ilustrasi

Oleh : Bani Akbar

Amerika Serikat merupakan negara maju yang saat ini masih bergelut dengan permasalahan rasisme yang terus menjalar. Banyak terjadi rasisme yang dilakukan oleh masyarakat lokal kepada masyarakat pendatang atau imigran. Menurut Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam laporan KNOMAD, Amerika Serikat (AS) menjadi negara yang paling banyak menampung imigran pada tahun 2020. Kedatangan imigran sangat jelas dapat menimbulkan permasalahan-permasalahan baru khususnya rasisme. Resiko akan munculnya gesekan antara masyarakat lokal dengan imigran akan lebih besar. Mengingat imigran-imigran tersebut memiliki latar belakang yang berbeda dimana terdapat perbedaan suku, agama, ras, dan budaya. Perbedaan tersebut diikuti oleh kebiasaan yang berbeda pula sehingga hal ini rawan menimbulkan konflik. Adanya penyebaran virus Covid-19 juga membuat kompleks permasalahan yang terjadi bagi negara-negara di dunia. Banyak sektor yang terganggu dengan adanya Covid-19, tak terkecuali sektor keamanan sosial. Di Amerika Serikat sendiri, peningkatan Covid-19 memicu meningkatnya kasus rasisme Anti-Asia disana. Sejatinya, sentimen terhadap orang Asia sudah ada sejak zaman dulu di Amerika serikat. Namun, pada masa pandemi sentimen Anti terhadap orang asia kembali mencuak sehingga menimbulkan rasisme yang disebut Anti-Asia.

Kisah-kisah kelam yang mendiskriminasi orang-orang Asia beberapa kali sudah sering terjadi sejak dulu di AS, seperti pada akhir abad ke-19 AS pernah melarang imigran China, adanya sebuah anggapan yang menyatakan bahwa orang China sebagai pemilik ras kotor tahun 1700-an, terjadinya pembakaran Chinatown di AS pada tahun 1886, juga terdapat undang-undang pembatasan hak sipil yang dimiliki orang Asia-Amerika, dan masih banyak tindakan diskriminasi lainnya bahkan hingga saat ini. Dalam kasus tersebut orang-orang China menjadi korban utama. Namun, kepemilikan ras yang sama yang dimiliki oleh seluruh orang Asia membuat tindakan rasis tidak hanya tertuju pada satu negara saja melainkan juga menyasar ke negara-negara Asia lainnya Pada tahun 2020-2021 kasus rasisme Anti-Asia mengalami peningkatan di AS dimana penyebaran Covid-19 di AS turut menciptakan paranoia menghindari orang Asia. 15 kota besar utama di AS melaporkan bahwa terjadi peningkatan tindak kekerasan terhadap orang Amerika keturunan Asia di tahun 2021. Kasus tersebut naik 169 persen dibandingkan dengan kejadian tahun 2020. New York dan 14 kota lain di AS menjadi negara sebagai penyumbang kasus rasisme berupa kekerasan terbanyak yaitu dengan 86 kasus di tahun 2021, naik sebanyak 32 kasus pada tahun 2020. Terdapat kebencian terhadap orang-orang keturunan Asia di kota-kota yang memiliki banyak jumlah penduduk Asia yang mana jika dikalkulasikan peningkatan kekerasan disana naik sebanyak 2-3 digit. Seperti di San Francisco, pada tahun 2021 terdapat 12 serangan terhadap orang keturunan Asia dimana hal tersebut naik 140 persen dibanding tahun 2020 yang semula hanya terdapat 5 kasus.  Joe Biden sebagai Presiden AS pun menyadari bahwa beberapa waktu terakhir orang-orang Asia sedang gencar menjadi korban diskriminasi rasial.

Penerimaan fakta bahwa Covid-19 merupakan virus yang berasal dari China membuat masyarakat lokal AS secara fisik dan emosional mulai menjauhi orang-orang Asia dalam bentuk proteksi diri dari penyebaran virus mematikan tersebut. Tindakan tersebut digeneralisasikan untuk semua orang-orang yang memiliki ras sama dengan orang-orang China. Sehingga, tidak dapat dipungkiri sepanjang tahun 2020-2021 terdapat peningkatan kasus rasisme Anti-Asia di AS. Tindakan rasisme yang dilakukan pun bermacam-macam, yaitu verbal maupun non-verbal. Media sosial pun turut menjadi ladang bagi pengujar kebencian terhadap orang Asia. Rasisme yang terjadi hingga saat ini membuat BTS salah satu boyband terbesar di dunia sebagai representasi Asia melakukan campaign melawan Anti-Asia. BTS juga bertemu dengan Presiden Joe Biden untuk membicarakan penanganan kasus rasisme Anti-Asia. Respon baik didapat BTS saat berkunjung ke Gedung Putih (AS) dimana langkah ini diharap dapat meminimalisasi atau bahkan meredam maraknya kasus rasisme yang menjadikan orang keturunan Asia sebagai korbannya.

*) References :
Rifka Pratama, ‘Imigran dan Warga Keturunan Jepang di Amerika Serikat: Sentimen-Sentimen Terhadapnya Dulu dan Kini’, Kiryoku: Jurnal Studi Kejepangan, 5.1 (2021), 63-73
CNN Indonesia, Joe Biden Dukung Kampanye BTS soal Lawan Rasisme Anti-Asia, 2022, https://www.cnnindonesia.com/internasional/20220601124917-134-803533/joe-biden-dukung-kampanye-bts-soal-lawan-rasisme-anti-asia [accessed 19 July 2022].
VOA, ‘Kejahatan Anti-Asia di AS Naik 169%’, 2021, https://www.voaindonesia.com/a/kejahatan-anti-asia-di-as-naik-169-/5870943.html [accessed 18 July 2022]
Yosepha Pusparisa, ‘Amerika Serikat Paling Banyak Terima Imigran pada 2020’, 2021 https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/05/18/amerika-serikat-paling-banyak-terima-imigran-pada-2020 [accessed 19 July 2022].


*) Penulis : Bani Akbar, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik/Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang Angkatan 2020

*)Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi BacaMalang.com