Donasi Kemanusiaan Drop 70 Persen Kala Pandemi, Relawan Ini Beri Penjelasan

Caption : Kegiatan mengantarkan donasi kepada M. Saiful bocah Desa Jenggolo Kepanjen. (ist)

BACAMALANG.COM – Adanya pandemi tidak hanya menjadikan berbagai sektor kehidupan lumpuh dan stagnan, namun juga rasa kemanusiaan dan kepedulian sesama, mendapat tantangan yang tidak ringan.

Banyak hal riil dibalik fenomena pandemi yang memicu munculnya rasa keprihatinan dan sikap trenyuh atas nasib masyarakat yang membutuhkan uluran tangan.

Bayangkan saja, mungkin kita bisa mentoleransi semisal sektor bisnis dan usaha mengalami kolaps dan bangkrut.

Namun apa jadinya jika hal tersebut juga menimpa sektor kemanusiaan dan sosial.

Ada juga penyataan kritis semisal, jangankan untuk berdonasi atau menyantuni sesama, untuk survive, eksis dan bertahan hidup sehari-hari saja, kita sendiri mengalami kesulitan.

Adanya kondisi ini tak ayal menjadikan sisi kemanusiaan dan kepedulian kita diuji. Meski belum ada riset atau penelitian teruji, kondisi ini secara riil dan global, mengakibatkan donasi untuk bidang sosial kemanusiaan terjun bebas hingga lebih dari 70 persen.

“Sulit rasanya menghitung prosentasenya Mas. Yang pasti jumlah donatur untuk berbagai lembaga atau yayasan sosial menurun drastis selama pandemi ini. Kalau diangkakan bisa diatas 70 persen lebih. Ini berdasarkan pengamatan sekilas dan pengalaman ngobrol dengan teman di lapangan,” tutur Relawan Arya Ananta, Minggu (19/9/2021).

” Kalau dihitung persen-persennya itu ya nggak bisa dibilang ya meski gak bisa ngomong ya jelas anjloklah. Terus untuk solusi bertahan itu, ya pertama itu berusaha untuk membuka usaha-usaha. Terus kedua, mengurangi pengeluaran-pengeluaran yang tidak terlalu penting seperti itu. Terus ketiga, itu ya belajar berhemat seperti itu,” tutur perempuan yang juga pengasuh sebuah Yayasan Panti Asuhan Yatim Piatu di Malang ini.

DAMPAK PEMBATASAN

“Kalau untuk makan sehari-hari sepertinya nggak mungkinlah kekurangan. Tapi untuk kebutuhan yang lain itu kayak-e sulit kalau untuk jaman sekarang. Situasi seperti ini, itu sangat sulit. Untuk yang bisa menjangkau ya yang kaya itu. Yayasan segala macam, kalau untuk hal makan, nggak akan pernah kekurangan,” urai perempuan yang aktif berkegiatan sosial skala Jawa Timur ini.

Ia menjelaskan pengaruh pandemi (termasuk adanya social / physical distancing, PPKM), menjadikan donasi menurun.

“Sangat mas, sangat mengurangi aktivitas selama pandemi itu karena gini kita itu dilarang untuk terima tamu, dilarang tatap muka, dilarang bermacam-macam lah, wes gak bisa nyebutin satu-satu. Jadi otomatis donatur kan berkurang terus juga kan. Keadaan donatur saat ini sama saja seperti kita ekonominya ambruk,” terang perempuan yang bersimpati dan mengaku banyak belajar dari relawan senior Malang ini.

“Sekali lagi kalau untuk persen itu nggak begitu faham mas. Karena saya bukan sekretaris, bukan bendahara juga, bukan pengurus, cuma pengasuh saja. Jadi kalau masalah apa itu penurunan jumlah donasi, itukan saya juga penggiat sosial. Berdasarkan pengalaman, yang dulu biasanya 1 bulan donasi bisa mencapai Rp 10 juta, Rp 5 juta, sekarang mencari uang Rp 500.000 saja itu sulit. Sebuah keajaiban rasanya bisa dapat donasi banyak di jaman pandemi kayak gini,” urainya.

“Diluar Malang itu kita semua sama. Bahkan di luar negeri pun kita keadaan sama,” sambungnya.

YAYASAN DAN GAMBARAN EKSISTENSI

Arya berikutnya menjelaskan, apa menurutnya yayasan sosial kemanusiaan dan sejenisnya ada yang stagnan bahkan tutup.

“Kalau untuk tutup, atau bisa dibilang kayak dagang gulung tikar, kalau panti asuhan atau yayasan enggak mas. Karena di panti itu, kita sudah diajarkan untuk hidup apa adanya sederhana. Ada dimakan, ada banyak ya dimakan banyak. Kalau nggak ada ya sama-sama menyadari. Jadi kita disini itu memang di sebuah yayasan atau panti itu sudah dibelajari hidup sederhana apa adanya. Jadi untuk yang seperti itu nggak akan menimbulkan keolengan cuma ya kemumetan bagi pengurusnya itu saja,” imbuhnya.

Dan sebaliknya, Arya mencoba menjelaskan kira-kira apa ada semacam yayasan atau lembaga sosial kemanusiaan yang semakin membaik keadaannya kala pandemi.

“Kalau panti asuhan maju atau makmur pada pandemi ini yaa sepertinya tidak. Orang kita mengalami pandemi ini satu Indonesia, bahkan satu dunia sama saja. Ekonominya kita mengalami kesulitan yang sama saja. Kalau orang yang maju makmur itu, orang yang jualan keperluan medis itu (perangkat, perlengkapan medis terkait penanganan Covid dan lainnya),” lanjutnya.

RELAWAN DAN SOLIDARITAS WARGA MALANG

Ia selanjutnya menjawab pertanyaan apakah jumlah relawan juga turut menurun kala pandemi.

“Kalau menurun, itu karena segi ekonomi. Karena orang gak pede, kalau membantu itu tanpa tenaga. Kadang banyak orang yang malu, gak pede gitu untuk bergerak. Karena keadaan atau ekonomi. Namun sebenarnya orang Malang ini terkenal dengan solidaritasnya tinggi,” pungkasnya. (had)