Dosen Psikologi PTS Malang Ini Soroti Fenomena Perundungan di KPI

Foto: Dosen Psikologi UMM, Diana Savitri Hidayati. (ist)

BACAMALANG.COM – Maraknya tindakan perundungan atau yang sering disebut bullying masih sering terjadi di lingkungan masyarakat. Fenomena perundungan itu tidak hanya di lingkungan sekolah saja, bahkan perundungan juga terjadi di lingkungan kerja.

Salah satu dosen Fakultas Psikolog Perguruan Tinggi Sawasta (PTS) di Malang turut menyoroti kasus perundungan yang terjadi di kantor Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Hal ini terkuak melalui twitter korban yang berinisial MSA pada beberapa waktu yang lalu.

Menanggapi kasus perundungan itu, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Diana Savitri Hidayati, menjelaskan, bahwa kasus perundungan bisa terjadi dimanapun baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan kerja.

“Dalam prosesnya, ada tiga pihak yang terlibat, yaitu pelaku, korban, dan penonton. Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan perundungan, namun yang pasti hal itu dapat terjadi karena kondisi yang memungkinkan,” katanya, Kamis (9/9/2021).

Diana juga mengungkapkan, dari sisi pelaku, biasanya ia merasa dominan dan berhak untuk mengintimidasi pihak lain yang terlihat lemah atau tidak akan melawan. Pola asuh dan lingkungan yang salah juga dapat menyebabkan seseorang memiliki sifat demikian.

Dalam kasus perundungan di kantor KPI, tingkat perkembangan usia para pihak yang terlibat adalah dewasa madya. Hal ini menunjukan bahwa pelaku dari kecil sudah biasa melakukan perundungan dan hal itu berlanjut hingga ke lingkungan kerja.

“Kalau dari sisi korban, biasanya korban memiliki kepribadian yang lemah. Hal ini dapat berupa konsep diri yang negatif seperti selalu merasa dirinya salah atau merasa dirinya sudah biasa untuk dikalahkan. Hal ini dapat terbentuk dari pola asuh yang salah pula dari keluarga serta kritik yang tidak membangun,” beber Diana.

Perundungan akan berdampak negatif pada kesehatan mental korban, seperti gangguan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) hingga keinginan bunuh diri.

Diana menyebut terdapat dua hal yang mungkin terjadi ketika seseorang mengalami perundungan. Pertama, korban akan menyikapi perundungan tersebut dengan cara positif yaitu berani melawan baik secara fisik maupun secara hukum. Sementara yang kedua adalah korban mungkin akan menyikapi perundungan tersebut secara negatif sehingga tidak berani melawan.

“Saya melihat dalam kasus KPI, MSA dapat menyikapi perundungan tersebut secara positif karena bisa berjuang dan melawan pelaku melalui berbagai cara. Butuh keberanian besar untuk mengungkapkan kejadian tersebut di sosial media. Namun MSA mengalami gangguan PTSD karena perundungan telah terjadi selama bertahun-tahun. Ditambah lagi berbagai cara yang ia lakukan untuk melawan balik berakhir gagal,” ujar Didi sapaan akrabnya.

Masih kata Didi, ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengantisipasi maupun mengatasi sebuah perundungan yakni, mencari dukungan sosial jika terjadi tindakan-tindakan tidak menyenangkan di sekolah maupun kantor. langkah berikutnya ialah selektif dalam mencari teman karena lingkungan pertemanan akan berpengaruh pada perilaku maupun pola pikir seseorang. Sedangkan kangkah terakhir yakni mampu membedakan ranah pekerjaan dan pertemanan sehingga dapat mengetahui lebih awal jika dirinya sedang dirundung.

“Perundungan biasanya terjadi secara bertahap mulai dari yang ringan seperi disuruh membelikan makanan sampai ke tahap kekerasan dan pelecehan seksual. Korban pada awalnya juga tidak menyadari bahwa dirinya sedang dirundung”, lanjut Didi.

Dikatakan, hal ini terjadi karena sistem senioritas masih berlaku di Indonesia, sehingga korban merasa lazim ketika diperlakukan sebagai junior dan disuruh-suruh. Oleh karenanya, dukungan sosial serta membedakan ranah pekerjaan dan pertemanan menjadi poin penting untuk mengetahui lebih dini ketika perundungan ringan terjadi. (Lis/red)