Dua Bom Rakitan Ditemukan di Rumah Terduga Teroris, Ken Setiawan: Target Jelang Pilpres 2024

Pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan. (ist)

BACAMALANG.COM – Pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan mensinyalir ada potensi bahaya jelang perhelatan akbar pilpres 2024, ada pihak yang ingin Indonesia terjadi Chaos.

Seperti viral diberitakan Detasemen Khusus 88 (Densus 88) Antiteror Mabes Polri menangkap terduga teroris AW (39) di Kecamatan Pandowoharjo, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) simpatisan ISIS yang kerap mengunggah gambar dan video propaganda di media sosial.

AW ditangkap Densus 88 di jalan sekitar pukul 06.00 Wib. Setelah itu aparat kepolisian sempat menutup jalan di area Pandowoharjo.

Dari penyisiran di rumah AW di Kampung Jetis, Jogopaten, Densus mengamankan dua buah rakitan yang segera dimusnahkan oleh Tim Gegana Satuan Brimob Polda DIY.

Densus 88 mengamankan sejumlah benda dari rumah AW, antara lain buku bacaan agama, buku rekening, bukti transfer, kaos dan jaket. Petugas juga menemukan beberapa senjata tajam (parang dan golok), serbuk bahan peledak di dalam botol kecil dari dalam rumah terduga teroris.

“Jika dua bom rakitan tidak ditemukan aparat itu sangat berbahaya, jika berhasil diledakkan oleh kelompok terorisme akan membuat situasi tidak kondusif,” tegas Ken.

Tujuan mereka sudah jelas membuat kegaduhan, ujaran kebencian, teror, demontrasi brutal yang disertai pengerusakan, adalah bentuk atau ciri khas mereka untuk menciptakan situasi chaos

Setiap aksi teror sudah pasti diarahkan pada upaya menebar ketakutan luar biasa. Semakin massif ketakutan, maka semakin sukses desain teror dijalankan si pelaku.

Aksi para teroris bukan semata kejahatan sesaat, tetapi biasanya sistematis, terorganisir dan diorientasikan pada efek domino pasca kejahatan itu dilakukan.

Oleh karenanya, teror merupakan pesan yang dikonstruksi. Biasanya melalui pengemasan kematian yang dibuat sangat sadis, dramatis, chaos dan dapat menyebabkan situasi traumatik.

Bagi para pelaku, bukan hanya sekedar meledaknya bom dan jatuhnya banyak korban melainkan lebih dari itu yakni publisitas teror melalui media massa dan perbincangan publik.

Sehingga hal tersebut memunculkan ketakutan, kesedihan, lumpuhnya kepercayaan internasional dan situasi yang serba tidak menentu. Aksi teror biasanya mengacu pada aktualisasi kebencian, frustasi, disorientasi sosial, atau mungkin juga cara pandang yang keliru mengenai implementasi ideologi tertentu.

Dalam praktiknya, dia membutuhkan sebuah panggung pertunjukkan untuk memalingkan perhatian publik pada tindakannya itu. Panggung yang memungkinkan tindakannya menjadi extra ordinary news (kejadian sangat luar biasa).

Dengan demikian, teroris selalu menjadikan praktik terornya sebagai praktik menciptakan popularitas melalui kejadian sangat luar biasa.

“Mereka sangat sadar, bahwa setiap kejadian luar biasa dengan sendirinya akan diliput media massa. Aspek dramatis dan berdarah-darah yang ditampilkan oleh media itulah, yang menjadi publisitas teror sekaligus menebar horor, tak hanya di dalam negeri melainkan juga di dunia internasional,” pungkasnya.(*/had)