Ellen May: Agar ‘Cuan’, Trading Saham Harus Smart

CEO dan Founder Emtrade, Ellen May (kanan) saat book signing bersama Kepala Perwakilan Bank Indonesia Malang, Samsun Hadi usai bedah buku 'Smart Traders Not Gamblers" yang digelar di Malang Town Square, Rabu (8/6/2022). (ned)

BACAMALANG.COM – Perdagangan (trading) saham pada awalnya hanya dapat dilakukan di lingkungan terbatas saja seperti institusi keuangan atau perusahaan sekuritas. Seiring perkembangan teknologi, trading saham bisa dilakukan semua orang secara online, bahkan hanya lewat smartphone saja.
Ilmu trading ini sudah sangat berkembang sejak 2011. Bahkan ada satu pendapat yang menyatakan bahwa ilmu trading bukan semata-mata soal analisa secara teknis, tapi lebih kepada faktor psikologinya. Hal ini diungkapkan Ellen May dalam Bedah Buku ‘Smart Traders Not Gamblers” yang digelar di Malang Town Square, Rabu (8/6/2022).

CEO dan Founder Emtrade, sebuah investment education service ini, memaparkan apa dan bagaimana trading saham kepada sejumlah pengunjung yang sebagian dari kalangan mileneal. “Banyak stigma yang menyebutkan bahwa saham itu judi, itu karena mereka masuk tanpa perencanaan,” ujarnya.

Ellen mengatakan, instrumen pasar modal bukanlah motivasi tentang ‘cuan’ atau keuntungan, karena terjun ke dunia ini justru bisa rugi dulu. “Selain uang, modal yang harus dimiliki adalah mindset, methode, money. Sehingga yang utama mengubah mindset kita dahulu, pakailah perencanaan, lalu persiapkan uang sebanyak uang yang siap hilang, yang biasa kita sebut sebagai ‘uang dingin’,” urainya.

Wanita yang sudah bergelut di dunia trading mulai tahun 2006 ini mengaku buku berdasarkan dari pengalaman pribadinya saat terkena krisis tahun 2008.
“Apalagi trader atau investor pemula pasti kalau untung pengin terus, tapi kalau rugi juga ingin terus karena ingin balas dendam, sehingga buku ini dibuat sebagai sarana untuk belajar,” tukasnya.

Ia juga menyebutkan, bahwa strategi masing-masing orang berinvestasi saham berbeda. Salah satunya menabung saham yakni beli secara bertahap, artinya konsisten tanpa melihat harga. Model ini bagus untuk yang berpenghasilan stabil, karena bukan banyak nominalnya, tapi lebih kepada konsistensi dalam trading saham. “Sementara yang kedua adalah beli saat harganya di bawah, tapi harus mengerti analisa teknikal,” ujarnya.

Dia berharap, bukan hanya milenial, tapi Gen Z sudah saatnya sekarang untuk ‘berbuat salah’ dengan terjun ke dunia saham. “Tentunya jangan perfeksionis, jangan semua harus yang bagus-bagus, mulailah dari komitmen kecil. Salah tidak apa-apa, yang penting mulai dari yang kecil,” pesannya.

Bagi Ellen, buku ini banyak memberi motivasi. Hal ini juga agar masyarakat tidak terjebak investasi bodong. “Buku ini saya tulis karena saya merasa tidak begitu ‘smart’, jadi harus banyak belajar,” tutupnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Malang, Samsun Hadi menuturkan, buku yang ditulis Ellen May ini dapat sebagai sarana belajar, khususnya bagi para new entry dari kalangan milenial maupun Gen Z. “Semakin banyak perusahaan yang masuk pasar modal, semakin banyak pla opsi-opsi pembiayaan, sehingga ekonomi kita terus bergerak,” tandasnya.

Bedah buku ini adalah rangkaian acara Digital Festival Bank Indonesia Malang (DIGIFES BI NGALAM) 2022 dari Kantor Perwakilan BI Malang, yang mengusung tema “Sinergi dan Bangkit Bersama Dukung Akselerasi Pemulihan Ekonomi Melalui Digitalisasi”.

Opening Ceremony akan dihelat Kamis, 9 Juni 2022 di Malang Town Square. Acara yang dimulai 8-12 Juni 2022 ini akan menampilkan karya UMKM Binaan dan Mitra KPw BI Malang dengan produk kain, kriya, dan kuliner, dengan pembayaran digital. Ada pula talkshow menarik bersama Kepala Daerah, Bank Indonesia, LinkAja dan Cinta Laura (Guest Star). Penampilan Fashion Show, para  penyanyi bankers terbaik juga hadir mengikuti lomba DIGIFES IDOL, dan banyak juga merchandize quiz bagi pengunjung acara. (ned)