Fenomena Sandwich Generation, Akademisi IBU : Elok Didengarkan, Berat Dikerjakan

Caption : Direktur Program Pascasarjana IBU (IKIP Budi Utomo) Malang, Dr Sakban Rosidi. (ist)

BACAMALANG.COM – Fenomena sosial Sandwich Generation (SG) marak diangkat berbagai media massa akhir-akhir ini. Hal ini karena diduga jumlah sandwich Generation ini membesar seiring adanya pandemi Covid 19 yang melumpuhkan berbagai sektor kehidupan.

Banyak faktor yang memicu terbentuknya SG namun pada umumnya ini terjadi karena kegagalan finansial orang tua yang tidak memiliki perencanaan finansial yang baik untuk masa tuanya. Dan selanjutnya sang anak akan mengikuti jejak orang tuanya kelak sebagai orang tua yang tidak mandiri di masa tuanya, dan pada akhirnya berlanjut begitu seterusnya.

TIPOLOGI SG

Setidaknya SG dibagi menjadi tiga ciri berdasarkan perannya :

1. The Traditional Sandwich Generation yakni orang dewasa berusia 40 – 50 tahun yang dihimpit oleh beban orang tua berusia lanjut dan anak-anak yang masih membutuhkan finansial.

2. The Club Sandwich Generation. Orang dewasa berusia 30 – 60 tahun yang dihimpit oleh beban orang tua, anak, cucu (jika sudah punya), dan atau nenek kakek (jika masih hidup).

3. The Open Faced Sandwich Generation. Siapapun yang terlibat dalam pengasuhan orang lanjut usia, namun bukan merupakan pekerjaan profesionalnya (seperti pengurus panti jompo) termasuk ke dalam kategori ini.

SOLUSI MEMUTUS RANTAI

Secara sekilas memutus rantai SG dilakukan dengan pendekatan rasional yang berfokus pada sektor keuangan (finansial). 1. Miliki tabungan rencana. 2. Menyiapkan program pensiun. 3. Miliki asuransi kesehatan. 4. Kurangi gaya hidup konsumtif. 5. Menyiapkan dana pendidikan anak. 6. Mengajarkan anak untuk menabung dan belajar mandiri secara finansial.

ELOK DIDENGARKAN, BERAT DIKERJAKAN

Adanya fenomena Sandwich Generation (SG) memantik atensi Direktur Program Pascasarjana IBU (IKIP Budi Utomo) Malang, Dr Sakban Rosidi.

Ia menelah video berita bertemakan Sandwich Generation yang dibuat oleh salah satu stasiun televisi swasta baru-baru ini.

“Saya periksa video itu bertanggal 27 Nov 2021. Padahal, sebagai mantan pengajar mata kuliah British Society and Culture (STIBA) dan English Cultural Background (Sastra Inggris UIN Malang), saya sudah membahas topik itu hampir sepuluh tahun lalu. Laporan riset eksploratori paling jernih fenonema ini terbit tahun 2013,” tukas Direktur Program Pascasarjana IBU (IKIP Budi Utomo) Malang, Dr Sakban Rosidi, Rabu (1/12/2021).

“Saya suka dengan defiisinya yang lebih jernih dibanding pada beberapa tulisan inspiratif sebelumnya. Disebutkan: The ‘sandwich generation’ is a term used to describe the group of people who are simultaneously providing care, including supporting financially, to younger and older generations at the same time,” katanya.

“Generasi Sandwich merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan kelompok penduduk yang merawat (tepatnya menghidupi) secara simultan, termasuk menyokong secara keuangan kepada generasi yang lebih muda dan lebih tua (dari dia) dalam waktu bersamaan,” terang pria Penggagas Sekolah Indonesia Bernalar ini.

“Pelik persoalan generasi sandwich ini berkenaan dengan ketidak-berdayaan atau ketidak-sanggupan mereka merencanakan masa depan mereka sendiri, mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, mengejar minat dan kepentingan atau tujuan mereka sendiri,” tuturnya.

“Ini, kasarnya, seperti generasi yang terampas oleh kewajiban ganda. Walau karena alasan kepedulian mereka tidak mengeluh, tetapi sekitar 80% merasakan kehilangan waktu untuk dirinya, karirnya dan kehidupan pribadinya. Sandwich generation, elok didengarkan, berat dikerjakan,” tutupnya. (*/had)